Mei 15, 2010

Boleh Jadi Bukan Karena Doa Kita


Suatu hari dua orang pemuda terdampar pada sebuah pulau terpencil. Hampir seharian mereka duduk di tepian pantai, berharap ada kapal yang lewat sehingga mereka dapat menumpang atau tim penyelamat menemukan mereka.
Beberapa hari berlalu, kapal yang mereka harapkan tak jua datang, pun pula dengan tim penyelamat.

Mereka lalu berfikir, bahwa mereka harus bertahan hidup. Lalu kedua orang pemuda sepakat untuk membagi pula menjadi dua bagian. Pulau pada sisi barat adalah milik pemuda A, dan pulau pada sisi timur adalah milik pemuda B. Lalu mulai lah mereka menjalani hidup di pulau tersebut sembari terus berharap bantuan segera datang menyelamatkan mereka.

Hari terus berlalu. Pemuda A telah membangun rumah sederhana, begitu pula pemuda B. masing-masing mereka pun bercocok tanam demi kelangsungan hidup mereka.

Berbulan telah mereka lalui. Pemuda A mulai merasa bosan dan merasa kesepian. Lalu ia pun berdoa kepada Tuhan agar diberikan seorang pendamping hidup. Suatu hari ketika hendak memancing ikan di laut, pemuda A menemukan sesosok wanita terdampar pingsan di tepi pantai. Lalu bergegas ia menolongnya. Beberapa waktu berlalu, akhirnya wanita tersebut menjadi pendamping hidup pemuda A.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak-anak yang lucu.

Pemuda A yang telah memiliki istri dan anak-anak, terus berharap agar dapat ditemukan oleh tim penyelamat atau ada kapal yang lewat di pulau tempat mereka tinggal, hingga mereka dapat keluar dari pulau terpencil tersebut. Lalu berdoalah ia kepada Tuhan, memohon agar keinginannya dikabulkan.

Beberapa waktu berlalu hingga suatu hari sebuah kapal nelayan melewati pulau tempat pemuda A dan B terdampar. Dengan serta merta dan penuh suka cita pemuda A berlari memberikan tanda meminta bantuan.
Setelah pemuda A dan keluarganya sampai di atas kapal nelayan tersebut, bertanyalah nahkoda kapal kepadanya, “apakah masih ada orang lain yang terdampar selain dirimu dan keluargamu?”
“ada. Seorang pemuda yang tingga di sisi timur pulau ini,”jawabnya,
“baiklah. Kita akan menemuinya dan mengajaknya serta,”
“untuk apa?,” tanya pemuda A, “setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengirimkan bantuan dan menolongku keluar dari pulau ini. Setelah datang pertolongan mengapa harus mengajaknya?,” lanjutnya,

Setelah sampai pada sisi timur pulau, dimana tinggal seorang pemuda B, bertanyalah sang nahkoda kepadanya, “temanmu, pemuda A berdoa agar diberikan tempat tinggal, makanan, anak, istri, dan pertolongan kepada Tuhan, lalu semua itu IA kabulkan. Sedangkan dirimu, tetap saja hidup sendirian dan bila aku tak bertanya pada pemuda A itu mungkin kau akan tetap ada di pulau ini,” “apakah doamu tidak dikabulkan Tuhan?,”

“tidak!,” jawab pemuda B, “semua doaku dikabulkan Tuhan”
“lalu?,” kejar sang nahkoda, “mengapa kehidupan kalian berbeda? Memangnya apa doa-doamu yang dikabulkan Tuhan?”
“setiap hari dan setiap saat aku hanya berdoa dan meminta kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan kemudahan dan mengabulkan semua doa yang diucapkan oleh saudaraku pemuda A yang tingga di sisi barat pulau ini”

Sang nahkoda, pemuda A, dan beberapa awak kapal pun tertegun,



Sahabat, adik, dan kakak,
Seringkali kita mungkin merasa sombong atas nikmat dan kemudahan dalam hidup kita,
Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita peroleh adalah karunia dan kemurahan hati Tuhan kepada kita,
Namun boleh jadi,
Nikmat, karunia, kebahagiaan, kemudahan, dan segala yang diberikan Tuhan dalam hidup kita,
Bukanlah karena kesholihan kita,
Bukanlah karena doa-doa yang kita lantunkan,
Namun,
Boleh jadi semua itu hadir,
Karena keridhoan Tuhan atas ikhlasnya orang lain berdoa untuk kebaikan kita tanpa kita ketahui,
Doa-doa yang terlantun dalam diam dan hening,
Yang tak nampak dan tak terdengar oleh gendang telinga kita,
Doa orangtua, doa adik, doa kakak, atau doa sahabat yang dengan tulus ikhlas mendoakan segala kebaikan bagi kita,

Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits dari shahabiyah Ummud Darda` :
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Dasyatnya sebuah doa kebaikan yang tak diketahui oleh yang didoakan. Ketika Tuhan memerintahkan tugas kepada malaikat, khusus hanya untuk mengaminkan doa-doa seorang muslim bagi muslim lainnya. Bahkan malaikat pun ikut mendoakan kebaikan yang sama bagi mereka yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya yang lain, dengan batas, selama doa tersebut tak diketahui oleh saudaranya yang didoakan,

Jika menatap kembali hadits tersebut dan kemudian ‘berkaca’,
Betapa jarang diri ini mendoakan orang lain dalam tiap jenak lantunan harap kepada Yang Esa,
Betapa diri demikian pelit dan hanya, selalu, dan seringkali berdoa hanya untuk kebaikan diri sendiri saja,

Jadi merasa tersentil -’-!

1 komentar:

  1. Semoga yuk rindang mendapatkan kebaikan dan yang terbaik...aammiiin

    BalasHapus