Mei 05, 2010

Dengarkan saja,..

dengarkan suaraku,..
dalam nyanyian semesta yang menyapa
dalam hening yang meraja
dalam gelap yang datang menggantikan terang
dalam dingin dan beku yang memeluk raga

dengarkan suaraku,..

jangan,..
jangan buka matamu
tetaplah seperti itu

dengarkan saja suaraku,..
dengan tetap menutup matamu



sweet home, 021209
11:55am

Private Message

Pusing. Barisan angka-angka yang menunjukkan ketidakimbangan terpampang pada layar monitor komputer di depannya. Laporan keuangannya gak balance. Kepalanya terasa berputar-putar dan diikat erat.

Pupil mata Dinda tertumbuk pada jendela pesan yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Halo Tita, lagi apa?”
Hahahaha! Seketika Dinda terpingkal-pingkal, lupa pada sakit yang sesaat lalu seperti hendak membunuhnya.
Buaya!, umpat Dinda dalam hati.


***
1 private message!

hai! Boleh kenalan?,
Isi pesan itu, singkat.
Perlahan jari-jarinya bermain pada benda mungil teman setia netbooknya. REPLY.

Sebuah pesan singkat yang diterima Dinda ketika mengawali pagi hari itu. Berlanjut dengan private-private message pada hari-hari berikutnya. Seadanya ia balas pesan itu, malas. Pasti tak beda dengan pesan-pesan serupa lain, fikirnya, pesan dari laki-laki tipe tebar pesona.
Kenalan, menanyakan aktivitas, kuliah dimana, kerja dimana, dan lain-lain… dan lain-lain.

Suatu waktu,
“Tita Hulwa”, jawab Dinda suatu waktu, kala si Arjuna (nama ID itu) menanyakan namanya.
“Wah, nama yang bagus. Tapi nama saya juga gak kalah bagus, lho. Ahmad Mukhlis”,
Sapa yang Tanya, cibir hati Dinda.

But,..

“Whaaaaaattt…?!*&^%$”, “Ahmad Mukhlis?! Ohohohoh… it’s impossible!”,
Mata Dinda membeliak selebar-lebarnya seolah hendak melompat menggelinding jatuh ke lantai. Ia baca kembali pesan pribadi itu dengan seksama. Gak salah, Ahmad Mukhlis!.


***
Beranjak bergegas Dinda menuju kamar mandi, berwudhu. Lepas berkomat kamit dengan beberapa untai doa dan harapan yang digantungkan kepada Penggengga Semesta. Dinda beringsut ke atas kasur, meraih ponselnya, lalu mengetikkan sebuah alamat website sebuah komunitas.

4 private messages, berkedip-kedip di layar inboxnya

# Helo dear?
Banguuuuuun, udah pagi…
Sholat subuh, Tita..


Udah kaleee, bos!, celetuk Dinda sembari terkekeh, sadar jika kata-katanya tak kan terdengar.


# Tita, kok pesan-pesanku gak dibalas? Marah ya, Ta?

# Tita, apa kabar? Lagi sibuk ya?
Lama gak liat tulisan Tita. Online dong, Ta.

# Ta, boleh aku minta nomor hp dan pic kamu?


Brukk!
Tita menjatuhkan diri terlentang dengan malas di atas kasurnya, masih dengan mukenanya yang tak sempat ia lepas. Ngantuk.


***
Seminggu sudah, akhirnya Dinda kembali setelah sepekan lamanya meninjau lokasi proyek, melakukan audit data-data keuangan berkaitan dengan laporan keuangan yang ia terima tak balance kondisinya.

Dinda teringat sesuatu. Ia raih netbok dari dalam tasnya, menghidupkan dan memasang modem. Beberapa detik kemudian jari jemarinya telah lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard.
Facebook, Twitter, Email, Blog, dan tak lupa ia ketik sebuah website dimana ia bergabung di dalamnya sebagai seorang member.


Assalamu’alaykum warohmatulloh..
Alhamdulillah kabar baik, sehat. Maaf tak membalas pesan karena memang tak sempat untuk membalasnya. Dan alasan kedua, karena malas membalasnya.
Dinda terkekeh, tentu saja kalimat terakhir tak ia ketik.

Well,..
Terima kasih atas apresiasi dan perhatianmu pada tulisan-tulisanku. Cukuplah bila kau menyukainya dan memperoleh pelajaran dari apa yang kutulis. Dan cukup buatku, tak perlu rasanya aku dapatkan pujian yang aku rasa terlalu berlebihan buatku.

Tentang nomor hp. Jujur saja, aku sama sekali tak punya no hp. Mungkin terdengar naïf atau sepertinya berbohong ya, but begitulah..
Aku tak merasa perlu berbohong untuk hal ini. Lagi pula meski aku memiliki no hp, aku pun tak kan memberikannya padamu. Dan ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya dirimu.
Rasanya hidup lebih tenang tanpa berkomunikasi dengan orang lain untuk hal-hal yang tak perlu dan mungkin hal yang tak penting.
Mengapa? Mmmm,.. rumit penjelasannya dan lagi pula rasanya bukan hal yang harus aku jelaskan padamu.

Tentang foto,..
Sorry, aku tak bisa. Dan pula aku tak biasa..
Rasanya terdengar sombong ya? Biarlah, Tak mengapa.. :D

Well,..
Rasanya pertemanan tak harus membutuhkan deretan angka-angka nomor hp atau sebuah foto manis, iya kan?
Rasanya akan lebih tenang dan nyaman,..

Oke,
Aku harap kamu mengerti dan kamu pasti mengerti.
Aku masih tetap bisa menjadi teman yang baik, meski tanpa foto dan nomor hp. Itu jika kau masih berniat berteman denganku ;)

Well,..
Wassalamu’alaykum



Ia arahkan kursor pada fitur SEND. Dinda tersenyum. Long_life atau Tita Hulwa, begitu Arjuna atau Ahmad Mukhlis mengenal Dinda, sebagai sesama member. Arjuna mungkin tak menyadari bahwa Tita atau Dinda mengenalnya dengan baik. Ahmad Mukhlis, Seorang Manager SDM pada sebuah perusahaan pembiayaan nasional yang sama dengan Dinda, hanya berbeda wilayah kerja. Pria beristeri dan memiliki 3 orang putra.

Dinda termenung, teringat tiap kata-kata yang diucapkan seorang laki-laki berlagak innocent yang mengaku bujangan yang tertarik padanya, Arjuna.
Dinda tersenyum simpul. Buaya!,

Tiba-tiba Dinda tersentak meringis dan setengah berlari keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, saat ia rasakan ada sesuatu yang bergolak dari perutnya.

Kulepaskan yang aku genggam erat,..

Saat ku letakkan semua yang ku genggam
Ku kembalikan pada tempatnya
Ku meletakkannya dengan perlahan
Agar tak berdenting atau jatuh terpecah belah

Ku bisikan pada hening,..
Ku katakan pada cahaya
Ku jelaskan pada angin,..
Dan ku sampaikan pada semua yang mendengarkan suaraku

Kukatakan,..
Demi TUHAN, tak ada setitik benci saat kubuka tanganku
Dan melepaskan apa yang ada dalam erat genggamanku

Permainan

Berceloteh tanpa henti
Seperti burung yang tak letih berkicau
Entah mengapa, kicauannya tak semerdu kicauan burung
Entah mengapa, semakin lama kicauannya semakin terdengar menakutkan

Kau menakutiku,..
Celoteh dan suaramu menakutkanku
Seperti suara para penyihir jahat yang hendak menyihirku

Mundur, kuayun langkah perlahan
Tak hendak mengagetkanmu dengan suara langkahku

Sebuah lembaran terbuka di hadapanku
Dan ku baca,..
Senyum tipis mengembang di bibirku kala membacanya
Ini sebuah permainan
Ini hanya sebuah kebohongan kekanak-kanakan

Aku tertawa,..

Bodoh!

Bapak Tua dan Sepeda Angin

Tutuplah matamu
Dan, Cobalah merasakan dengan jiwamu…


Terpaku aku. Menyaksikan sosok renta itu. Di tengah gerimis hujan yg turun, lekat ia pandangi kami. Ahh, bukan! Ia memandangi motor yg kami kendarai lalu ia edarkan pandangannya menyusuri detil demi detil motor yg kunaiki. Ia pandangi kendaraannya dan kendaraan kami bergantian. Kuterus mengikuti arah pandangannya..

Setitik iba menyeruak. Sama seperti ia. Ku pandangi kendaraannya. Sebuah sepeda angin yg sudah sangat tua. Berkarat. Kususuri setiap detilnya dg seksama, sembari sesekali kupandangi wajah keriput itu. Sosok tua di balik raincoat yang melindunginya dari sergapan air hujan yg semakin menderas. Bukan raincoat dari bahan berkelas. Namun hanya selembar plastik transparan yg ia bentuk menjadi sebuah jaket pelindung hujan…

Ahh, kulihat ia memandangi lg motor yg kunaiki. Tatap itu…

Tak lebih dari satu menit. Hanya semenit saja.Tapi, semenit itu menghadirkan berbagai macam rasa yg mengaduk2 perasaanku. Iba..haru..bangga padanya. Bahkan sempat terbersit sebuah lintasan ‘gila’ di kepalaku. Ingin turun dari atas motor dan mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk di sana mengendarainya. Sejenak merasakan nyamannya kendaraan yang sedari tadi ia tatap tanpa berkedip…

Hanya sebuah lintasan. Motor ini bukan milikku. Bahkan aku pun hny seorang penumpang sementara yg mendapat tempat di atas sini setiap pagi dan sore hari…

‘Mengapa TUHAN tak adil,?!’ terlintas ucap di hatiku saat melihat ‘kejomplangan’ yg terpampang di depan mataku..
mgkn sebagian atau banyak dari hamba-hamba TUHAN lainnya yang seringkali berfikir seperti yg sempat melintas di alam fikiranku. Sedetik kesadaran membawa lisanku dalam dzikir istighfar. Menyadari betapa piciknya lintasan yg muncul…Materialistis!

Kita tak pernah tau siapa yg lebih bersyukur terhadap setiap perkara yg alloh gariskan dalam hidup. Mungkin, bapak tua renta dengan sepeda angin tuanya lebih mulia, karena ia selalu bersyukur dan qonaah dg takdir hidupnya. Di bandingkan dg aku dan sebagian orang lain yg mendapat kemudahan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi yg melimpah, namun seringkali tak memaknainya dengan seharusnya. Terlena oleh gempita dunia yg penuh warna.

Aku tersadar dari fikiranku. Ku giring lisan mengucap istighfar dan menghalau fikiran yang menggugat takdir . Syukur dan sabar. Terima dg qonaah setiap apapun yg alloh beri

TUHAN…
Give me a strength..
Beri aku kekuatan untuk tetap selalu berbaik sangka terhadap segala sesuatu yg KAU gariskan dalam jenak hidupku..

Banyak hal yg tak kusukai. Banyak yg tak sesuai inginku. Membawaku tanpa sadar menjadi kufur nikmat.

Tapi aku ingin belajar melebur…terus. Menerima semua dengan senyum dan kesabaran…

Traffic light berwarna hijau..kendaraan yg membawaku bergerak maju berbaur bersama yg lain. Kuputar kepalaku melihat kebelakang. Kulihat ia berusaha memacu sepedanya perlahan, berbaur bersama kendaraan lainnya.
Perlahan mengayuh. Berhati-hati atau mungkin letih.

Lorong,..

....................... ............................. ..

Ada yang datang menyelinap saat ku termenung
Aku terkejut. Namun sedetik kemudian aku terdiam kembali
Ia terus saja bicara dan mengajakku bicara
Seolah tak peduli dengan keenggananku

Ia seperti seseorang yang haus..
Datang meminta setitik embun sebagai pelega dahaga
Tapi aku tak punya setitik pun embun yang dapat kubagi padanya

Celoteh riang ia perdengarkan setiap waktu
Dalam keheningan kudengarkan ia bersenandung

Perlahan coba kutepis ia dengan gerakan samar
Namun, rupanya ia terlalu asyik dengan gumaman dan cerita di bibirnya

ia menunjukkan sebuah lorong padaku
gelap, ujarku, lalu terdiam kembali
kegelapan menyimpan cahaya pada ujung jalannya
jika kau ingin menemukan cahaya dan kehidupan,
maka kau harus berani untuk melangkah melaluinya, meski kau ragu, jawabnya

....................... ............................. ..

I'm Not Your Friend

“I’m not your friend”
“You are”
“No!, I’m not. Never!”
, lanjutnya dingin, lalu beranjak pergi

Lintasan bayangan berkelebat. Sepotong kejadian yang mengiringi kepergiannya.

Zeda merapatkan jaketnya yang sedikit terbuka. Udara pegunungan yang menusuk kulitnya membuatnya menggigil dengan geraham merapat. Titik embun masih setia bergelayut manja pada daun dan semak.


* * *

”Oke! Semoga pekan depan sukses ya.” Ucap seorang laki-laki berkacamata minus di hadapannya. Zeda tersenyum.

Selangkah lagi, Senyum Zeda

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasa mual, pandangannya mengabur dengan rasa sakit yang tiba-tiba dari kepalanya. bruukkk!!
Masih sempat ia dengar teriakan histeris membahana di telinganya. Gelap.


* * *

Sejak hari itu Zeda mulai menarik diri dari pergaulan dan lingkungannya. Hari-hari di laluinya dengan dan dalam diam. Perubahannya menimbulkan tanya. Tak ia pedulikan tatapan heran teman-temannya. Tak ia gubris tiap pertanyaan yang dilontarkan. Tidak pula dengan Juna.

”Ada apa dengan lu, eh?”, Juna menarik kerah Zeda
”Nothing....”, Jawabnya singkat

Juna memandangi Zeda yang tetap sibuk dengan aktivitasnya menyusun perlengkapan pendakiannya. ”We are friend…”, Tepuk Juna pada bahunya


* * *

Perlahan ia mengeluarkan lipatan kertas dari balik jaketnya. Lembar hasil ujian dengan sertifikat ’sangat memuaskan’ dan,..................hasil diagnosa kedokteran. Kanker otak.

Apakah begini perilaku takdir? Ia datang tanpa diminta. Dan apa yang diminta tak kunjung tiba.

Aku bukan pengecut yang lari dari kenyataan. Hanya saja aku perlu waktu untuk sendiri saat ini. Belajar memaknai hidup dan belajar bersahabat dengan takdir. Menerima kenyataan bahwa hidupku hanya tinggal menghitung hari.


Perlahan Zeda melangkahkan kaki menuruni bukit dengan tekad dan ketegaran yang terpatri dalam jiwa.

Tapi, Aku tak kan menyerah. Tidak!
TUHAN,.. Ajari aku