Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Mei 05, 2010

I'm Not Women, Im a Man!

“Terusss!! Panjat teruuss yang tinggi ya!,”
Seorang laki-laki bersuara dengan berkacak pinggang dengan kepala mendongak ke atas pohon kelapa yang tumbuh di depan rumah itu. Beberapa wajah terlihat menahan tawa melihat wajah pucat sosok di atas pohon itu.
“teruuuss! Jangan turun lagi. Tidur di situ aja!”, lanjutnya dengan suara penuh tekanan.
Sementara sesosok remaja kelas 3 SMP nampak terdiam di atas pohon kelapa dalam kebingungan dan ketakutan antara tetap di atas atau turun perlahan.
“Nina, turun!,” tiba-tiba sesosok wanita menyeruak dari balik wajah-wajah yang terkekeh-kekeh. Wanita asing yang tak asing.
Perlahan remaja itu turun.


WHEN WAS CHILD


Malam semakin hening dan pekat. Beberapa cahaya terlihat mengintip dari sela-sela rumah. Dusun itu seperti tak ada pada malam hari. Semuanya menghitam. Tak ada penerangan di luar selain cahaya rembulan dan kerlip bintang di kejauhan, karena aliran listrik belum sampai ke dusun itu. Tak terlihat apalagi terdengar apapun kecuali suara jangkrik yang bernyanyi diselingi suara binatang malam lain. Terlihat samar dua bayangan berjalan menerobos jalan setapak yang basah. Tergesa langkah mereka seolah dikejar oleh iblis yang hendak mematahkan kaki mereka dan menarik tubuh mereka tenggelam ke dasar tanah.
“Ayo, Wak. Cepat!,” seru salah seorang diantara mereka.
“Sabarlah. Ini jugak Uwak sudah cepat,” jawab suara seorang lainnya. Nampak sebuah buntalan kain terayun-ayun bersama langkahnya yang tergesa.
Tak lama terlihat sebuah gubuk sederhana. Cahaya lampu kecil mengintip dari sela-sela dinding yang terbuat dari bambu yang dicacah.

Beberapa jam kemudian.
Terdengar lengking tangisan bayi memecah malam yang pekat itu. Rabu, pukul 22.30 waktu Indonesia pada bagian barat, dengan perkiraan masa yaitu 9985 hari yang lalu.

Kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan keinginan melebihi batas kemampuan. Kanak-kanak. Namun seorang laki-laki muda terus mengajarinya bermimpi menggenggam dunia. Setiap malam perempuan yang terlahir 8 tahun lalu itu dihadapkan pada buku-buku yang berisi barisan angka, tulisan, hingga gambar-gambar. Tak ada bermain dalam kamus laki-laki muda itu buatnya.
Setiap malam ia akan menatapi buku-bukunya. Berpura-pura. Sembari mengamati laki-laki muda itu lengah. mengamati kapan ia akan beranjak dari kursinya. Tapi laki-laki itu tetap tegak duduk diam di atas kursinya dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap tebal.

“pergi dulu. Yasinan!,”
Pada malam ke sekian laki-laki muda itu berucap. Kalimat singkat keramat yang selalu ditunggu bocah itu. Ia bersorak riang dalam hati. Asyiiik!, akhirnya bebas.
“belajar yang betul! Awas kalo gak belajar,” laki-laki itu berkata-kata dengan nada memperingatkan sebelum menghilang dari balik pintu kayu. Ia menjawab dengan anggukan, sementara itu sesosok tubuh wanita berbaring diam tak jauh darinya. Perlahan ia menutup bukunya. Tak lama ia berjingkat-jingkat menuju pintu dimana sosok laki-laki itu menghilang.

Berbaur dalam keramaian bersama anak-anak dusun lainnya.
“hom hila hompimpah,” teriak mereka bersama-sama. “Buang jaga!,” teriak kerumunan anak-anak itu serentak. Tak lama terlihatlah bocah-bocah yang berlarian di bawah sinar bulan menghindari bocah laki-laki bernama Buang itu, menghindari sentuhan tangannya yang berarti tertangkap.
“duukk!!,” terdengar benturan.
Sesosok tubuh mungil terpaku diam memegangi perutnya. Darah mengalir pelan dari sela-sela jari-jari yang menutupinya. Memandangi dengan nanar pohon yang baru saja berbenturan dengan tubuhnya. Nampak sebuah bagiannya meruncing. Sepertinya bagian itulah yang menghadirkan perih di perut Nina.

“Nina luka!...” teriak salah seorang bocah itu.
Mendengar itu bocah perempuan yang dipanggil dengan Nina itu segera berlari dengan menahan tangis dan juga perih yang berasal dari tubuhnya. Sesosok wajah dengan penuh amarah membayang di wajahnya. Dengan penuh ketakutan ia berlari menuju sebuah rumah di ujung dusun.

Bocah itu meringkuk di atas kasurnya. Darah itu sudah tak mengalir lagi. Sudah dibersihkan dan dibalut dengan bubuk kopi. Begitulah cara warga dusun mengobati luka. Tak ada kata rumah sakit apalagi dokter. Kalau pun mereka bersentuhan dengan fasilitas kesehatan, paling-paling mantri praktik yang datang sebulan sekali. Ia menutupi wajahnya menghindari tatapan laki-laki itu.


***
Buang, Sangkut, Topan, Leo, dan Dadang telah menunggunya diujung dusun. Beberapa orang anak laki-laki itu terlihat membawa golok.
“lame nian ngan ni (lama sekali kamu tuh),” gerutu Sangkut padanya
“Mang Burhan baru pergi ya, Nin?,’, ujar Leo. Nina menganggukkan kepala.

Beriringan mereka berjalan menuju hutan kecil tak jauh dari dusun mereka. Mereka memang suka sekali bermain ke hutan, mencari biji-biji buah karet yang biasa mereka adu, atau terkadang mencari buah-buahan hutan. Atau mereka akan pergi memasang perangkap ikan pada sebuah lengkungan bumi yang membentuk genangan air yang luas. Di sanalah sebagian besar penduduk dusun mandi dan mencuci. Sebelum senja mereka akan segera pulang, sebelum ayah Nina pulang dari kebun.
Semua anak-anak dusun segan dan takut pada ayah Nina. Bukan hanya karena terkenal dengan ketegasannya, namun juga karena ayah Nina adalah salah seorang pengurus masjid. Dusun mereka sangat menghormati mereka yang menjadi pengurus masjid, layaknya disebut petinggi dusun.

“Kemarin itu, aku diikat di tiang rumah,” bibir mungil Nina bercerita.
“Kenapa?,” Tanya mereka serentak.
“Gara-gara aku nginap di rumah Ugok dan Nyai, dan gak bilang-bilang,” Nina menyeringai sembari menebas-nebaskan golok di tangannya pada semak-semak di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui. Ugok adalah sebutan bagi kakek dan Nyai adalah sebutan bagi nenek di dusun itu.
“ooo…”
Bibir-bibir mungil anak-anak itu terus berceloteh bergantian. Mengiringi tiap gerak mereka. Kadang mereka berlarian, berlomba yang tercepat. Kadang mereka berhenti pada sebuah kebun, manakala mata mereka menemukan buah-buahan yang tentu saja mereka curi, karena tumbuh di kebun yang ada pemiliknya.

Seperti itulah kehidupan anak-anak di dusun terpencil itu. Tak ada boneka, mobil-mobilan seri terbaru dengan remote controlnya, robot-robot keren yang gagah, apalagi sepeda. Anak-anak dusun hanya mengenal permainan kampung sederhana atau menjelajahi hutan, sungai, dan kebun sebagai sarana mereka bermain. Alam adalah mainan pemberian Tuhan untuk mereka.


***

I’M NOT WOMEN, IM A MAN!


Segerombolan anak-anak berseragam merah putih berkerumun di depan pintu masuk sebuah ruang kelas. Sebagian wajah terlihat pucat dan berkeringat seolah sedang menanti giliran untuk dihukum gantung. Terlihat satu persatu laki-laki dan wanita berdatangan dan masuk ke dalam ruangan tersebut.

Sebuah sekolah inpres yang berdiri di atas tanah dengan lapangan yang luasnya dua kali luas lapangan sepakbola. Sekolah itu memiliki 4 ruang kelas. Benar, 4 ruang. Setiap ruangan dipergunakan oleh dua kelas sekaligus. Kegiatan belajar dua kelas itu dipisahkan oleh sekat triplek yang membagi ruangan menjadi dua bagian. Satu ruangan sisa dipergunakan sebagai ruang kepala sekolah merangkap ruang guru dan perpustakaan. Sungguh bukan proses yang belajar yang maksimal. Tapi itulah potret pendidikan bagi warga dusun terpencil. Seadanya.

Seluruh aktifitas belajar mengajar dilakukan pada pagi hari, karena pada siang hingga sore hari sebagian guru beralih profesi sebagai petani. Begitu kenyataannya. Gaji yang diterima oleh pahlawan tanpa tanda jasa sekolah inpres di tempat terpencil itu tentu saja tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.

Sama seperti beberapa anak-anak lainnya. Wajah Nina ikut memucat. Hari itu pembagian raport. Hari keramat.

Suara adzan pertanda waktu shalat Isya memecah lamunan Nina. Melemparkannya kembali pada alam nyata. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan meremas-remas rambutnya yang cepak dengan gusar. Layar monitor computer berganti menjadi slide yang menampilkan gambar-gambar bergantian. Beranjak ia menuju kamar mandi. Berwudhu.


***
Wajah laki-laki itu tertegun memandang Nina. Bukan, tapi memandangi kepalanya. Tak ada yang terucap darinya, ia hanya diam tak berkata apa-apa. Namun puluhan tahun mengenalnya cukup membuat Nina mengerti apa yang tersimpan dalam diam laki-laki paruh baya itu. Ada sebuah tanya yang mengendap di benaknya, Kenapa?

18 tahun lalu,
“Waaa, bagusnya rambut anak abah. Potong dimana?,” tanyanya.
Nina terdiam. Tak berani menjawab karena ia tahu itu bukanlah pertanyaan apalagi pujian, namun bentuk sindiran. Nina terduduk pada pojok ruangan, menatap sang emak, seolah memohon bantuan.
“memangnya kenapa sih?,” terdengar suara si emak menjawab. Pun ia mengerti bahwa si abah bukan memuji namun tengah marah.
“gak kenapa-kenapa. Berarti aku ini tak punya anak perempuan ya. Anaknya laki-laki semua ternyata,” ucapnya lagi.

Ia beranjak. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia pakai bekerja di kebun. Nina kecil tetap terdiam tak berani memandang wajahnya.
Hari itu, rambut panjang Nina kecil dipangkas. Sang emak yang memang agak risih dengan anak-anak yang berambut panjang membawa Nina ke Bibik Subay dan dipotonglah rambutnya. Abah dan Emak Nina memang memiliki pendapat yang berbeda tentang itu. Abahnya yang menyukai anaknya dengan rambut panjangnya dan menganggap bahwa perempuan itu identik dengan rambutnya.

Hal itu berbuntut panjang. Berhari-hari si Abah diam seribu bahasa. Nina kecil hanya bisa terdiam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi melihat perbedaan pendapat orangtunya mengenai rambutnya. Nina bingung dan juga takut. Tapi toh tak ada yang bisa dilakukan.

Waktu berlalu. Ketika sang waktu berjalan dengan langkah tergesa. Mengganti menit menjadi jam, jam berubah menjelma menjadi hari. Kemudian bulan bertambah hingga tahun telah berlalu bersama waktu. September 2000, Nina kecil berevolusi.


***

Gemericik air hujan yang jatuh di atas asbes rumah terdengar merdu. Angan Nina mengembara jauh. Jari-jarinya mengetuk keyboard sementara tangan kirinya memainkan rambut pendeknya.
Tak ada yang ia fikirkan, namun kepalanya terasa penuh. Ada yang mengganggu fikiran Nina. Ada perasaan tak nyaman menyesaki ruang dadanya. Ada perasaan sedih yang menyelinap dan tak mampu terurai. Ia pandangi lagi barisan kalimat yang memenuhi layar monitornya. Formulir pendaftaran akademi kepolisian. Perlahan jarinya menggerakan kursor. Menutup semua jendela kerja yang terbuka. Dan mematikan komputernya.

Gelisah. Memejamkan mata dan menghilang ke negeri impian rasanya mungkin akan sedikit membantu melepaskan sejenak rasa tak nyaman yang menyesakinya.

Hening malam. Rintik hujan masih setia turun. Sudah bulan april, berarti musim hujan akan berganti dengan musim kemarau. Mulutnya bergerak berkomat-kamit, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dari kaki hingga kepala. Sunyi.





_END_

Kucing


“Kotor, dek..”, suara itu mengeluh
“Masuk!”, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih mirip perintah yang tak boleh dibantah
“Deeekk!!!”, kali ini terdengar agak berteriak berusaha menahan kesal.
“apa sih?”, sebuah suara menyahut. Terdengar asal jawab dan enggan. Sementara terdengar suara mengeong halus di sela-sela suara yang saling bersahutan itu
“Kasih makan aja, jangan dipegang-pegang”
“Ya ampuuunn. Lihat! Kucingnya masuk”, suara itu memberitahu, lebih tepatnya protes. “Jangan dipegang. Lihat tubuhnya kotor”
“Deeekk!!!!”, suara itu benar-benar berteriak sekarang.

Aku terus menyimak dialog itu dengan tetap memejamkan mata. Sepertinya ada seekor kucing yang dekil, menurut salah satu suara itu, yang jadi perdebatan dua suara tersebut. Suara yang satu menginginkan kucing itu sementara suara yang lain merasa jijik dengannya.
“ugh! Jijik aku. Ku hempaskan kucing ini nanti”

Waah, sudah statemen kriminal, nih. Gumam hatiku. Kalimat itu membawaku bergerak bangun menuju asal suara-suara itu. Aku tak menyukai kalimat itu, meski aku tahu itu hanyalah sebuah gertakan agar suara yang lain segera menyingkirkan kucing tersebut.
Aku tak menyukai kalimat itu bukan hanya karena aku begitu menyayangi makhluk Tuhan bernama kucing itu, namun karena kalimat tersebut sama sekali tak mendidik dan penuh dengan kekerasan.

Ku buka pintu dan mengamati yang terjadi. Sesosok tubuh kurus ceking sedang berkacak pinggang, sementara sesosok lain mondar mandir mengurusi kucing dekilnya. Ah, tidak terlalu dekil, menurutku.
Melihatku, sosok bocah kecil itu segera melepaskan kucing kecilnya keluar pintu dan menjauh
“Panca, sini!”, panggilku
Dengan agak takut-takut bocah itu mendekat. Seolah merasa ia akan dimarahi.
“Ambil kucingnya, terus mandiin”, lanjutku
seketika wajah itu berbinar sumringah.

Suara mengeong-ngeong kucing kecil itu terdengar melengking di pagi itu. Aku terkikik dalam gudang semediku mendengar suara panik bocah laki-laki itu mengejar kucingnya yang meronta untuk dimandikan.

Hihihihih, kesian sekali kau kucing kecil, pagi-pagi sudah dapat musibah, ucap hatiku dengan senyum.

“Lagi nyari apa? Kutunya?”, Tanya suara pemilik tubuh kurus itu. Tak terdengar jawaban, namun sepertinya menjawab dengan anggukan kepala.
“Sikatin giginya sekalian biar bersih!”
Kalimat kedua membuatku terkikik perlahan. Bagaimanapun seisi rumah ini menyukai kucing, meski dengan kadar yang berbeda-beda.

Beberapa saat kemudian suasana hening. Hanya tersisa ngeong-ngeong pilu si kucing kecil yang baru saja ditimpa musibah. Sepertinya acara pemandian telah selesai.
Perlahan aku beranjak keluar……….

“Bukan begitu caranya mendidik adik. Dia boleh melakukan hal yang dia suka bila itu baik. Kucing itu memang kotor menurutmu. Tapi tidak lantas kau boleh memerintah dia untuk membuangnya. Bayangkan perasaannya kala menemukan kucing itu hingga membawany pulang. Dia tak lantas harus membuangnya hanya karena kucing itu kotor dan dekil,” kupandangi sosok kurus itu.
“Ajari. Ajari cara merawatnya. Bagaimana agar bersih, perintahkan untuk dimandikan setiap kali terlihat kotor..”, ucapku panjang lebar pada sosok kurus itu,”
“Biarkan dia belajar sesuatu. Dia tak harus mengikuti apa yang kau suka dan menjauhi apa yang tak kau suka..”, lanjutku
“Intinya biarkan belajar dari apa yang dia lakukan. Dan ajari bila dia belum mengerti atau keliru”, ujarku kembali pada sang kakak.

Sementara bocah kecil itu nyengir riang, merasa menang.

“Apa nyengir-nyengir?”, aku menoleh padanya
“Bukan cuma kucing yang harus mandi biar bersih dan gak jorok bau. Kau juga harus mandi. Sana!”
Ia beranjak pergi. Mandi.

Ah, kadang aku merasa letih karena acap kali harus menjadi wasit di rumah ini. Melerai perdebatan demi perdebatan dan mengarahkannya menjadi dialog positif. Melerai pertengkaran yang tak jarang mulai menggunakan kekuatan dan aku fisik. Terkadang capek ketika harus terus berganti peran mulai dari jaksa, pengacara, hakim, guru, teman, wasit, dan peran-peran lainnya. Selalu butuh energy untuk menggiring penghuni rumah ini, bahkan untuk mengingatkan saat pelaksanaan shalat sekalipun harus selalu dikomandoi. Aku jadi mirip jam weker. Merasa seperti panglima yang memimpin pasukan yang seringkali bandel, tak mengerti apa-apa, brutal, atau bahkan tak peduli dengan perintah atau pun nasehat.

Namun sekesal semarah apapun, tak pernah mampu aku mengucapkan kalimat-kalimat umpatan pada mereka, karena sadar itu akan jadi pembenaran dan menjadi perilaku yang ditiru. Tak diajari saja mereka sudah jadi anak-anak yang pandai dan selalu mengumpat dengan nama-nama penghuni kebun binatang.
Tak sanggup tangan dan kaki melayang pada tubuh-tubuh kekar itu, bukan karena tak mampu, namun karena tak mau. Karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan-kekerasan baru.

Itulah sejenak cerita pagi. Sekelumit kisah dari banyak kisah-kisah lain tentang mereka yang menuntut banyak padaku. Menuntut ketegaran dan kekokohan, serta kesabaran tiada habis. Menuntut permainan peranan yang senantiasa berubah dalam tiap kisahnya. Seringkali keletihan tanpa sadar membuat lisanku berucap, kapankah mereka bisa kulepaskan. Kapankah mereka bisa berdiri tegak di atas kaki mereka sendiri dan tak menjadi beban. Aku selalu menunggu dengan sabar saat itu tiba, saat dimana aku akan bebas melangkah meninggalkan gudang semediku. Melangkah mengitari bumi yang indah dan mengelilingi jagad raya.

Dalam keletihan ku pejamkan mata, sesaat ku buka mata kembali, melirik jam pada ponsel yang tergeletak di atas kepalaku 06:47AM, “mmmm, masih ada waktu 3 jam untuk terlelap kembali”, gumamku sembari menutup mata.

Logika Terbalik

Siang itu cukup cerah, matahari bersinar dengan penuh kepercayaan diri. Menyinari bumi dengan kehangatannya yang menghadirkan kehidupan bagi alam semesta.
“Assalamu’alaykum..” terdengar suara salam.
“Wa’alaymukussalam warohmatulloh,” sahutku sembari membuka pintu
Sesosok wajah berbalut jilbab coklat muda berdiri dengan senyum lebar.
“eeee… yaa ampun. Ada angin apa? masuk..masuk,” lanjutku

Lama tak bertemu. Seorang kawan lama. Tak lama kami sudah terlibat pembicaraan. Santai saja, karena kami bukan orang-orang penting yang suka berbicara hal2 berat dan serius. Tema seputar suka dan duka ekonomi menjadi topik yang cukup jadi pembicaraan yang panjang. Hihihihih, sebagian besar intinya penderitaan.

Tapi kemudian sang kawan mencuatkan sebuah tema lain. Cinta, aha!.

Cinta, selalu menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Tema yang menyentuh semua ruang dan waktu, kaya atau miskin, tanpa batas usia sekalipun, baik yang sudah tua, setengah baya, dewasa, hingga anak-anak yang baru menginjak usia remaja. Semua begitu antusias bila mendengarnya. Mata berbinar dan wajah menjadi merah bersemu.

Bahkan, para penguasa bisnis dunia pun menjadikan ‘cinta’ sebagai sumber tambang emas penghasil uang. Lihat saja, betapa gencar mereka mempromosikan segala hal yang berbau tentang cinta. Dengan penguasaan media mereka mulai merangsek, dari sinetron, film, fashion, hingga moment. Kita dapat melihat bertapa hingar bingarnya pusat perbelanjaan, mall, cafĂ©, dan tempat-tempat keramaian lainnya kala menjelang valentine days, yang diklaim sebagai hari kasih sayang. Semua berlomba mempromosikan hawa ‘cinta’.

Aku jadi sering tersenyum geli melihatnya, lihatlah mereka, kasian sekali ya, dalam kurun waktu 365 hari dalam putaran massa setahun, mereka hanya dapat ‘jatah’ sehari.
Ah, itulah. Konspirasi dunia melalui bisnis dan remaja. Berat membahasnya. Gurita.

“Beneran, deh, mba. Saya dah capek sendirian,” ucapnya. Ini anak termasuk orang yang punya tata karma dan tingkat kesopanan yang tinggi. Padahal usianya di atasku, tapi dia selalu memanggilku dengan sebutan, mba. Sedangkan aku hanya memanggil nama atau ber elu gw saja dengannya
“Emang ngapain aja selama ini, sampe sendirian aja capek? Habis mbabat hutan, tah?,” jawabku usil. Aku terkikik melihatnya mendelik kesal merasa dibercandai

Perjuangan berat hidup sang kawan, kebosanan dan keletihannya menghadapi hidup membuatnya berfikir bahwa I want and must get a married!
Wuihh! Aku terdiam, tema roaming, fikirku. Beberapa waktu kubiarkan sang kawan berkeluh kesah dan bercerita tanpa disela.
“Saya tuh capek sendirian, gak ada teman berbagi,” lanjutnya. “Apalagi sekarang ada abang di rumah, tambah stress saya. Rasanya di luar rumah lebih nyaman dari di rumah”
“Eh, abangmu udah di rumah lagi?”, sahutku. Teringat olehku siapa abangnya. Seorang laki-laki yang agak terganggu kestabilan jiwanya.
“Ya sok atuh, lu kan punya itu yang namanya murobbi. Ngajuin aja, beres kan?,” jawabku. Bukan jawaban solutif. Gak aku suruh pun pasti dah dia lakukan.
“Aahh, hari gini. Antrian itu dah panjang mba. Ikhwan-ikhwan itu kan cari yang cantik, muda, yang kayak saya mah biodatanya ditumpukkan paling bawah,” keluhnya
“And, so..?”

Pembicaraan makin ‘dalem’. Sebenarnya aku enggan, benar-benar enggan berbicara dengan tema-tema seperti ini.

“Minta tolong teman-teman kantor lu, kek. Kan lu kerjanya di sekolah Islam. Pasti di sana banyak pria-pria sholeh berjenggot, atau minta dikenalkan dengan teman-teman mereka yang juga udah siap menikah. Beres kan,” ujarku. Sebetulnya dengan maksud menghentikan pembicaraan.
“Tau ah, saya mah pusing. Pengennya nikah tapi gak tau sama siapa,”
Aku tersenyum mendengarnya. Bagus deh kalo pusing, biar temanya berhenti, ucap hatiku.

Aku beringsut duduk tegak dengan kaki bersila di hadapannya. Ku pasang ekspresi serius. Memang ingin bicara serius. Bagaimana pun tamu harus dihormati, meski pembicaraan kurang begitu nyaman diikuti.
“Well,.. Emang sudah siap nikah?,” tanyaku menyelidik
“Sudah, kenapa?,” tanyanya balik menyelidik
“Memangnya sudah mempersiapkan apa?,” tanyaku lagi
“Mmmmm…”
Ia tak perlu menjawab. Aku percaya ia sudah siap untuk itu, hanya saja memang tak perlu diungkapkan panjang lebar.

“Pernah, gak, berfikir terbalik?,” lanjutku
“Maksudnya,” ia balik bertanya, menyelidik.
“Iya. Berfikir terbalik,” aku membiarkannya terdiam untuk mencerna kalimatku.
“Setiap orang, laki-laki dan perempuan yang sudah memasuki usia matang, pasti siap dan mempersiapkan diri untuk menikah, ya tho?,” ujarku. “Tapi, pernahkah mencoba untuk berfikir terbalik, untuk bersiap-siap pula, apabila ternyata dalam hidup ini tak tertulis menikah dalam catatan takdir kita?,” lanjutku. Dia bengong.

“Setiap orang yang hidup dengan takdir sebagai manusia tentulah memiliki impian yang sama. Memiliki teman hidup, menjadi istri dan suami, menjadi ayah dan ibu dari anak-anak, dan menjadi kakek nenek dari cucu-cucu yang lucu-lucu kala usia tua. Namun bukankah kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa tidak semua orang memiliki garis takdir yang sama,” tatapku lurus pada matanya.

Ia semakin tak bersuara. Entah apa yang berputar di benaknya. Aku tak peduli. Kulanjutkan kata-kataku.

“Tidak sedikit orang yang sepanjang hayatnya ia habiskan tanpa seorang teman, banyak yang kembali ke pangkuan penggenggam alam saat masih menyandang titel single, atau menghembuskan nafas sebelum sempat merasakan gemerlap gejolak dunia remaja,” lanjutku.
“Tentu saja kita meyakini bahwa Allah menciptakan hambanya berpasang-pasangan. Namun kenyataan hidup yang Tuhan gariskan pada hamba-hambanya pula lah yang mengajarkan pada kita, bahwa boleh jadi pasangan itu IA ciptakan bukan untuk di dunia ini, namun boleh jadi pada kehidupan setelah kematian,” ucapku dengan tetap menatap lurus padanya. Mencoba menyelami fikirannya.

Kubiarkan waktu seolah berhenti. Hening. Kubiarkan ia sibuk dengan fikirannya sendiri.

“Hei!,” aku menjawil lengannya. “sedang coba berfikir terbalik ya?,” godaku
“Iihh… gak mau saya.” Jeritnya.
“Laaah, kan gw bilang seandainya. Seandainya takdir tak menuliskannya dalam hidup lu. Seandainya. Nah, udah bersiap-siap belum?,”
“Kalo belum bersiap-siap, ya disiapin dari sekarang”, aku terkekeh ringan.
“Ihh..gak ah!”, jawabnya lagi
“Gw serius, lho dengan kalimat panjang gw tadi,” tatapku

Ia terdiam sesaat

“Mba. Mmmm, mba gak……..?,” ia memandangku dengan tatapan aneh
“Enggak apa?,” kejarku dengan senyum menggoda. “Gak mau menikah?,” lanjutku lagi. Dia terdiam.
“Tak ada ruginya berfikir terbalik dari kebanyakan orang,” ujarku. “Tak ada salahnya menyiapkan diri bila harus sendiri. Sama seperti ketika sebagian kita berfikir harus bersiap-siap saat ingin dan akan menikah,”
“Jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Bersabarlah ketika menunggu, karena jodoh tak kan tertukar, Tuhan tak pernah khilaf. Dan belajarlah Ridho bila ternyata takdir tak seperti yang diimpikan, agar hidup tak menjadi seperti beban,” Aku mengamatinya.
“Gw tak sedang mendoktrin lu, lho. Toh hidup kita ini dijalani masing-masing. Hanya berusaha agar lu gak stress mikirin kapan lu nikahnya. Jangan terlalu difikirin, tar lu gila lagi,” godaku.

Ia masih memandangiku dengan tatapan heran dan aneh. Aku kembali tersenyum kecil.
“oya, satu lagi,” ujarku tak peduli dengan tatapannya, “apapun ucapan orang, jangan terlalu dimasukan ke hati, ya!”

Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan, “kapan mba, mas, kak?” menjadi sesuatu yang makin merumitkan persoalan. Aku tak menyalahkan ketika bibir-bibir itu melontar tanya, dengan berbaik sangka bahwa setiap pertanyaan hadir oleh karena besarnya perhatian dan kasih sayang mereka terhadap yang ditanya. Namun, mereka mungkin tak menyadari bahwa itu sungguh tak mengenakkan diterima oleh gendang telingan orang-orang yang mereka tanyai.

Sangat menyadari hal tersebut, aku sendiri sangat menghindari pertanyaan, “kapan mba, mas?”, kepada siapapun. Karena bagiku, ekspresi menyayangi dan besarnya perhatian terhadap saudara saudari kita, tak harus diungkapkan dalam bentuk pertanyaan seperti itu.
Boleh jadi kita mengucapkannya dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang utuh. Namun, coba renungkan sebelum bertanya, apakah pertanyaan itu membahagiakan mereka yang ditanya? atau justru menyakitinya?

Usia yang menginjak usia matang, kebosanan dalam aktivitas, keletihan dalam menghadapi cobaan hidup, lelah dengan penderitaan, hingga tak tahan dengan tuntutan keluarga, seringkali jadi penyebab lisan-lisan hamba-hamba bertanya pada Tuhan. Kapan?
Kapan?
Kapan?
Serta, berapa lama lagi?

Tak ada yang mampu menjawabnya, karena semua adalah mistery, yang hingga kapan pun tak kan mampu dikuak oleh kekuatan manusia yang berbatas. Namun, kesabaran yang tanpa batas dan penerimaan yang utuh adalah kekuatan maha dasyat yang mampu menguatkan hamba Tuhan dalam hidupnya.

“Sudah ah. Easy going aja. Jalani apa yang ada,”, ujarku lagi. “Kata peribahasa, ada banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau kata gw, ada banyak cara untuk hidup bahagia. Kebahagiaan tak semata hanya diperoleh dengan menikah. Tak menikah pun kita bisa bahagia, kok. Asal Ridho dan bersyukur dengan apa yang ada”




Bdl, Januari 2010

Cinta Pertama dan Terakhir,..

SATU

“kau adalah cinta pertama dan terakhirku….”



Jogja, April 2005
Aku tidak akan seterkejut ini jika petir menyambar di dekat telingaku. Duniaku seakan berhenti sesaat ketika Senja, teman satu jurusan di fakultas, menceritakan hal itu.

Sore itu langit pantai parangtritis berwarna kelabu. Tak banyak orang yang ada di sana menikmati pantainya yang indah namun menyimpan seribu peristiwa berbau mistis. Ini memang bukan akhir pekan.
Berdiri diam Jingga, sembari sesekali ekor matanya melirik Senja yang berdiri tak jauh darinya. Sesekali senyum mereka terkembang saat tatapan mereka bertemu. Pantai yang indah, dengan angin yang bertiup kencang, menerbangkan ekor jilbab merah muda Jingga.
“Indah sekali bukan?,” ucap Jingga
“Hu um..” sahut Senja, dengan tatapan tak lepas menatap pada ujung batas cakrawala
“Aku bahagia ada di sini, denganmu. Rasanya tak ingin kembali. Di sini saja”, “rasanya sulit sekali menerima kenyataan hidup, bahwa hidup akan mengantarkanku pada episode lain yang belum mampu aku terima”
“Apakah kau bahagia, Senja”, Tanya Jingga
Senja menghela nafas “bertemu denganmu dan bersamamu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Menemukan seseorang yang memiliki semua hal yang selama ini aku cari,” jawabnya.
“Benarkah?”, Tanya Jingga lagi.
“Mmmmm…” jawab Senja

“Bisakah aku tetap bersamamu?”


***
Pekerjaan yang menumpuk di hadapan Jingga ia biarkan begitu saja. Ia terdiam dengan fikirannya yang mengembara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, telpon dari rumah “ya, assalamu’alaikum,” jawab Jingga.
“Wa’alaikumussalam”, jawab suara di seberang sana
“Ya, bu. Ada apa?”
“Ibu cuma mau ngingetin kamu, supaya nanti kamu tidak lupa pulang nanti mampir ke rumah budhe Ida, suruh ke datang ke rumah. Ibu mau membicarakan tentang aksesoris dan dekorasi pelaminan”
Perut Jingga terasa mulas, malas ia menjawab, dan segera menutup telpon.

Dunia yang ia pijak terasa bergetar. Jingga terhuyung berusaha menyeimbangkan diri agar tak ambruk jatuh. Duh, kepalaku, ada apa denganmu, ucap hati Jingga.
Perlahan ia raih ponsel yang belum sempat ia simpan kembali,
Aku ingin bertemu denganmu, malam ini!
Jari jemarinya dengan gemetar menekan tombol, pengiriman pesan.

Tak bisa. Aku ada janji bertemu kerabat malam ini. Aku pun ingin ketemu.
Tak lama pesan balasan ia terima.

Ada apa denganmu? Aku sungguh ingin bertemu denganmu. Aku sakit. Kepalaku pusing. Kau bilang tak akan membiarkanku menderita. Ah, Sudahlah, bagaimanapun bagiku kau tetaplah kakakku.
Ia kirim pesan terakhir itu dan mematikan ponselnya.



***
“Bawa aku pergi. Aku mohon. Kemana saja, aku tak peduli”, isak Jingga.
Senja terdiam dalam kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Sesungguhnya ia pun ingin merengkuh sosok di depannya, memenuhi permintaannya. Tapi…
“Pulanglah…”, jawab Senja datar. Dengan menahan gemuruh hati yang tak menentu.
“Tapi..”
“Aku bilang pulang. Pulang!”, Senja menatap tajam Jingga.
“aku tak bisa!!”, teriaknya. “kau adalah cinta pertama dan terakhirku”
“Hadapilah hidupmu dan berbahagialah”, senja menjawab “Aku tak tahu harus bagaimana. Berjanjilah untuk hidup bahagia” ,lanjutnya, lalu beranjak menjauh

Langit malam terlihat kelam. Perlahan rintik air hujan menjelma menjadi hujan lebat, membasahi wajahnya dan mengaburkan pandangannya. Bercampur dengan air yang mengalir dari matanya. Langkahnya tertahan, duduk bersandar pada tembok beton. Sakit.



***
DUA,

Suasana begitu meriah dan tampak penuh suka cita. Bergiliran tamu undangan berdatangan, ikut merayakan kebahagiaan kedua mempelai. Benarkah?, suara hati Senja.
Sesaat lalu prosesi akad telah dilaksanakan dengan penuh suasana khidmat.
“Saaaahhhh……!!”
Jawaban saksi disertai dengungan haru tetamu dan keluarga yang memenuhi ruangan.
Ku lirik Senja dengan ekor mataku. Beku. Kuraih bahunya dan kutepuk-tepuk dengan perlahan, berusaha membagi energi.

Teringat pembicaraan panjang Rangga dan Senja malam itu.
“Dia akan baik-baik saja”, Rangga menatap Senja yang duduk terpaku.
“Aku menyayanginya, Ngga”, ucap Senja dengan wajah mengeras kaku. “aku tak akan membiarkan dia menderita”
“Lalu..?”
“Entahlah..” jawabnya. “ Aku ingin meraihnya, tapi rasanya ia semakin tak mampu ku raih. Tahukah kau bagaimana sedihnya aku melihatnya harus menjalani kehidupan yang diberikan padanya? Bisakah kau rasakan sakitnya hatiku saatnya melihatnya menangis?”
Rangga terdiam, “Lalu..?”
“Aku sungguh menyayanginya. Aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini aku cari-cari. ia memiliki semua hal yang aku inginkan. Ia, benar-benar mirip denganku. Mengapa demikian rumit takdir? Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang yang aku cari, tapi di saat itu waktuku semakin habis”

Rangga tak lagi mendengarkan kata-kata Senja. Angannya mengembara. Menjelajahi sebuah masa.


***
“Apakah aku tak layak dicintai?,” Tertunduk wajah Jingga. Menekuri alas kakinya. “Apakah benar aku tak layak dicintai?”
Di sampingnya Senja terpaku. Memandangi lalu lalang orang-orang yang berjalan dengan bergegas. Ia tengadahkan wajah dan mengusap-usap wajahnya dengan gelisah. Memandangi pohon beringin yang tumbuh dengan besar di atasnya, melindungi mereka dari sengatan garang lidah sang surya.
Terjebak pada sebuah labirin kebingungan. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Senja menghela nafas dan menghembuskannya dengan keras.


kau adalah cinta pertama dan terakhirku….

Senja terjaga dari mimpinya. Butir-butir keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Perlahan ia meraih gelas di atas meja dan meneguknya hingga tak bersisa.
Kalimat itu, terus mendengung di kepalanya. Menghadirkan titik-titik embun di wajahnya. Menyeruak perih dan mengiris perasaannya.

Kenangan bersama Jingga menghantuinya. Tawanya, senyumannya, dan yang tak kan pernah ia lupakan adalah tangisannya.
Betapa bahagia saat mereka masih bersama. Tertawa riang menikmati udara pegunungan yang basah berhias deretan pohon pinus yang tegak menjulang. Masih jelas di kelopak matanya, kala hujan mulai turun rintik-rintik dan semakin menderas, dengan langkah gontai letih menahan sakit dari kaki-kaki yang terkilir, namun tawa riang tetap menghiasi mereka.

Mendengar tawanya. Merengkuh bahunya dan menghindarkannya dari kerumunan para pria. Mengusap dengan kekhawatiran wajah pucatnya kala suatu waktu ia mengajak Jingga mengunjungi tempat wisata dan menaiki wahana ekstrim yang ada di sana. Semuanya masih terasa. Menyiksa.
“Allah, betapa aku meyayanginya”, desis Senja.

Sesak.


***
TIGA,

Sleman, oktober 2004
Nanar Jingga menatap Rangga dengan penuh rasa tak percaya.
“Iya, kita sudah selesai. Aku bukanlah orang yang baik untukmu..”, Rangga menatap Jingga.
“Tapi aku mencintaimu, Ngga”, Tukas Jingga. “Kenapa kau tega sekali padaku? Kau hempaskan aku setelah kau buat aku mencintaimu!”
“Sudahlah. Aku bukan yang terbaik”, lanjut Rangga,
“Tahukah kau, kau adalah cinta pertamaku. Denganmu pertama kali aku merasakan cinta. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kurasakan”
“Lupakanlah..”
“Jangan mengatur perasaanku..!”


Rangga tersentak dari lamunannya ketika Senja bangkit dari duduknya dengan keras.
“Ayo!”, ujarnya
“Kemana?”, Tanya Rangga berusaha menjajari langkah Senja.
“Makan!”
Rangga tak lagi mengusiknya. Berjalan mereka mengikuti langkah kaki menjauh meninggalkan cakrawala yang kuning memerah jingga. Senja merapatkan jaketnya berusaha menghalau dinginnya angin mulai yang bertiup menerpa tubuhnya. Memandang jauh ke depan dengan langkah perlahan.

END







Wira Garden,
7 december 2009
*Begitu gampangnya lisan berkata kalimat yang sama. apakah kata hanya sebuah rangkaian huruf tanpa makna yang bisa dengan mudahnya diucapkan kapan saja dan pada siapa saja?
ah, mungkin beginilah hidup di dunia."

Serpihan Hitam

Aku beringsut. Berupaya terus berlindung dan bersembunyi dari tatapan garang matahari yang dapat menghancurkan tubuh legamku. Namun pohon-pohon tempatku bersembunyi terus bergerak ke sana ke mari karena dorongan tangan angin pada tubuhnya.
“aduh!” aku terpekik ketika lidah panas matahari menyelinap dari balik dahan, ranting, dan dedaunan, dan menjilat tubuhku.
Gerakan angin yang semakin kencang menggoyang tubuh pepohonan seolah menyemangati matahari untuk meraih tubuhku dan menghancurkannya menjadi serpihan kegelapan kecil.

Aku beringsut. Bergerak berupaya mengimbangi kemana arah gerakan pepohonan tempatku berlindung. Menghindari matahari yang ingin melumatku hingga habis.
“Hei! Angin, berhenti sejenak. Jangan kau goyang-goyang pohon ini. Biarkan aku beristirahat sejenak di sini hingga waktuku tiba,” ucapku pada angin yang terus saja menari-nari pada lengan dan jari jemari pohonan.
“tak bisa. Ini takdirku. Maafkan aku,” sahutnya.

Ku pandangi wajah letih temanku-temanku. Tapi keadaan mereka lebih baik. Rumah yang berdiri kokoh, gedung tinggi menjulang, mobil yang diam dalam parkiran, dan benda besar diam lainnya membuat mereka dapat berlindungan dengan tenang dari garangnya tangan-tangan sang surya. Ku lirik pula sebagian teman-temanku yang lain, yang tak jauh berbeda nasibnya denganku, si Legam yang berupaya berlindung di balik tubuh-tubuh manusia yang berjalan dengan tergesa, juga si hitam yang mengikuti benda atau siapa saja yang dapat melindunginya dari kejaran sang surya.

“hei, Gam. Cepat kemari,”, teriakku padanya “mumpung pak abu sedikit menutupi mata sang surya. Berlari ke sini. Cepat”
“kau terlalu jauh, Darky. Aku bisa hancur dan menghilang sebelum sampai di tempatmu”, sahut Hitam dengan berteriak pula. “kecuali…” lanjutnya
“kecuali..?”, kejarku
“kecuali manusia yang melindungiku ini bersedia mengantarkan aku ke tempatmu”
Kami terdiam. Tak ada suara kembali.

Itulah kami. Aku si Darky, Legam, dan Hitam, adalah bagian dari kegelapan maha dasyat pada takdirnya. Namun menjadi lemah dan terpecah menjadi serpihan kegelapan kecil yang mereka sebut bayangan. Tubuh kami gelap menghitam. Dunia kami adalah malam hari, ketika sang surya menuruni cakrawala untuk kembali ke peraduannya. Saat dimana kami akan bersorak sorai gembira dan bersenandung riang bersama penghuni malam lainnya.

Saat dimana cahaya matahari tak Nampak. Yang ada hanyalah cahaya-cahaya yang berasal dari lampu buatan tangan-tangan manusia. Itu sama sekali tak mengganggu kami, bagaimana pun terangnya cahaya lampu-lampu dengan aneka bentuk dan warna itu, tak kan pernah dapat mengalahkan kami. Karena kami adalah penguasa dunia malam, kegelapan.

“hayo tebak, esok hari cerah atau mendung kelabu?” ujar Hitam
“Mendung kelabuuuu!!!”, jawab kami berbarengan
“huuuuu… ngareeep” cibir Hitam lagi
“lohh..jadi? tanyaku. Hitam kembali terkekeh sembari berlari menghindari lemparanku

Itulah tema-tema kami setiap malam. Tema yang sama setiap malamnya. Kami akan bermain tebak-tebakkan tentang kondisi esok hari, apakah mendung atau akan bersinar dengan cerah. Tentu saja kami selalu berharap hari akan berselimut mendung dan kegelapan, sebab kami tak kan letih berkejaran dengan matahari.
Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah, karena itu menyakitiku, menyakiti kami prajurit malam. Langit yang cerah membuat kami harus menyingkir jauh ke dalam hutan, bersembunyi di balik tubuh manusia dan benda apa saja yang dapat melindungi kami.

Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah. Karena itu menyakiti tubuhku. Tubuh kami yang legam , gelap dan hitam..
Aku tak menyukai langit cerah dengan warnanya yang indah biru..

“Aku tak suka langit cerah,” gumam hatiku…

Titik

…….!!!!


………………………………………………………………,
……………… …… …………… ……………… …………… …………………………………… ……… …… ………………… ………… …………… …………… …………………… … ………
“……. ………………… … ….. ……………”
“…………..?”
………… ………… …………………… …… ……………… …………………… …… ……………… ……………… ……………………………… ……… ………… …… … ……………………… …………… ………………… ………………… …………… …… ……… ……………… …………………… …………………… …………………

… …………………

…………… …… ……… ……………… ……… …………… ……… …………………… ……………… ……………… …………… ……………… ………
“…. …………….. ……………………”

…………………
…………………………
…………
…………………… ……………


…………… ………… ……… ………………… ………… …… ………………………
…………………… ……… ……………………… …… ……… ……………… ……… ………………… …………………
…………
………………… ………… ……… ………………
……… ………… …………
…………………

“……….. ………………. ….. …………… … ….. …… ……”, (…….. ………….. …….. ………… ……………….. ….)
“…?”
“…………….!!”
“……!”
………………… ………… ……… ……………… … …….. ………………

“…………”
“…… ………… …………………….. ….”

………… ……… ……… ……………………………
………………………
………

………………………………………………………………,







Well,.___
Merasa sulit membaca dan merasa penglihatan salah?
U r rite! Memang ada masalah dengan mata anda. Segera periksakan ke dokter, setelah itu datang kembali untuk membaca ini *kalo bisa :-P

Private Message

Pusing. Barisan angka-angka yang menunjukkan ketidakimbangan terpampang pada layar monitor komputer di depannya. Laporan keuangannya gak balance. Kepalanya terasa berputar-putar dan diikat erat.

Pupil mata Dinda tertumbuk pada jendela pesan yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Halo Tita, lagi apa?”
Hahahaha! Seketika Dinda terpingkal-pingkal, lupa pada sakit yang sesaat lalu seperti hendak membunuhnya.
Buaya!, umpat Dinda dalam hati.


***
1 private message!

hai! Boleh kenalan?,
Isi pesan itu, singkat.
Perlahan jari-jarinya bermain pada benda mungil teman setia netbooknya. REPLY.

Sebuah pesan singkat yang diterima Dinda ketika mengawali pagi hari itu. Berlanjut dengan private-private message pada hari-hari berikutnya. Seadanya ia balas pesan itu, malas. Pasti tak beda dengan pesan-pesan serupa lain, fikirnya, pesan dari laki-laki tipe tebar pesona.
Kenalan, menanyakan aktivitas, kuliah dimana, kerja dimana, dan lain-lain… dan lain-lain.

Suatu waktu,
“Tita Hulwa”, jawab Dinda suatu waktu, kala si Arjuna (nama ID itu) menanyakan namanya.
“Wah, nama yang bagus. Tapi nama saya juga gak kalah bagus, lho. Ahmad Mukhlis”,
Sapa yang Tanya, cibir hati Dinda.

But,..

“Whaaaaaattt…?!*&^%$”, “Ahmad Mukhlis?! Ohohohoh… it’s impossible!”,
Mata Dinda membeliak selebar-lebarnya seolah hendak melompat menggelinding jatuh ke lantai. Ia baca kembali pesan pribadi itu dengan seksama. Gak salah, Ahmad Mukhlis!.


***
Beranjak bergegas Dinda menuju kamar mandi, berwudhu. Lepas berkomat kamit dengan beberapa untai doa dan harapan yang digantungkan kepada Penggengga Semesta. Dinda beringsut ke atas kasur, meraih ponselnya, lalu mengetikkan sebuah alamat website sebuah komunitas.

4 private messages, berkedip-kedip di layar inboxnya

# Helo dear?
Banguuuuuun, udah pagi…
Sholat subuh, Tita..


Udah kaleee, bos!, celetuk Dinda sembari terkekeh, sadar jika kata-katanya tak kan terdengar.


# Tita, kok pesan-pesanku gak dibalas? Marah ya, Ta?

# Tita, apa kabar? Lagi sibuk ya?
Lama gak liat tulisan Tita. Online dong, Ta.

# Ta, boleh aku minta nomor hp dan pic kamu?


Brukk!
Tita menjatuhkan diri terlentang dengan malas di atas kasurnya, masih dengan mukenanya yang tak sempat ia lepas. Ngantuk.


***
Seminggu sudah, akhirnya Dinda kembali setelah sepekan lamanya meninjau lokasi proyek, melakukan audit data-data keuangan berkaitan dengan laporan keuangan yang ia terima tak balance kondisinya.

Dinda teringat sesuatu. Ia raih netbok dari dalam tasnya, menghidupkan dan memasang modem. Beberapa detik kemudian jari jemarinya telah lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard.
Facebook, Twitter, Email, Blog, dan tak lupa ia ketik sebuah website dimana ia bergabung di dalamnya sebagai seorang member.


Assalamu’alaykum warohmatulloh..
Alhamdulillah kabar baik, sehat. Maaf tak membalas pesan karena memang tak sempat untuk membalasnya. Dan alasan kedua, karena malas membalasnya.
Dinda terkekeh, tentu saja kalimat terakhir tak ia ketik.

Well,..
Terima kasih atas apresiasi dan perhatianmu pada tulisan-tulisanku. Cukuplah bila kau menyukainya dan memperoleh pelajaran dari apa yang kutulis. Dan cukup buatku, tak perlu rasanya aku dapatkan pujian yang aku rasa terlalu berlebihan buatku.

Tentang nomor hp. Jujur saja, aku sama sekali tak punya no hp. Mungkin terdengar naĂŻf atau sepertinya berbohong ya, but begitulah..
Aku tak merasa perlu berbohong untuk hal ini. Lagi pula meski aku memiliki no hp, aku pun tak kan memberikannya padamu. Dan ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya dirimu.
Rasanya hidup lebih tenang tanpa berkomunikasi dengan orang lain untuk hal-hal yang tak perlu dan mungkin hal yang tak penting.
Mengapa? Mmmm,.. rumit penjelasannya dan lagi pula rasanya bukan hal yang harus aku jelaskan padamu.

Tentang foto,..
Sorry, aku tak bisa. Dan pula aku tak biasa..
Rasanya terdengar sombong ya? Biarlah, Tak mengapa.. :D

Well,..
Rasanya pertemanan tak harus membutuhkan deretan angka-angka nomor hp atau sebuah foto manis, iya kan?
Rasanya akan lebih tenang dan nyaman,..

Oke,
Aku harap kamu mengerti dan kamu pasti mengerti.
Aku masih tetap bisa menjadi teman yang baik, meski tanpa foto dan nomor hp. Itu jika kau masih berniat berteman denganku ;)

Well,..
Wassalamu’alaykum



Ia arahkan kursor pada fitur SEND. Dinda tersenyum. Long_life atau Tita Hulwa, begitu Arjuna atau Ahmad Mukhlis mengenal Dinda, sebagai sesama member. Arjuna mungkin tak menyadari bahwa Tita atau Dinda mengenalnya dengan baik. Ahmad Mukhlis, Seorang Manager SDM pada sebuah perusahaan pembiayaan nasional yang sama dengan Dinda, hanya berbeda wilayah kerja. Pria beristeri dan memiliki 3 orang putra.

Dinda termenung, teringat tiap kata-kata yang diucapkan seorang laki-laki berlagak innocent yang mengaku bujangan yang tertarik padanya, Arjuna.
Dinda tersenyum simpul. Buaya!,

Tiba-tiba Dinda tersentak meringis dan setengah berlari keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, saat ia rasakan ada sesuatu yang bergolak dari perutnya.

Bapak Tua dan Sepeda Angin

Tutuplah matamu
Dan, Cobalah merasakan dengan jiwamu…


Terpaku aku. Menyaksikan sosok renta itu. Di tengah gerimis hujan yg turun, lekat ia pandangi kami. Ahh, bukan! Ia memandangi motor yg kami kendarai lalu ia edarkan pandangannya menyusuri detil demi detil motor yg kunaiki. Ia pandangi kendaraannya dan kendaraan kami bergantian. Kuterus mengikuti arah pandangannya..

Setitik iba menyeruak. Sama seperti ia. Ku pandangi kendaraannya. Sebuah sepeda angin yg sudah sangat tua. Berkarat. Kususuri setiap detilnya dg seksama, sembari sesekali kupandangi wajah keriput itu. Sosok tua di balik raincoat yang melindunginya dari sergapan air hujan yg semakin menderas. Bukan raincoat dari bahan berkelas. Namun hanya selembar plastik transparan yg ia bentuk menjadi sebuah jaket pelindung hujan…

Ahh, kulihat ia memandangi lg motor yg kunaiki. Tatap itu…

Tak lebih dari satu menit. Hanya semenit saja.Tapi, semenit itu menghadirkan berbagai macam rasa yg mengaduk2 perasaanku. Iba..haru..bangga padanya. Bahkan sempat terbersit sebuah lintasan ‘gila’ di kepalaku. Ingin turun dari atas motor dan mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk di sana mengendarainya. Sejenak merasakan nyamannya kendaraan yang sedari tadi ia tatap tanpa berkedip…

Hanya sebuah lintasan. Motor ini bukan milikku. Bahkan aku pun hny seorang penumpang sementara yg mendapat tempat di atas sini setiap pagi dan sore hari…

‘Mengapa TUHAN tak adil,?!’ terlintas ucap di hatiku saat melihat ‘kejomplangan’ yg terpampang di depan mataku..
mgkn sebagian atau banyak dari hamba-hamba TUHAN lainnya yang seringkali berfikir seperti yg sempat melintas di alam fikiranku. Sedetik kesadaran membawa lisanku dalam dzikir istighfar. Menyadari betapa piciknya lintasan yg muncul…Materialistis!

Kita tak pernah tau siapa yg lebih bersyukur terhadap setiap perkara yg alloh gariskan dalam hidup. Mungkin, bapak tua renta dengan sepeda angin tuanya lebih mulia, karena ia selalu bersyukur dan qonaah dg takdir hidupnya. Di bandingkan dg aku dan sebagian orang lain yg mendapat kemudahan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi yg melimpah, namun seringkali tak memaknainya dengan seharusnya. Terlena oleh gempita dunia yg penuh warna.

Aku tersadar dari fikiranku. Ku giring lisan mengucap istighfar dan menghalau fikiran yang menggugat takdir . Syukur dan sabar. Terima dg qonaah setiap apapun yg alloh beri

TUHAN…
Give me a strength..
Beri aku kekuatan untuk tetap selalu berbaik sangka terhadap segala sesuatu yg KAU gariskan dalam jenak hidupku..

Banyak hal yg tak kusukai. Banyak yg tak sesuai inginku. Membawaku tanpa sadar menjadi kufur nikmat.

Tapi aku ingin belajar melebur…terus. Menerima semua dengan senyum dan kesabaran…

Traffic light berwarna hijau..kendaraan yg membawaku bergerak maju berbaur bersama yg lain. Kuputar kepalaku melihat kebelakang. Kulihat ia berusaha memacu sepedanya perlahan, berbaur bersama kendaraan lainnya.
Perlahan mengayuh. Berhati-hati atau mungkin letih.

I'm Not Your Friend

“I’m not your friend”
“You are”
“No!, I’m not. Never!”
, lanjutnya dingin, lalu beranjak pergi

Lintasan bayangan berkelebat. Sepotong kejadian yang mengiringi kepergiannya.

Zeda merapatkan jaketnya yang sedikit terbuka. Udara pegunungan yang menusuk kulitnya membuatnya menggigil dengan geraham merapat. Titik embun masih setia bergelayut manja pada daun dan semak.


* * *

”Oke! Semoga pekan depan sukses ya.” Ucap seorang laki-laki berkacamata minus di hadapannya. Zeda tersenyum.

Selangkah lagi, Senyum Zeda

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasa mual, pandangannya mengabur dengan rasa sakit yang tiba-tiba dari kepalanya. bruukkk!!
Masih sempat ia dengar teriakan histeris membahana di telinganya. Gelap.


* * *

Sejak hari itu Zeda mulai menarik diri dari pergaulan dan lingkungannya. Hari-hari di laluinya dengan dan dalam diam. Perubahannya menimbulkan tanya. Tak ia pedulikan tatapan heran teman-temannya. Tak ia gubris tiap pertanyaan yang dilontarkan. Tidak pula dengan Juna.

”Ada apa dengan lu, eh?”, Juna menarik kerah Zeda
”Nothing....”, Jawabnya singkat

Juna memandangi Zeda yang tetap sibuk dengan aktivitasnya menyusun perlengkapan pendakiannya. ”We are friend…”, Tepuk Juna pada bahunya


* * *

Perlahan ia mengeluarkan lipatan kertas dari balik jaketnya. Lembar hasil ujian dengan sertifikat ’sangat memuaskan’ dan,..................hasil diagnosa kedokteran. Kanker otak.

Apakah begini perilaku takdir? Ia datang tanpa diminta. Dan apa yang diminta tak kunjung tiba.

Aku bukan pengecut yang lari dari kenyataan. Hanya saja aku perlu waktu untuk sendiri saat ini. Belajar memaknai hidup dan belajar bersahabat dengan takdir. Menerima kenyataan bahwa hidupku hanya tinggal menghitung hari.


Perlahan Zeda melangkahkan kaki menuruni bukit dengan tekad dan ketegaran yang terpatri dalam jiwa.

Tapi, Aku tak kan menyerah. Tidak!
TUHAN,.. Ajari aku

Pejuang Kehidupan

Pagi itu, pekan pertama di bulan November.
Jalanan masih basah akibat hujan deras yang turun sejak subuh.

Pandanganku tertumbuk pada sesosok tubuh, seorang laki-laki yang telah lanjut usia. Dengan kendaraanya berjuang di antara puluhan motor lain yang terjebak pada kemacetan yang sama. Terseok vespa miliknya merayap maju mengikuti langkah kendaraan lainnya. sebentar berjalan, sebentar kemudian berhenti. Mungkin letih karena usia tuanya yang mungkin telah setua pemiliknya.

"woii,.. maju oi!!”, ucap seorang pemuda di belakangnya, setengah berteriak. sang bapak hanya tersenyum kecil.

kurang ajar. anak gak sopan!
, umpat hatiku kesal mendengarnya.

Ia menyeka keringatnya. terenyuh aku saat menyaksikan perjuangan bapak tua itu memacu kuda tuany, yang lebih mirip tumpukan besi tua berkarat daripada sebuah motor. Terharu melihat senyum yg tetap ia tampakkan di tengah keringatnya yg jatuh satu satu...

Aku hanya bisa memandang. Mencoba meresapi makna dan sajian ayat-ayat kauniyah di hadapanku. Mencoba mengukir syukur dg berdoa, 'Yaa Rabb...jadikan keringatnya sebagai pahala. Limpahkan kemudahan dan karuniai keberkahan disetiap letih perjuangannya...'

Bapak tua itu mengingatkanku pada sosok laki-laki yang mungkin usianya tak jauh berbeda. Laki-laki yang telah menghabiskan hidupnya dengan peluh keringat demi kehidupan orang-orang yang ia cintai. Laki-laki yang seringkali kulihat terduduk diam termenung dalam hening dan kegelapan ruang tamu rumah kami. Bapakku.

Setetes air bening jatuh menuruni wajahku yang masih memandangi jalanan padat itu. Perlahan motor yang membawaku bergerak maju menjauhi sang bapak. Jalanan yang menggoreskan hikmah dan makna untukku di pagi yang basah ini.

Dalam Dekapan Cinta

Persil 1

Dimas Bramantyo…

Kupandangi punggung kokoh yang tengah sibuk dengan pekerjaannya itu. Dua bulan pernikahan kami, namun aku masih belum mampu menyelami dirinya, hidupnya.
“mas..”
“hmmm..” jawabnya tanpa mengalihkan padangannya dari kertas-kertas dihadapannya
“makannya nanti saja setelah ini selesai. Mas harus selesaikan laporan ini segera..” ucapnya sembari mengusap kepalaku, lalu kembali sibuk dengan laptop dihadapannya.

Ah, bukan itu mas. Ucapku dalam hati.

Aku tahu mas Bram seorang pekerja keras. Dia tak kan berhenti sebelum apa yang ia kerjakan dapat ia selesaikan. Tapi, tak adakah sedikit waktu buatku, hanya sedikit.

Beranjak aku meninggalkannya. Setitik air jatuh di pipiku. Segera ku tepis. Ah, manja..


Persil 2

Mas Bram sedang dinas, mengawasi proyek perusahaan. Aku terpekur diam, mengingat kembali pernikahan kami. Sudah dua bulan pernikahan kami dan tiga bulan sejak perkenalan kami. Perkenalan yang singkat, lalu pernikahan terjadi.

Kami memang tak pernah mengenal dengan baik satu sama lain sebelum menikah. Pernikahan kami terjadi atas peranan keluarga besar. Mas bram yang merupakan putera dari sahabat kakekku. Tak banyak pertimbangan yang kami lakukan. Sama-sama siap menikah dengan niat beribadah, berbakti pada orangtua dan menggenapkan separuh dien.

apakah mas Bram mencintaiku?

Berkali-kali kalimat itu berdengung dalam hatiku. Yah, hanya sampai pada ujung tenggorokanku.

Bosan. Kucoba mencari kesibukan dengan melihat-lihat koleksi buku yang ada di ruang kerja mas Bram. Tak ada niat untuk membaca. Sungguh aku bosa, tapi tak tahu apa yang hendak kulakukan. Bergantian kubuka satu demi satu buku yang tersusun rapi.

Mataku tertumbuk pada sebuah amplop putih yang terselip di antara buku-buku. Sejenak kupandangi dan perlahan ku buka. Selembar foto di dalamnya membuatku terpaku.


Persil 3


”apakah mas Bram mencintaiku..?”
Akhirnya kalimat itu meluncur dari bibirku

Dengan ekor mataku, aku meliriknya. Mas bram hanya diam. Sedetik kemudian ia tersenyum seraya mengacak-acak rambutku.

”tentu saja. Kamu istriku. Yuk, ke depan..” Jawabnya seraya merengkuh lenganku menuju teras, tanpa menghiraukanku yang hendak bertanya kembali.


Persil 4


”mas,..”
”pernah mencintai orang lain sebelum menikah denganku?”
Tanyaku lagi di suatu waktu
”hmmm...kenapa?”
Kuangsurkan sebuah amplop putih padanya. Amplop putih yang membuatku menangis bila memandanginya.

“Nay..” ucap Mas Bram tertahan..

Aku diam tertunduk, menahan airmataku yang hendak tumpah dari kelopaknya. Tak ada suara. Hening. Tak tahan dengan sesak, aku beranjak meninggalkan mas Bram.

”Nay..” panggil mas Bram seraya mengetuk pintu kamar mandi

Aku menangis terisak. Ternyata mas bram tak pernah mencintaiku. Dia mencintai wanita lain, dan masih mencintainya. Indah, nama wanita cantik dalam amplop itu. Betapa mas bram masih mengingatnya dengan menyimpan rapi fotonya.

”Namanya Indah. Kami teman satu jurusan dan bersahabat hingga saat ini. Ia wanita yang cantik, cerdas, dan periang.”
Aku tergugu pilu mendengar mas Bram bercerita. Iya, wanita itu memang cantik. Sangat.
”Aku menyukai kepribadiannya. Bahkan sempat ada rencana kami akan bersama”
”tapi..”, Mas Bram terdiam

”Nay...entah apa itu cinta. Aku tak mengerti dan tak ingin terlalu memikirkannya. Mungkin aku mencintainya. Entahlah..”
Perlahan mas Bram merengkuh bahuku. Aku biarkan dengan diam.
”tapi..yang aku tau. Engkaulah cintaku. Kewajibanku dengan mengangkat sumpah atas nama Alloh denganmu, pilihan hidupku, dan sahabat jiwaku hingga nanti aku tua”
Kami duduk bersandar pada dinding dapur dengan diam. Aku tak tahu harus berkata apa.
Kurasakan tangannya yang kokoh mengusap kepalaku. Tak ada yang bersuara.

”Nay..cinta adalah kesiapan untuk mengambil amanah dan bertanggungjawab. Dan Nay lah amanah itu”

Hening menyelimuti kami yang terduduk dengan fikiran masing-masing. Perlahan kurasakan hatiku menghangat. Ada sesuatu yang tumbuh dari sudut hatiku. Entah apa itu.

”Nay..”
Mas Bram berkata dengan sedikit terkejut serta memandangiku saat kulepaskan tanganya dari kepalaku.
”Maaf mas,..” ucapku terisak dengan irama yang semakin kencang
Perlahan kurasakan tangan kokoh mas Bram merengkuh kepalaku kedadanya, membuat tangisku semakin pecah. Menyadari betapa bodoh dan kekanakannya diriku selama ini. Betapa aku meragukan dirinya dan sempat berfikir dan menyesali pernikahan ini.

Mas bram merenggangkan pelukannya dan mendongakkan wajahku dengan daguku dengan jari-jarinya..
”hehehehehe...jelek!”, tawanya sembari mengusap airmataku dan menepuk-nepuk pelan kepalaku.
Lama kami saling berpandangan. Melengos aku mengalihkan wajahku yang terasa panas memerah.
”hehehehehe...”, kekeh mas Bram semakin kencang melihatku

Kami tetap berpelukan dengan nada dan irama di hati kami yang perlahan menghangat.

Ah, cinta. Aku tak ingin terlalu memikirkannya. Waktulah yang akan mengajari kami arti cinta yang hakiki. Namun ku mulai mengerti, bahwa cinta akan tumbuh bersama niat dan kesiapan untuk bertanggungjawab.

Labirin Hati Sile

”Kau memang pantas menyesal!!”

Tertegun ia memandangi layar pesan yang baru saja ia baca


-cluster 1-

Hening. Sile terdiam dalam rasa yang berkecamuk.
Teringat betapa dinginnya Insi saat ia menyapanya.

”Setelah semua terjadi, setelah sakit yang ku derita, setelah kau campakkan aku begitu saja. Rasanya ini memang pantas kau dapatkan. Pada awalnya Adib tak lebih sekedar teman buatku. Tapi kau campakkan aku yang memohon padamu. Dan pada akhirnya aku menerimanya”..
”aku tak mau kehilanganmu, Insi”, terbata Sile menjawab
”Sudah terlambat. Terlambat, Sil. Dan aku berterima kasih kau telah mencampakkanku. Kau benar, ia memang lebih baik daripadamu. Bersamamu, aku tak lebih perempuan tak berharga yang selalu memohon cintamu. Bersamamu aku merasa kerdil karena tak pernah kau tunjukkan perasaanmu”

Sile terpaku. Menyadari betapa dingin suara itu. Betapa angkuh suara yang dulu begitu hangat baginya.

”Kau tau, Sil. Berapa lama ku menunggumu, hingga asaku hilang dan hatiku mengeras?”
”Kau tau bagaimana sakitnya aku, eh?!!”, ucapnya lagi hampir berteriak
”Aku tak mau kehilanganmu, Insi”
”Entahlah. Jangan lagi mengharapkanku, agar kau bahagia. Selamat tinggal”


-cluster 2-

Betapa cemburu dan amarah telah membuatnya buta. Sile terpaku memandang celoteh riang gerombolan angsa yang berenang dalam kolam di hadapannya dengan fikiran buntu.

Menyesal.
”aarrrrrrrrrrrrrrrrrgggg!!!!!”


Masih teringat ia pada percakapan siang itu. Ketika Insi datang padanya bercerita.
”Kemarin Adib bilang pernah menyukaiku, dan sekarang ia meminta aku jadi adiknya”
Ku perhatikan Wajah Insi yang semakin lucu saat ia bercerita. Calon istriku.
....
...........
.......

Kepalaku memberat. Mulutku terkunci. Tak ada suara yang mampu hadir saat itu. Aku terjebak dalam labirin rasa. entah.
Perlahan timbunan amarah dan ketakutan yang selama ini selalu ku redam bangkit. Getir.
Ku masih belum bersuara. Hanya tatapan kosong dan hati yang perlahan terluka. Pedih.

Ku tahan tangis yang hendak pecah. Tidak!, Aku laki-laki, pantang buatku menangis.
”lalu, jawabanmu apa?”, tanyaku kemudian
”tidak kujawab”


- Cluster 3 -

Demi Tuhan. Aku benci ada orang lain yang menginginkan Insi sebagai orang terdekatnya. Tapi aku pun tak tega menghapus binar matanya. Insi memang terlahir sebagai anak tunggal. Tak ada figur kakak yang dikenalnya. Sedangkan aku, hingga saat ini tak mampu menjadi laki-laki yang bisa ia banggakan. Aku kaku, tak pandai berkata-kata, tak pandai mengungkap rasa. Bagiku, jika Insi bahagia, aku menerima.

Meski perlahan hatinya terluka, Sile tetap berusaha tersenyum di hadapan Insi. Melihat senyum hangatnya, Sile pun tersenyum.
Tapi tak mampu ia hindari, luka yang ia redam membuatnya beku. Perlahan ia mulai menjauhi Insi.

Tak ia pedulikan rengkuhan dan permohonan Insi agar ia tak beranjak pergi. Namun labirin hati Sile sungguh rumit. rasanya tak sederhana saat melihat Insi tertawa riang dalam canda bersama orang lain.

Hingga waktu berlalu. Tak pernah ia melupakan Insi. Baginya Insi adalah satu-satunya hal paling berharga.

Bayangan kenangan berkelebat. Senyuman Insi, tawanya, gerak lucunya. Semua mengikutinya kemana ia pergi. Betapa hebat cinta yang Insi tanamkan.

Perlahan Sile beranjak. Tegak ia tatap langit biru, mencari asa.
Takdir. Begitu rumit. Kehilangan adalah bagian hidup yang sangat berat. Ketika apa yang disayangi pergi dan tak lagi mampu digenggam

Entah bagaimana, tapi melebur dengan takdir dan mengikuti arus yang ditentukannya, mungkin lebih baik.
Satu persatu tapak kakinya melangkah, mengikuti garis takdir bersama kenangan di sampingnya.

sayup bait nada mengiringi langkahnya
Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan KuasaNYA bagi hambaNYA yang sabar
Dan tak kenal putus asa....
Jangan menyerah...

tersenyum..