Hijab atau pakaian penutup aurat banyak sekali disebut-sebut dalam ayat alQuran. Secara detil alquran pun menjelaskan mengenai syarat hijab, yaitu terujulur dan menutup dada. Bahkan dalam haditsnya Rasulullah saw menjelaskan bahwa hanya telapak tangan dan wajah saja bagian tubuh yang boleh terbuka, tidak transparan, dan tidak membentuk tubuh.
Aku yakin semua perempuan akan merasa malu bila auratnya terbuka.
(Plaakk!!! Aku sendiri merasa tertampar. Jadi merasa seolah tak punya muka lagi. merasa ditabok, ditonjok, dan merasa dipukul-pukul pakai godam)
Lalu pertanyaannya, bagaimana bila aurat perempuan muslimah nampak saat berhadapan dengan TUHAN?
***
Suatu waktu, aku ikut shalat secara berjama’ah di sebuah masjid. Tak ada yang berbeda dari shalat berjama’ah lainnya. Para makmum berdiri berbaris di belakang imam. Namun selang beberapa waktu ada sebuah kejadian yang membuatku berfikir sepanjang sholatku (*betul-betul kacau shalat kali itu). Ketika seorang jama’ah menarik perhatianku, bukan orangnya, namun mukena yang ia kenakan.
Tak ada yang aneh. Bentuknya sama dengan mukena pada umumnya, dengan beberapa motif dan renda menghiasinya. Namun yang membuatku berfikir dan merasa terganggu adalah, sebentuk tubuh yang membayang dengan jelasnya dari balik mukena yang terjulur panjang itu. Sebentuk kaki dan tubuh indah yang terlihat dengan cukup jelas.
Bukankah salah satu sah nya shalat seorang muslim adalah aurat yang tertutup?, fikirku.
Aku menjadi berfikir. Dan semakin berfikir ketika fenomena tersebut dapat dengan mudah ditemui. Para wanita yang melaksanakan shalat dengan menggunakan mukena yang tak memenuhi syarat tertutupnya aurat.
Aku jadi bertanya, kenapa?
Sebenarnya seperti apa para wanita muslim memaknai mukena? Hanya sebagai alat sholat atau sebagai penutup aurat?
Itu peristiwa yang terjadi pada masyarakat umum, katakanlah yang sering di sebut masyarakat amah, karena minimnya pemahaman mereka.
Namun, yang membuatku sangat berfikir dan merasa cukup miris adalah kondisi ini pun terjadi pada muslimah kaffah, yang kebanyakan mereka mengklaim diri sebagai dai pengusung panji dakwah. Aku tak men-generalisir, namun beberapa orang yang aku kenal sebagai pentolan dakwah cukup menjadi sampel tulisan ini.
Mereka, para muslimah kaffah tersebut begitu rapi dan cantik dengan gamis longgar yang menutupi tubuh mereka dan jilbab lebar yang menjulur panjang. Namun, entah mengapa menjadi sedikit lalai dalam penjagaan aurat mereka ketika shalat, khususnya saat mereka berada di rumah dimana mereka dapat menggunakan pakaian yang mereka sukai.
Sungguh miris buatku, ketika menyaksikan kaki-kaki dan tubuh muslimah yang indah itu membayang dengan jelas dari balik mukena yang mereka gunakan.
Warna kulit mereka yang terlihat jelas, sungguh mengganggu.
Sungguh tak enak dipandang mata, ketika mahkota dikepala mereka terlihat dengan jelas warna dan ukuran panjang pendeknya dari balik mukena mereka.
Bila para daiyah yang mengklaim diri pengusung panji dakwah saja lalai, lalu bagaimana dengan wanita muslim yang disebut dengan amah?
Jika mereka di luar rumah begitu memperhatikan tertutupnya aurat mereka dari pandangan semua orang, lalu mengapa mereka lalai saat mereka berjumpa dengan TUHAN?
Aku secara pribadi sangat miris menemui beberapa kejadian tersebut, apalagi hal itu terjadi pada sahabat-sahabat muslimah yang memiliki kefahaman yang sangat baik mengenai batasan-batasan aurat. Rasanya bukan hal yang sulit menggunakan jilbab dan rok sebelum menggunakan mukena, mengingat sulitnya ditemukan mukena yang betul-betul memenuhi kriteria menutup aurat. Sebagian besar mukena yang diproduksi dan dijual di pasaran, hampir seluruhnya terbuat dari bahan yang tipis dan transparan. Entah, mungkin karena mengikuti tren mode.
Ah, tak ingin berpanjang lebar. Aku bukan aktivis dakwah dan belum mampu menjadi muslimah kaffah. Namun, bila ada hal baik dari apa yang aku sampaikan maka ambillah. Bila buruk, maka buanglah jauh-jauh. Hanya sekedar merenungi dan mudah-mudahan bisa menjadi pengingat kembali, khususnya bagi sahabat muslimah.
Bila kita selalu berusaha tampil cantik dan rapi saat melangkahkan kaki ke luar rumah, lalu mengapa menjadi lalai dengan aurat ketika berdiri dan sujud di hadapan TUHAN?
Mari renungkan……….
Well, maaf bila ada hal yang kurang berkenan.
Wallahu’alam bishowwab.
Tampilkan postingan dengan label Artikel - Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel - Opini. Tampilkan semua postingan
Mei 21, 2010
Mei 15, 2010
Boleh Jadi Bukan Karena Doa Kita

Suatu hari dua orang pemuda terdampar pada sebuah pulau terpencil. Hampir seharian mereka duduk di tepian pantai, berharap ada kapal yang lewat sehingga mereka dapat menumpang atau tim penyelamat menemukan mereka.
Beberapa hari berlalu, kapal yang mereka harapkan tak jua datang, pun pula dengan tim penyelamat.
Mereka lalu berfikir, bahwa mereka harus bertahan hidup. Lalu kedua orang pemuda sepakat untuk membagi pula menjadi dua bagian. Pulau pada sisi barat adalah milik pemuda A, dan pulau pada sisi timur adalah milik pemuda B. Lalu mulai lah mereka menjalani hidup di pulau tersebut sembari terus berharap bantuan segera datang menyelamatkan mereka.
Hari terus berlalu. Pemuda A telah membangun rumah sederhana, begitu pula pemuda B. masing-masing mereka pun bercocok tanam demi kelangsungan hidup mereka.
Berbulan telah mereka lalui. Pemuda A mulai merasa bosan dan merasa kesepian. Lalu ia pun berdoa kepada Tuhan agar diberikan seorang pendamping hidup. Suatu hari ketika hendak memancing ikan di laut, pemuda A menemukan sesosok wanita terdampar pingsan di tepi pantai. Lalu bergegas ia menolongnya. Beberapa waktu berlalu, akhirnya wanita tersebut menjadi pendamping hidup pemuda A.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak-anak yang lucu.
Pemuda A yang telah memiliki istri dan anak-anak, terus berharap agar dapat ditemukan oleh tim penyelamat atau ada kapal yang lewat di pulau tempat mereka tinggal, hingga mereka dapat keluar dari pulau terpencil tersebut. Lalu berdoalah ia kepada Tuhan, memohon agar keinginannya dikabulkan.
Beberapa waktu berlalu hingga suatu hari sebuah kapal nelayan melewati pulau tempat pemuda A dan B terdampar. Dengan serta merta dan penuh suka cita pemuda A berlari memberikan tanda meminta bantuan.
Setelah pemuda A dan keluarganya sampai di atas kapal nelayan tersebut, bertanyalah nahkoda kapal kepadanya, “apakah masih ada orang lain yang terdampar selain dirimu dan keluargamu?”
“ada. Seorang pemuda yang tingga di sisi timur pulau ini,”jawabnya,
“baiklah. Kita akan menemuinya dan mengajaknya serta,”
“untuk apa?,” tanya pemuda A, “setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengirimkan bantuan dan menolongku keluar dari pulau ini. Setelah datang pertolongan mengapa harus mengajaknya?,” lanjutnya,
Setelah sampai pada sisi timur pulau, dimana tinggal seorang pemuda B, bertanyalah sang nahkoda kepadanya, “temanmu, pemuda A berdoa agar diberikan tempat tinggal, makanan, anak, istri, dan pertolongan kepada Tuhan, lalu semua itu IA kabulkan. Sedangkan dirimu, tetap saja hidup sendirian dan bila aku tak bertanya pada pemuda A itu mungkin kau akan tetap ada di pulau ini,” “apakah doamu tidak dikabulkan Tuhan?,”
“tidak!,” jawab pemuda B, “semua doaku dikabulkan Tuhan”
“lalu?,” kejar sang nahkoda, “mengapa kehidupan kalian berbeda? Memangnya apa doa-doamu yang dikabulkan Tuhan?”
“setiap hari dan setiap saat aku hanya berdoa dan meminta kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan kemudahan dan mengabulkan semua doa yang diucapkan oleh saudaraku pemuda A yang tingga di sisi barat pulau ini”
Sang nahkoda, pemuda A, dan beberapa awak kapal pun tertegun,
Sahabat, adik, dan kakak,
Seringkali kita mungkin merasa sombong atas nikmat dan kemudahan dalam hidup kita,
Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita peroleh adalah karunia dan kemurahan hati Tuhan kepada kita,
Namun boleh jadi,
Nikmat, karunia, kebahagiaan, kemudahan, dan segala yang diberikan Tuhan dalam hidup kita,
Bukanlah karena kesholihan kita,
Bukanlah karena doa-doa yang kita lantunkan,
Namun,
Boleh jadi semua itu hadir,
Karena keridhoan Tuhan atas ikhlasnya orang lain berdoa untuk kebaikan kita tanpa kita ketahui,
Doa-doa yang terlantun dalam diam dan hening,
Yang tak nampak dan tak terdengar oleh gendang telinga kita,
Doa orangtua, doa adik, doa kakak, atau doa sahabat yang dengan tulus ikhlas mendoakan segala kebaikan bagi kita,
Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits dari shahabiyah Ummud Darda` :
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)
Dasyatnya sebuah doa kebaikan yang tak diketahui oleh yang didoakan. Ketika Tuhan memerintahkan tugas kepada malaikat, khusus hanya untuk mengaminkan doa-doa seorang muslim bagi muslim lainnya. Bahkan malaikat pun ikut mendoakan kebaikan yang sama bagi mereka yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya yang lain, dengan batas, selama doa tersebut tak diketahui oleh saudaranya yang didoakan,
Jika menatap kembali hadits tersebut dan kemudian ‘berkaca’,
Betapa jarang diri ini mendoakan orang lain dalam tiap jenak lantunan harap kepada Yang Esa,
Betapa diri demikian pelit dan hanya, selalu, dan seringkali berdoa hanya untuk kebaikan diri sendiri saja,
Jadi merasa tersentil -’-!
Mei 08, 2010
Memahami Kembali Makna Ridho dan Ikhlas

Menyinggung sekilah mengenai Ridho dan Ikhlas,
Ridho dan Ikhlas,
Dua hal berbeda yang seringkali dimaknai sama oleh sebagian orang. Padahal sebetulnya itu merupakan dua hal yang berbeda.
Ikhlas adalah Melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu karena Alloh semata. Karena itu Ikhlas dikaitkan erat dengan niat.
Sebagai contoh :
## Saya Ikhlas menerima musibah ini
Sikap di atas bukanlah sikap Ikhlas, melainkan Ridho..
Dan,
Ketika kita melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu dengan niat hanya kepada dan bagi Allah,
Maka sikap itulah yang disebut sebagai IKHLAS.
SEDANGKAN
Ridho adalah sikap dengan penerimaan utuh seorang hamba Tuhan Terhadap QodhoNYA. Dimana Qodho merupakan ketetapan TUHAN yang tak tak bisa ditolak atau seringkali kita sebut sebagai TAKDIR,
Tak ada ridho sebelum qodho!
Ridho baru berlaku setelah qodho. Sebagaima yang telah dikatakan oleh Rasulullah melalui hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa’I “Wahai Alloh, Aku meminta kepadaMU (sifat) ridho setelah adanya ketetapan dariMU”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa’I tersebut, Rasulullah mengatakan pula bahwa setiap hamba Tuhan harus senantiasa meminta agar dikaruniai keridhoan dalam menjalani takdir yang ditetapkan baginya. Karena berat dan sulitnya takdir itu bagi sebagian hamba.
Wallahu’alam bisshowab,
Mohon maaf bila ada kekeliruan. Ambil manfaatnya dan buanglah buruknya.
Teringat catatan singkat saat menerima tausiyah pada rakernas @ponpes Daarut Tauhiid pada Desember 2009.
Langganan:
Postingan (Atom)

