Mei 05, 2010

Jiwa,..

Sang waktu terus berlalu
Seolah telah berabad lama perjalanan ini
Melompati ratusan hingga ribuan hari
Jalan yang telah dilewati tak terlihat lagi
Namun, ujung jalan di depan belum lah terlihat

Jiwa,..
Kan kutanami engkau dengan pohon keridhoan
Aku sirami dengan air kesabaran
Aku lindungi engkau dengan tembok ketegaran
Kuhiasi dengan pernak pernik ketenangan
Agar kau selalu kuat menopang raga yang lemah

Wahai TUHAN Yang Merajai Jiwa
Tenangkan jiwa yang lara
Duhai Maha Penggenggam Jiwa Manusia
Tancapkan kekuatan, ketegaran dan keikhlasan pengorbanan di jiwa,
seperti yang diteladankan bapak para nabi, Ibrahim,..

Kokohkanlah langkah kaki
Berapa pun panjang jalan yang harus dilalui
Berapa pun lama waktu yang harus ditempuh
Kuatkanlah,..

Pejuang Kehidupan

Pagi itu, pekan pertama di bulan November.
Jalanan masih basah akibat hujan deras yang turun sejak subuh.

Pandanganku tertumbuk pada sesosok tubuh, seorang laki-laki yang telah lanjut usia. Dengan kendaraanya berjuang di antara puluhan motor lain yang terjebak pada kemacetan yang sama. Terseok vespa miliknya merayap maju mengikuti langkah kendaraan lainnya. sebentar berjalan, sebentar kemudian berhenti. Mungkin letih karena usia tuanya yang mungkin telah setua pemiliknya.

"woii,.. maju oi!!”, ucap seorang pemuda di belakangnya, setengah berteriak. sang bapak hanya tersenyum kecil.

kurang ajar. anak gak sopan!
, umpat hatiku kesal mendengarnya.

Ia menyeka keringatnya. terenyuh aku saat menyaksikan perjuangan bapak tua itu memacu kuda tuany, yang lebih mirip tumpukan besi tua berkarat daripada sebuah motor. Terharu melihat senyum yg tetap ia tampakkan di tengah keringatnya yg jatuh satu satu...

Aku hanya bisa memandang. Mencoba meresapi makna dan sajian ayat-ayat kauniyah di hadapanku. Mencoba mengukir syukur dg berdoa, 'Yaa Rabb...jadikan keringatnya sebagai pahala. Limpahkan kemudahan dan karuniai keberkahan disetiap letih perjuangannya...'

Bapak tua itu mengingatkanku pada sosok laki-laki yang mungkin usianya tak jauh berbeda. Laki-laki yang telah menghabiskan hidupnya dengan peluh keringat demi kehidupan orang-orang yang ia cintai. Laki-laki yang seringkali kulihat terduduk diam termenung dalam hening dan kegelapan ruang tamu rumah kami. Bapakku.

Setetes air bening jatuh menuruni wajahku yang masih memandangi jalanan padat itu. Perlahan motor yang membawaku bergerak maju menjauhi sang bapak. Jalanan yang menggoreskan hikmah dan makna untukku di pagi yang basah ini.

Dalam kesederhanaan cinta padaMU, aku kembali,..

apakah engkau sedang menyindirku dengan sajakmu?
ah,.. tidak. itu hanya perasaanku.
ya, hanya perasaanku
karena diriku yang hina ini merasakan, seperti itulah cintaku padaNYA

dengan sedekah yang tak seberapa
dengan tilawah yang tak sempurna
dengan do'a yang tergesa-gesa
dengan amaliah yang seadanya

dalam galau hati dan jiwa yang porak-poranda karena kesalahanku sebagai manusia
dalam nurani yang merapuh
dalam lisan yang terbungkam pilu
dalam harapan yang perlahan menghilang

meski aku rapuh dalam langkahku
dan seringkali tak setia padaMU
namun, aku selalu berharap cinta dalam jiwaku hanyalah untukMU

ibadah yang seadanya,..
hati yang berkhianat,.
lisan yang tak selaras dengan tindakan
Maafkan,..

Dalam jutaan sepi yang menemani sebagai teman sejati
Dalam lelahnya jiwa
Dan dalam resah serta airmata
Dengan menunduk, aku melangkah kembali padaMU

Dengan segala harap dan galau jiwa kumohon kedamaian
Memohon ketenangan dan kasih sayang
maafkanlah, bila hati tak sempurna mencintaiMU
dalam dada aku selalu berharap hanya ENGKAU yang bertahta
adakah maaf untukku?

apakah kan KAU terima aku dengan cintaku yang sederhana?

Dalam Dekapan Cinta

Persil 1

Dimas Bramantyo…

Kupandangi punggung kokoh yang tengah sibuk dengan pekerjaannya itu. Dua bulan pernikahan kami, namun aku masih belum mampu menyelami dirinya, hidupnya.
“mas..”
“hmmm..” jawabnya tanpa mengalihkan padangannya dari kertas-kertas dihadapannya
“makannya nanti saja setelah ini selesai. Mas harus selesaikan laporan ini segera..” ucapnya sembari mengusap kepalaku, lalu kembali sibuk dengan laptop dihadapannya.

Ah, bukan itu mas. Ucapku dalam hati.

Aku tahu mas Bram seorang pekerja keras. Dia tak kan berhenti sebelum apa yang ia kerjakan dapat ia selesaikan. Tapi, tak adakah sedikit waktu buatku, hanya sedikit.

Beranjak aku meninggalkannya. Setitik air jatuh di pipiku. Segera ku tepis. Ah, manja..


Persil 2

Mas Bram sedang dinas, mengawasi proyek perusahaan. Aku terpekur diam, mengingat kembali pernikahan kami. Sudah dua bulan pernikahan kami dan tiga bulan sejak perkenalan kami. Perkenalan yang singkat, lalu pernikahan terjadi.

Kami memang tak pernah mengenal dengan baik satu sama lain sebelum menikah. Pernikahan kami terjadi atas peranan keluarga besar. Mas bram yang merupakan putera dari sahabat kakekku. Tak banyak pertimbangan yang kami lakukan. Sama-sama siap menikah dengan niat beribadah, berbakti pada orangtua dan menggenapkan separuh dien.

apakah mas Bram mencintaiku?

Berkali-kali kalimat itu berdengung dalam hatiku. Yah, hanya sampai pada ujung tenggorokanku.

Bosan. Kucoba mencari kesibukan dengan melihat-lihat koleksi buku yang ada di ruang kerja mas Bram. Tak ada niat untuk membaca. Sungguh aku bosa, tapi tak tahu apa yang hendak kulakukan. Bergantian kubuka satu demi satu buku yang tersusun rapi.

Mataku tertumbuk pada sebuah amplop putih yang terselip di antara buku-buku. Sejenak kupandangi dan perlahan ku buka. Selembar foto di dalamnya membuatku terpaku.


Persil 3


”apakah mas Bram mencintaiku..?”
Akhirnya kalimat itu meluncur dari bibirku

Dengan ekor mataku, aku meliriknya. Mas bram hanya diam. Sedetik kemudian ia tersenyum seraya mengacak-acak rambutku.

”tentu saja. Kamu istriku. Yuk, ke depan..” Jawabnya seraya merengkuh lenganku menuju teras, tanpa menghiraukanku yang hendak bertanya kembali.


Persil 4


”mas,..”
”pernah mencintai orang lain sebelum menikah denganku?”
Tanyaku lagi di suatu waktu
”hmmm...kenapa?”
Kuangsurkan sebuah amplop putih padanya. Amplop putih yang membuatku menangis bila memandanginya.

“Nay..” ucap Mas Bram tertahan..

Aku diam tertunduk, menahan airmataku yang hendak tumpah dari kelopaknya. Tak ada suara. Hening. Tak tahan dengan sesak, aku beranjak meninggalkan mas Bram.

”Nay..” panggil mas Bram seraya mengetuk pintu kamar mandi

Aku menangis terisak. Ternyata mas bram tak pernah mencintaiku. Dia mencintai wanita lain, dan masih mencintainya. Indah, nama wanita cantik dalam amplop itu. Betapa mas bram masih mengingatnya dengan menyimpan rapi fotonya.

”Namanya Indah. Kami teman satu jurusan dan bersahabat hingga saat ini. Ia wanita yang cantik, cerdas, dan periang.”
Aku tergugu pilu mendengar mas Bram bercerita. Iya, wanita itu memang cantik. Sangat.
”Aku menyukai kepribadiannya. Bahkan sempat ada rencana kami akan bersama”
”tapi..”, Mas Bram terdiam

”Nay...entah apa itu cinta. Aku tak mengerti dan tak ingin terlalu memikirkannya. Mungkin aku mencintainya. Entahlah..”
Perlahan mas Bram merengkuh bahuku. Aku biarkan dengan diam.
”tapi..yang aku tau. Engkaulah cintaku. Kewajibanku dengan mengangkat sumpah atas nama Alloh denganmu, pilihan hidupku, dan sahabat jiwaku hingga nanti aku tua”
Kami duduk bersandar pada dinding dapur dengan diam. Aku tak tahu harus berkata apa.
Kurasakan tangannya yang kokoh mengusap kepalaku. Tak ada yang bersuara.

”Nay..cinta adalah kesiapan untuk mengambil amanah dan bertanggungjawab. Dan Nay lah amanah itu”

Hening menyelimuti kami yang terduduk dengan fikiran masing-masing. Perlahan kurasakan hatiku menghangat. Ada sesuatu yang tumbuh dari sudut hatiku. Entah apa itu.

”Nay..”
Mas Bram berkata dengan sedikit terkejut serta memandangiku saat kulepaskan tanganya dari kepalaku.
”Maaf mas,..” ucapku terisak dengan irama yang semakin kencang
Perlahan kurasakan tangan kokoh mas Bram merengkuh kepalaku kedadanya, membuat tangisku semakin pecah. Menyadari betapa bodoh dan kekanakannya diriku selama ini. Betapa aku meragukan dirinya dan sempat berfikir dan menyesali pernikahan ini.

Mas bram merenggangkan pelukannya dan mendongakkan wajahku dengan daguku dengan jari-jarinya..
”hehehehehe...jelek!”, tawanya sembari mengusap airmataku dan menepuk-nepuk pelan kepalaku.
Lama kami saling berpandangan. Melengos aku mengalihkan wajahku yang terasa panas memerah.
”hehehehehe...”, kekeh mas Bram semakin kencang melihatku

Kami tetap berpelukan dengan nada dan irama di hati kami yang perlahan menghangat.

Ah, cinta. Aku tak ingin terlalu memikirkannya. Waktulah yang akan mengajari kami arti cinta yang hakiki. Namun ku mulai mengerti, bahwa cinta akan tumbuh bersama niat dan kesiapan untuk bertanggungjawab.

Labirin Hati Sile

”Kau memang pantas menyesal!!”

Tertegun ia memandangi layar pesan yang baru saja ia baca


-cluster 1-

Hening. Sile terdiam dalam rasa yang berkecamuk.
Teringat betapa dinginnya Insi saat ia menyapanya.

”Setelah semua terjadi, setelah sakit yang ku derita, setelah kau campakkan aku begitu saja. Rasanya ini memang pantas kau dapatkan. Pada awalnya Adib tak lebih sekedar teman buatku. Tapi kau campakkan aku yang memohon padamu. Dan pada akhirnya aku menerimanya”..
”aku tak mau kehilanganmu, Insi”, terbata Sile menjawab
”Sudah terlambat. Terlambat, Sil. Dan aku berterima kasih kau telah mencampakkanku. Kau benar, ia memang lebih baik daripadamu. Bersamamu, aku tak lebih perempuan tak berharga yang selalu memohon cintamu. Bersamamu aku merasa kerdil karena tak pernah kau tunjukkan perasaanmu”

Sile terpaku. Menyadari betapa dingin suara itu. Betapa angkuh suara yang dulu begitu hangat baginya.

”Kau tau, Sil. Berapa lama ku menunggumu, hingga asaku hilang dan hatiku mengeras?”
”Kau tau bagaimana sakitnya aku, eh?!!”, ucapnya lagi hampir berteriak
”Aku tak mau kehilanganmu, Insi”
”Entahlah. Jangan lagi mengharapkanku, agar kau bahagia. Selamat tinggal”


-cluster 2-

Betapa cemburu dan amarah telah membuatnya buta. Sile terpaku memandang celoteh riang gerombolan angsa yang berenang dalam kolam di hadapannya dengan fikiran buntu.

Menyesal.
”aarrrrrrrrrrrrrrrrrgggg!!!!!”


Masih teringat ia pada percakapan siang itu. Ketika Insi datang padanya bercerita.
”Kemarin Adib bilang pernah menyukaiku, dan sekarang ia meminta aku jadi adiknya”
Ku perhatikan Wajah Insi yang semakin lucu saat ia bercerita. Calon istriku.
....
...........
.......

Kepalaku memberat. Mulutku terkunci. Tak ada suara yang mampu hadir saat itu. Aku terjebak dalam labirin rasa. entah.
Perlahan timbunan amarah dan ketakutan yang selama ini selalu ku redam bangkit. Getir.
Ku masih belum bersuara. Hanya tatapan kosong dan hati yang perlahan terluka. Pedih.

Ku tahan tangis yang hendak pecah. Tidak!, Aku laki-laki, pantang buatku menangis.
”lalu, jawabanmu apa?”, tanyaku kemudian
”tidak kujawab”


- Cluster 3 -

Demi Tuhan. Aku benci ada orang lain yang menginginkan Insi sebagai orang terdekatnya. Tapi aku pun tak tega menghapus binar matanya. Insi memang terlahir sebagai anak tunggal. Tak ada figur kakak yang dikenalnya. Sedangkan aku, hingga saat ini tak mampu menjadi laki-laki yang bisa ia banggakan. Aku kaku, tak pandai berkata-kata, tak pandai mengungkap rasa. Bagiku, jika Insi bahagia, aku menerima.

Meski perlahan hatinya terluka, Sile tetap berusaha tersenyum di hadapan Insi. Melihat senyum hangatnya, Sile pun tersenyum.
Tapi tak mampu ia hindari, luka yang ia redam membuatnya beku. Perlahan ia mulai menjauhi Insi.

Tak ia pedulikan rengkuhan dan permohonan Insi agar ia tak beranjak pergi. Namun labirin hati Sile sungguh rumit. rasanya tak sederhana saat melihat Insi tertawa riang dalam canda bersama orang lain.

Hingga waktu berlalu. Tak pernah ia melupakan Insi. Baginya Insi adalah satu-satunya hal paling berharga.

Bayangan kenangan berkelebat. Senyuman Insi, tawanya, gerak lucunya. Semua mengikutinya kemana ia pergi. Betapa hebat cinta yang Insi tanamkan.

Perlahan Sile beranjak. Tegak ia tatap langit biru, mencari asa.
Takdir. Begitu rumit. Kehilangan adalah bagian hidup yang sangat berat. Ketika apa yang disayangi pergi dan tak lagi mampu digenggam

Entah bagaimana, tapi melebur dengan takdir dan mengikuti arus yang ditentukannya, mungkin lebih baik.
Satu persatu tapak kakinya melangkah, mengikuti garis takdir bersama kenangan di sampingnya.

sayup bait nada mengiringi langkahnya
Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan KuasaNYA bagi hambaNYA yang sabar
Dan tak kenal putus asa....
Jangan menyerah...

tersenyum..

Dunia Terbalik

Kuingin memejamkan mata
Dan berharap waktu melompat
Melewati ratusan hingga ribuan hari

Apakah aku putus asa?

Mungkin…
Tapi aku tak ingin

Itu hanya ucapan dari lisan yang galau
Keluhan dari sisi jiwa yang lemah

Ku tak menyalahkan kelemahan itu bersuara
Tapi ku pun tak ingin menurutinya

Terkadang kubiarkan kelemahan menguasaiku
Membiarkannya meremas jantungku dan membuatku terdiam menahan nafas
Merelakan kelemahan menusuk-nusuk benteng pertahananku
Tetap terdiam kala ia mulai membabat habis kekuatanku

Ku biarkan kelemahan merajaiku

Biarkanlah...
Biarkanlah ia beraksi
Melumat dan menghancurkan segala benteng yang kubangun
Menenggelamlanku tersungkur lemah dan tak berdaya

Kubiarkan kelemahan menghajarku habis-habisan
Biarkanlah tubuh ini merasakan sakitnya
Biarkan jiwa ini merasakan pedihnya

Aku tak tahu apakah aku akan menang
Tapi yang aku tahu,..aku tak pernah membiarkan diriku menyerah kalah
Aku biarkan dulu ia menghajarku habis-habisan
Aku biarkan kelemahan menjatuhkanku

Karena esok, adalah giliranku
Untuk menumpas habis kelemahan yang menghajarku

Heh, kenapa?
Bingungkah engkau membacanya?
Hahahahaha, pasti...
Engkau pasti bingung

Jangankan engkau
Aku saja yang menuliskannya bingung alang kepalang
Bingung tentang apa yang kutulis
Hahahahaha

Mungkin seperti ini yang namanya sajak
Sajak gila,..

Sajak Bodoh

Aku tak tahu…

Aku tak tahu…

Aku tak tahu…

Entahlah…

Aku tak mengerti…

Bodoh!