Pagi itu, pekan pertama di bulan November.
Jalanan masih basah akibat hujan deras yang turun sejak subuh.
Pandanganku tertumbuk pada sesosok tubuh, seorang laki-laki yang telah lanjut usia. Dengan kendaraanya berjuang di antara puluhan motor lain yang terjebak pada kemacetan yang sama. Terseok vespa miliknya merayap maju mengikuti langkah kendaraan lainnya. sebentar berjalan, sebentar kemudian berhenti. Mungkin letih karena usia tuanya yang mungkin telah setua pemiliknya.
"woii,.. maju oi!!”, ucap seorang pemuda di belakangnya, setengah berteriak. sang bapak hanya tersenyum kecil.
kurang ajar. anak gak sopan!, umpat hatiku kesal mendengarnya.
Ia menyeka keringatnya. terenyuh aku saat menyaksikan perjuangan bapak tua itu memacu kuda tuany, yang lebih mirip tumpukan besi tua berkarat daripada sebuah motor. Terharu melihat senyum yg tetap ia tampakkan di tengah keringatnya yg jatuh satu satu...
Aku hanya bisa memandang. Mencoba meresapi makna dan sajian ayat-ayat kauniyah di hadapanku. Mencoba mengukir syukur dg berdoa, 'Yaa Rabb...jadikan keringatnya sebagai pahala. Limpahkan kemudahan dan karuniai keberkahan disetiap letih perjuangannya...'
Bapak tua itu mengingatkanku pada sosok laki-laki yang mungkin usianya tak jauh berbeda. Laki-laki yang telah menghabiskan hidupnya dengan peluh keringat demi kehidupan orang-orang yang ia cintai. Laki-laki yang seringkali kulihat terduduk diam termenung dalam hening dan kegelapan ruang tamu rumah kami. Bapakku.
Setetes air bening jatuh menuruni wajahku yang masih memandangi jalanan padat itu. Perlahan motor yang membawaku bergerak maju menjauhi sang bapak. Jalanan yang menggoreskan hikmah dan makna untukku di pagi yang basah ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar