Mei 05, 2010

Logika Terbalik

Siang itu cukup cerah, matahari bersinar dengan penuh kepercayaan diri. Menyinari bumi dengan kehangatannya yang menghadirkan kehidupan bagi alam semesta.
“Assalamu’alaykum..” terdengar suara salam.
“Wa’alaymukussalam warohmatulloh,” sahutku sembari membuka pintu
Sesosok wajah berbalut jilbab coklat muda berdiri dengan senyum lebar.
“eeee… yaa ampun. Ada angin apa? masuk..masuk,” lanjutku

Lama tak bertemu. Seorang kawan lama. Tak lama kami sudah terlibat pembicaraan. Santai saja, karena kami bukan orang-orang penting yang suka berbicara hal2 berat dan serius. Tema seputar suka dan duka ekonomi menjadi topik yang cukup jadi pembicaraan yang panjang. Hihihihih, sebagian besar intinya penderitaan.

Tapi kemudian sang kawan mencuatkan sebuah tema lain. Cinta, aha!.

Cinta, selalu menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Tema yang menyentuh semua ruang dan waktu, kaya atau miskin, tanpa batas usia sekalipun, baik yang sudah tua, setengah baya, dewasa, hingga anak-anak yang baru menginjak usia remaja. Semua begitu antusias bila mendengarnya. Mata berbinar dan wajah menjadi merah bersemu.

Bahkan, para penguasa bisnis dunia pun menjadikan ‘cinta’ sebagai sumber tambang emas penghasil uang. Lihat saja, betapa gencar mereka mempromosikan segala hal yang berbau tentang cinta. Dengan penguasaan media mereka mulai merangsek, dari sinetron, film, fashion, hingga moment. Kita dapat melihat bertapa hingar bingarnya pusat perbelanjaan, mall, cafĂ©, dan tempat-tempat keramaian lainnya kala menjelang valentine days, yang diklaim sebagai hari kasih sayang. Semua berlomba mempromosikan hawa ‘cinta’.

Aku jadi sering tersenyum geli melihatnya, lihatlah mereka, kasian sekali ya, dalam kurun waktu 365 hari dalam putaran massa setahun, mereka hanya dapat ‘jatah’ sehari.
Ah, itulah. Konspirasi dunia melalui bisnis dan remaja. Berat membahasnya. Gurita.

“Beneran, deh, mba. Saya dah capek sendirian,” ucapnya. Ini anak termasuk orang yang punya tata karma dan tingkat kesopanan yang tinggi. Padahal usianya di atasku, tapi dia selalu memanggilku dengan sebutan, mba. Sedangkan aku hanya memanggil nama atau ber elu gw saja dengannya
“Emang ngapain aja selama ini, sampe sendirian aja capek? Habis mbabat hutan, tah?,” jawabku usil. Aku terkikik melihatnya mendelik kesal merasa dibercandai

Perjuangan berat hidup sang kawan, kebosanan dan keletihannya menghadapi hidup membuatnya berfikir bahwa I want and must get a married!
Wuihh! Aku terdiam, tema roaming, fikirku. Beberapa waktu kubiarkan sang kawan berkeluh kesah dan bercerita tanpa disela.
“Saya tuh capek sendirian, gak ada teman berbagi,” lanjutnya. “Apalagi sekarang ada abang di rumah, tambah stress saya. Rasanya di luar rumah lebih nyaman dari di rumah”
“Eh, abangmu udah di rumah lagi?”, sahutku. Teringat olehku siapa abangnya. Seorang laki-laki yang agak terganggu kestabilan jiwanya.
“Ya sok atuh, lu kan punya itu yang namanya murobbi. Ngajuin aja, beres kan?,” jawabku. Bukan jawaban solutif. Gak aku suruh pun pasti dah dia lakukan.
“Aahh, hari gini. Antrian itu dah panjang mba. Ikhwan-ikhwan itu kan cari yang cantik, muda, yang kayak saya mah biodatanya ditumpukkan paling bawah,” keluhnya
“And, so..?”

Pembicaraan makin ‘dalem’. Sebenarnya aku enggan, benar-benar enggan berbicara dengan tema-tema seperti ini.

“Minta tolong teman-teman kantor lu, kek. Kan lu kerjanya di sekolah Islam. Pasti di sana banyak pria-pria sholeh berjenggot, atau minta dikenalkan dengan teman-teman mereka yang juga udah siap menikah. Beres kan,” ujarku. Sebetulnya dengan maksud menghentikan pembicaraan.
“Tau ah, saya mah pusing. Pengennya nikah tapi gak tau sama siapa,”
Aku tersenyum mendengarnya. Bagus deh kalo pusing, biar temanya berhenti, ucap hatiku.

Aku beringsut duduk tegak dengan kaki bersila di hadapannya. Ku pasang ekspresi serius. Memang ingin bicara serius. Bagaimana pun tamu harus dihormati, meski pembicaraan kurang begitu nyaman diikuti.
“Well,.. Emang sudah siap nikah?,” tanyaku menyelidik
“Sudah, kenapa?,” tanyanya balik menyelidik
“Memangnya sudah mempersiapkan apa?,” tanyaku lagi
“Mmmmm…”
Ia tak perlu menjawab. Aku percaya ia sudah siap untuk itu, hanya saja memang tak perlu diungkapkan panjang lebar.

“Pernah, gak, berfikir terbalik?,” lanjutku
“Maksudnya,” ia balik bertanya, menyelidik.
“Iya. Berfikir terbalik,” aku membiarkannya terdiam untuk mencerna kalimatku.
“Setiap orang, laki-laki dan perempuan yang sudah memasuki usia matang, pasti siap dan mempersiapkan diri untuk menikah, ya tho?,” ujarku. “Tapi, pernahkah mencoba untuk berfikir terbalik, untuk bersiap-siap pula, apabila ternyata dalam hidup ini tak tertulis menikah dalam catatan takdir kita?,” lanjutku. Dia bengong.

“Setiap orang yang hidup dengan takdir sebagai manusia tentulah memiliki impian yang sama. Memiliki teman hidup, menjadi istri dan suami, menjadi ayah dan ibu dari anak-anak, dan menjadi kakek nenek dari cucu-cucu yang lucu-lucu kala usia tua. Namun bukankah kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa tidak semua orang memiliki garis takdir yang sama,” tatapku lurus pada matanya.

Ia semakin tak bersuara. Entah apa yang berputar di benaknya. Aku tak peduli. Kulanjutkan kata-kataku.

“Tidak sedikit orang yang sepanjang hayatnya ia habiskan tanpa seorang teman, banyak yang kembali ke pangkuan penggenggam alam saat masih menyandang titel single, atau menghembuskan nafas sebelum sempat merasakan gemerlap gejolak dunia remaja,” lanjutku.
“Tentu saja kita meyakini bahwa Allah menciptakan hambanya berpasang-pasangan. Namun kenyataan hidup yang Tuhan gariskan pada hamba-hambanya pula lah yang mengajarkan pada kita, bahwa boleh jadi pasangan itu IA ciptakan bukan untuk di dunia ini, namun boleh jadi pada kehidupan setelah kematian,” ucapku dengan tetap menatap lurus padanya. Mencoba menyelami fikirannya.

Kubiarkan waktu seolah berhenti. Hening. Kubiarkan ia sibuk dengan fikirannya sendiri.

“Hei!,” aku menjawil lengannya. “sedang coba berfikir terbalik ya?,” godaku
“Iihh… gak mau saya.” Jeritnya.
“Laaah, kan gw bilang seandainya. Seandainya takdir tak menuliskannya dalam hidup lu. Seandainya. Nah, udah bersiap-siap belum?,”
“Kalo belum bersiap-siap, ya disiapin dari sekarang”, aku terkekeh ringan.
“Ihh..gak ah!”, jawabnya lagi
“Gw serius, lho dengan kalimat panjang gw tadi,” tatapku

Ia terdiam sesaat

“Mba. Mmmm, mba gak……..?,” ia memandangku dengan tatapan aneh
“Enggak apa?,” kejarku dengan senyum menggoda. “Gak mau menikah?,” lanjutku lagi. Dia terdiam.
“Tak ada ruginya berfikir terbalik dari kebanyakan orang,” ujarku. “Tak ada salahnya menyiapkan diri bila harus sendiri. Sama seperti ketika sebagian kita berfikir harus bersiap-siap saat ingin dan akan menikah,”
“Jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Bersabarlah ketika menunggu, karena jodoh tak kan tertukar, Tuhan tak pernah khilaf. Dan belajarlah Ridho bila ternyata takdir tak seperti yang diimpikan, agar hidup tak menjadi seperti beban,” Aku mengamatinya.
“Gw tak sedang mendoktrin lu, lho. Toh hidup kita ini dijalani masing-masing. Hanya berusaha agar lu gak stress mikirin kapan lu nikahnya. Jangan terlalu difikirin, tar lu gila lagi,” godaku.

Ia masih memandangiku dengan tatapan heran dan aneh. Aku kembali tersenyum kecil.
“oya, satu lagi,” ujarku tak peduli dengan tatapannya, “apapun ucapan orang, jangan terlalu dimasukan ke hati, ya!”

Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan, “kapan mba, mas, kak?” menjadi sesuatu yang makin merumitkan persoalan. Aku tak menyalahkan ketika bibir-bibir itu melontar tanya, dengan berbaik sangka bahwa setiap pertanyaan hadir oleh karena besarnya perhatian dan kasih sayang mereka terhadap yang ditanya. Namun, mereka mungkin tak menyadari bahwa itu sungguh tak mengenakkan diterima oleh gendang telingan orang-orang yang mereka tanyai.

Sangat menyadari hal tersebut, aku sendiri sangat menghindari pertanyaan, “kapan mba, mas?”, kepada siapapun. Karena bagiku, ekspresi menyayangi dan besarnya perhatian terhadap saudara saudari kita, tak harus diungkapkan dalam bentuk pertanyaan seperti itu.
Boleh jadi kita mengucapkannya dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang utuh. Namun, coba renungkan sebelum bertanya, apakah pertanyaan itu membahagiakan mereka yang ditanya? atau justru menyakitinya?

Usia yang menginjak usia matang, kebosanan dalam aktivitas, keletihan dalam menghadapi cobaan hidup, lelah dengan penderitaan, hingga tak tahan dengan tuntutan keluarga, seringkali jadi penyebab lisan-lisan hamba-hamba bertanya pada Tuhan. Kapan?
Kapan?
Kapan?
Serta, berapa lama lagi?

Tak ada yang mampu menjawabnya, karena semua adalah mistery, yang hingga kapan pun tak kan mampu dikuak oleh kekuatan manusia yang berbatas. Namun, kesabaran yang tanpa batas dan penerimaan yang utuh adalah kekuatan maha dasyat yang mampu menguatkan hamba Tuhan dalam hidupnya.

“Sudah ah. Easy going aja. Jalani apa yang ada,”, ujarku lagi. “Kata peribahasa, ada banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau kata gw, ada banyak cara untuk hidup bahagia. Kebahagiaan tak semata hanya diperoleh dengan menikah. Tak menikah pun kita bisa bahagia, kok. Asal Ridho dan bersyukur dengan apa yang ada”




Bdl, Januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar