Hijab atau pakaian penutup aurat banyak sekali disebut-sebut dalam ayat alQuran. Secara detil alquran pun menjelaskan mengenai syarat hijab, yaitu terujulur dan menutup dada. Bahkan dalam haditsnya Rasulullah saw menjelaskan bahwa hanya telapak tangan dan wajah saja bagian tubuh yang boleh terbuka, tidak transparan, dan tidak membentuk tubuh.
Aku yakin semua perempuan akan merasa malu bila auratnya terbuka.
(Plaakk!!! Aku sendiri merasa tertampar. Jadi merasa seolah tak punya muka lagi. merasa ditabok, ditonjok, dan merasa dipukul-pukul pakai godam)
Lalu pertanyaannya, bagaimana bila aurat perempuan muslimah nampak saat berhadapan dengan TUHAN?
***
Suatu waktu, aku ikut shalat secara berjama’ah di sebuah masjid. Tak ada yang berbeda dari shalat berjama’ah lainnya. Para makmum berdiri berbaris di belakang imam. Namun selang beberapa waktu ada sebuah kejadian yang membuatku berfikir sepanjang sholatku (*betul-betul kacau shalat kali itu). Ketika seorang jama’ah menarik perhatianku, bukan orangnya, namun mukena yang ia kenakan.
Tak ada yang aneh. Bentuknya sama dengan mukena pada umumnya, dengan beberapa motif dan renda menghiasinya. Namun yang membuatku berfikir dan merasa terganggu adalah, sebentuk tubuh yang membayang dengan jelasnya dari balik mukena yang terjulur panjang itu. Sebentuk kaki dan tubuh indah yang terlihat dengan cukup jelas.
Bukankah salah satu sah nya shalat seorang muslim adalah aurat yang tertutup?, fikirku.
Aku menjadi berfikir. Dan semakin berfikir ketika fenomena tersebut dapat dengan mudah ditemui. Para wanita yang melaksanakan shalat dengan menggunakan mukena yang tak memenuhi syarat tertutupnya aurat.
Aku jadi bertanya, kenapa?
Sebenarnya seperti apa para wanita muslim memaknai mukena? Hanya sebagai alat sholat atau sebagai penutup aurat?
Itu peristiwa yang terjadi pada masyarakat umum, katakanlah yang sering di sebut masyarakat amah, karena minimnya pemahaman mereka.
Namun, yang membuatku sangat berfikir dan merasa cukup miris adalah kondisi ini pun terjadi pada muslimah kaffah, yang kebanyakan mereka mengklaim diri sebagai dai pengusung panji dakwah. Aku tak men-generalisir, namun beberapa orang yang aku kenal sebagai pentolan dakwah cukup menjadi sampel tulisan ini.
Mereka, para muslimah kaffah tersebut begitu rapi dan cantik dengan gamis longgar yang menutupi tubuh mereka dan jilbab lebar yang menjulur panjang. Namun, entah mengapa menjadi sedikit lalai dalam penjagaan aurat mereka ketika shalat, khususnya saat mereka berada di rumah dimana mereka dapat menggunakan pakaian yang mereka sukai.
Sungguh miris buatku, ketika menyaksikan kaki-kaki dan tubuh muslimah yang indah itu membayang dengan jelas dari balik mukena yang mereka gunakan.
Warna kulit mereka yang terlihat jelas, sungguh mengganggu.
Sungguh tak enak dipandang mata, ketika mahkota dikepala mereka terlihat dengan jelas warna dan ukuran panjang pendeknya dari balik mukena mereka.
Bila para daiyah yang mengklaim diri pengusung panji dakwah saja lalai, lalu bagaimana dengan wanita muslim yang disebut dengan amah?
Jika mereka di luar rumah begitu memperhatikan tertutupnya aurat mereka dari pandangan semua orang, lalu mengapa mereka lalai saat mereka berjumpa dengan TUHAN?
Aku secara pribadi sangat miris menemui beberapa kejadian tersebut, apalagi hal itu terjadi pada sahabat-sahabat muslimah yang memiliki kefahaman yang sangat baik mengenai batasan-batasan aurat. Rasanya bukan hal yang sulit menggunakan jilbab dan rok sebelum menggunakan mukena, mengingat sulitnya ditemukan mukena yang betul-betul memenuhi kriteria menutup aurat. Sebagian besar mukena yang diproduksi dan dijual di pasaran, hampir seluruhnya terbuat dari bahan yang tipis dan transparan. Entah, mungkin karena mengikuti tren mode.
Ah, tak ingin berpanjang lebar. Aku bukan aktivis dakwah dan belum mampu menjadi muslimah kaffah. Namun, bila ada hal baik dari apa yang aku sampaikan maka ambillah. Bila buruk, maka buanglah jauh-jauh. Hanya sekedar merenungi dan mudah-mudahan bisa menjadi pengingat kembali, khususnya bagi sahabat muslimah.
Bila kita selalu berusaha tampil cantik dan rapi saat melangkahkan kaki ke luar rumah, lalu mengapa menjadi lalai dengan aurat ketika berdiri dan sujud di hadapan TUHAN?
Mari renungkan……….
Well, maaf bila ada hal yang kurang berkenan.
Wallahu’alam bishowwab.
Mei 21, 2010
Mei 15, 2010
36 Jam Menyusuri Pesisir Barat Hingga Selatan Bumi Ruwa Jurai
First days,
April, 24, 21010
Berpetualang, Travelling, Jalan-jalan, apapun namanya pastilah menyenangkan. Apalagi bila perjalanan itu menjadikan alam sebagai objek tujuan. Berjalan di atas pegunungan yang berkabut dan berkelok
Petualangan 36 jam. Yup! That’s true. 36 jam petualangan menyusuri provinsi Lampung mulai dari titik awal, kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung, hingga menyusuri pesisir bagian barat yang berhadapan dengan samudera pasifik, dan kembali ke titik awal dengan menyusuri pesisir pantai bagian barat daya hingga pesisir selatan.
Perjalanan pada hari pertama melewati 4 kabupaten kota, yaitu Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, dan Lampung Utara dengan menghabiskan waktu tempuh selama kurang lebih 3 jam.
Pemberhentian pertama adalah Desa Subik, tepatnya Dusun Gunung Sadar (hebat oy! Gunung aja bisa sadar, hahahah!). Desa Kelahiran Mbok Deah Kusuma.
Kayak sedang mengantar calon besan yak? :-P
Sempat kefikiran iseng dengan Anjel, buat mbisikin Mak Darti (Mamake Mbok Deah), buat milih siapa yang mau diambil jadi mantu ^^_v
*emang dasar itu dua orang, seneng beneur godain Diah en mamaknya* =D
Ternyata kalo lagi dalam perjalanan, anak-anak dah berumur alias dan pada tua2 pun jadi kayak anak-anak. Pada girang semua diajak jalan2. Sepanjang jalan mulut2ny dah kayak burung, pada g berhenti ‘berkicau’.. =D
Berhenti klo mulutny dah dsumpel pake makanan en tidur… =D
Seru tuh, pas perjalanan mulai masuk ke kabupaten Lampung Barat,
pemandangannya amazing sekali.. dasyatt!
Jalan berkelok di atas pegunungan. Kanan dan kiri jurang dengan lembah yang dalam,
Ohohoho, g kebayang gimana bentuknya klo kecemplung ke lembah itu,
Perjalanan terasa kayak terbang,
jalan berkelok, ditambah lagi Papa driver yang nyetir ala pembalap F1 =D
Jurang dengan lembah yang dalam, barisan pegunungan, kabut basah yang bikin pandangan begitu misterius,
Pelangi di antara tumpukan awan Comulus,
that’s amazing view!
Jalan yang mirip tubuh ular, bikin body jadi kebanting2.. perut jadi terasa dikocok2..
3 jam setelah transit pertama, akhirnya sampai lah di tempat transit kedua, Desa Belalau, Liwa, Kabupaten Lampung Barat,
Kampung yang masih sangat alami. Bahkan tempat mandi dan mencuci pun masih ramah lingkungan.
HASILNYA,…
4 orang peserta ekspedisi melanjutkan perjalanan hari kedua tanpa mandi,
Kwekekekekk!
Sayang, perjalanan di hari pertama tak sempat merekam panorama sepanjang perjalanan,
Lupa! -‘-!
Lagi pula,pada bawel semuah tiap aku minta papa driver berhenti sejenak di puncak pegunungan untuk mengambil beberapa foto,
Tiap inget ituh, pengen ngegeplak itu kepala anak-anak,..rrrghh!!
***
Days two
April, 25, 21010
Perjalanan hari kedua g kalah seru. Perjalanan pulang (dilanjutkan) dengan menyusuri pesisir barat yang berhadapan langsung dengan samudera pasifik, jadi perjalanan yang lebih seru..
Pantai pesisir dengan pasir hitam, ciri khas pesisir pantai yang berhadapan langsung dengan samudera/laut lepas. Gulungan ombaknya dasyat. Langitnya biru cerah.
Yang punya story g kalah seru jugak ada.
Papa driver harus berhenti di tengah hutan rimba yang berada di kawasan Hutan dan Konservasi Taman Nasional Bukit Barisan,
Karena ADA YANG MUNTAH!
Ada yng keluar keringet dingin,.. Hahahahahah!
padahal sendirinya yang teriak2 lantang, klo ada yang keringet dingin mau muntah kudu ditinggal di hutan… *gulingguling*
Masih kebayang muka pucatnya, kwakakaak..
4 jam berada di jalur hutan dan konservasi alam, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan..
I love it. Rasanya tetap ingin berputar-putar di tengah lebatnya rimba hingga bosan,
Berharap bertemu dan ber say helo dengan sang raja, raja rimba,
Tapi sayang gak ketemu. Padahal informasinya, biasanya banyak harimau berkeliaran di dekat jalan lintas.. o__O
Sepanjang jalan mendengarkan nyanyian pepohonan dan kicauan burung-burung dan jangkrik,
Serta melewati beberapa air terjun kecil dan banyak sungai..
Ini adalah view, bila anda sampai di Teluk Semangka, Kabupaten Tanggamus, Lampung,
Indah bukan?
Gugusan Teluk Lampung dengan Gunung Tanggamus yang tegak angkuh menjulang,
Berada pada puncak dan ketinggian alam selalu membuatku merasa sangat gembira dan lepas,
Ketika mata dapat melihat ke seluruh penjuru arah dengan bebas,
Semua terlihat kecil,
Terlihat dekat, namun nyatanya begitu jauh,
Ah!

Lalu yang ini,
Ini adalah Air terjun Way Lala’an, yang berada di Kabupaten Tanggamus,
Sayangnya, karena hari telah menjelang senja, perjalanan harus segera dilanjutkan,
Tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi, sekedar menikmati titik-titik air yang mengembun terbang diterpa angin,
Atau pun yang hendak melanjutkan dengan aktivitas perkemahan,
20 menit perjalanan dari pusat keramaian, Kota Agung, dengan harga tiket hanya 2,500 rupiah saja
Mmmm,..
Bagi anda yang menyukai petualangan,
Menyusuri hutan dan pesisir pantai barat hingga teluk di pesisir selatan bumi Lampung menjadi tempat yang aku rekomendasikan,
Dalam perjalanan anda akan melewati gugusan perbukitan berkabut dengan lembah yang dalam,
Berjam-jam menyusuri hutan lindung Bukit Barisan Selatan, habitat yang kaya akan fauna liar dan pohon-pohon raksasanya, akan memberikan sensasi bertualang yang dasyat,
Lalu menikmati pesisir pantai yang elok dengan deburan ombak dan pasir hitam,
Alam yang sungguh masih perawan,
Well,..
Have a nice days,
Enjoy your travelling!
April, 24, 21010
Berpetualang, Travelling, Jalan-jalan, apapun namanya pastilah menyenangkan. Apalagi bila perjalanan itu menjadikan alam sebagai objek tujuan. Berjalan di atas pegunungan yang berkabut dan berkelok
Petualangan 36 jam. Yup! That’s true. 36 jam petualangan menyusuri provinsi Lampung mulai dari titik awal, kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung, hingga menyusuri pesisir bagian barat yang berhadapan dengan samudera pasifik, dan kembali ke titik awal dengan menyusuri pesisir pantai bagian barat daya hingga pesisir selatan.
Perjalanan pada hari pertama melewati 4 kabupaten kota, yaitu Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, dan Lampung Utara dengan menghabiskan waktu tempuh selama kurang lebih 3 jam.
Pemberhentian pertama adalah Desa Subik, tepatnya Dusun Gunung Sadar (hebat oy! Gunung aja bisa sadar, hahahah!). Desa Kelahiran Mbok Deah Kusuma. Kayak sedang mengantar calon besan yak? :-P
Sempat kefikiran iseng dengan Anjel, buat mbisikin Mak Darti (Mamake Mbok Deah), buat milih siapa yang mau diambil jadi mantu ^^_v
*emang dasar itu dua orang, seneng beneur godain Diah en mamaknya* =D
Ternyata kalo lagi dalam perjalanan, anak-anak dah berumur alias dan pada tua2 pun jadi kayak anak-anak. Pada girang semua diajak jalan2. Sepanjang jalan mulut2ny dah kayak burung, pada g berhenti ‘berkicau’.. =D
Berhenti klo mulutny dah dsumpel pake makanan en tidur… =D
Seru tuh, pas perjalanan mulai masuk ke kabupaten Lampung Barat,
pemandangannya amazing sekali.. dasyatt!
Jalan berkelok di atas pegunungan. Kanan dan kiri jurang dengan lembah yang dalam,
Ohohoho, g kebayang gimana bentuknya klo kecemplung ke lembah itu,
Perjalanan terasa kayak terbang,
jalan berkelok, ditambah lagi Papa driver yang nyetir ala pembalap F1 =D
Jurang dengan lembah yang dalam, barisan pegunungan, kabut basah yang bikin pandangan begitu misterius,
Pelangi di antara tumpukan awan Comulus,
that’s amazing view!
Jalan yang mirip tubuh ular, bikin body jadi kebanting2.. perut jadi terasa dikocok2..
3 jam setelah transit pertama, akhirnya sampai lah di tempat transit kedua, Desa Belalau, Liwa, Kabupaten Lampung Barat,
Kampung yang masih sangat alami. Bahkan tempat mandi dan mencuci pun masih ramah lingkungan.
HASILNYA,…
4 orang peserta ekspedisi melanjutkan perjalanan hari kedua tanpa mandi,
Kwekekekekk!
Sayang, perjalanan di hari pertama tak sempat merekam panorama sepanjang perjalanan,
Lupa! -‘-!
Lagi pula,pada bawel semuah tiap aku minta papa driver berhenti sejenak di puncak pegunungan untuk mengambil beberapa foto,
Tiap inget ituh, pengen ngegeplak itu kepala anak-anak,..rrrghh!!
***
Days two
April, 25, 21010
Perjalanan hari kedua g kalah seru. Perjalanan pulang (dilanjutkan) dengan menyusuri pesisir barat yang berhadapan langsung dengan samudera pasifik, jadi perjalanan yang lebih seru..Pantai pesisir dengan pasir hitam, ciri khas pesisir pantai yang berhadapan langsung dengan samudera/laut lepas. Gulungan ombaknya dasyat. Langitnya biru cerah.
Yang punya story g kalah seru jugak ada.
Papa driver harus berhenti di tengah hutan rimba yang berada di kawasan Hutan dan Konservasi Taman Nasional Bukit Barisan,
Karena ADA YANG MUNTAH!
Ada yng keluar keringet dingin,.. Hahahahahah!
padahal sendirinya yang teriak2 lantang, klo ada yang keringet dingin mau muntah kudu ditinggal di hutan… *gulingguling*
Masih kebayang muka pucatnya, kwakakaak..
4 jam berada di jalur hutan dan konservasi alam, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan..
I love it. Rasanya tetap ingin berputar-putar di tengah lebatnya rimba hingga bosan,
Berharap bertemu dan ber say helo dengan sang raja, raja rimba,
Tapi sayang gak ketemu. Padahal informasinya, biasanya banyak harimau berkeliaran di dekat jalan lintas.. o__O
Sepanjang jalan mendengarkan nyanyian pepohonan dan kicauan burung-burung dan jangkrik,
Serta melewati beberapa air terjun kecil dan banyak sungai..
Ini adalah view, bila anda sampai di Teluk Semangka, Kabupaten Tanggamus, Lampung,Indah bukan?
Gugusan Teluk Lampung dengan Gunung Tanggamus yang tegak angkuh menjulang,
Berada pada puncak dan ketinggian alam selalu membuatku merasa sangat gembira dan lepas,
Ketika mata dapat melihat ke seluruh penjuru arah dengan bebas,
Semua terlihat kecil,
Terlihat dekat, namun nyatanya begitu jauh,
Ah!

Lalu yang ini,
Ini adalah Air terjun Way Lala’an, yang berada di Kabupaten Tanggamus,
Sayangnya, karena hari telah menjelang senja, perjalanan harus segera dilanjutkan,
Tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi, sekedar menikmati titik-titik air yang mengembun terbang diterpa angin,
Atau pun yang hendak melanjutkan dengan aktivitas perkemahan,
20 menit perjalanan dari pusat keramaian, Kota Agung, dengan harga tiket hanya 2,500 rupiah saja
Mmmm,..
Bagi anda yang menyukai petualangan,
Menyusuri hutan dan pesisir pantai barat hingga teluk di pesisir selatan bumi Lampung menjadi tempat yang aku rekomendasikan,
Dalam perjalanan anda akan melewati gugusan perbukitan berkabut dengan lembah yang dalam,
Berjam-jam menyusuri hutan lindung Bukit Barisan Selatan, habitat yang kaya akan fauna liar dan pohon-pohon raksasanya, akan memberikan sensasi bertualang yang dasyat,
Lalu menikmati pesisir pantai yang elok dengan deburan ombak dan pasir hitam,
Alam yang sungguh masih perawan,
Well,..
Have a nice days,
Enjoy your travelling!
Boleh Jadi Bukan Karena Doa Kita

Suatu hari dua orang pemuda terdampar pada sebuah pulau terpencil. Hampir seharian mereka duduk di tepian pantai, berharap ada kapal yang lewat sehingga mereka dapat menumpang atau tim penyelamat menemukan mereka.
Beberapa hari berlalu, kapal yang mereka harapkan tak jua datang, pun pula dengan tim penyelamat.
Mereka lalu berfikir, bahwa mereka harus bertahan hidup. Lalu kedua orang pemuda sepakat untuk membagi pula menjadi dua bagian. Pulau pada sisi barat adalah milik pemuda A, dan pulau pada sisi timur adalah milik pemuda B. Lalu mulai lah mereka menjalani hidup di pulau tersebut sembari terus berharap bantuan segera datang menyelamatkan mereka.
Hari terus berlalu. Pemuda A telah membangun rumah sederhana, begitu pula pemuda B. masing-masing mereka pun bercocok tanam demi kelangsungan hidup mereka.
Berbulan telah mereka lalui. Pemuda A mulai merasa bosan dan merasa kesepian. Lalu ia pun berdoa kepada Tuhan agar diberikan seorang pendamping hidup. Suatu hari ketika hendak memancing ikan di laut, pemuda A menemukan sesosok wanita terdampar pingsan di tepi pantai. Lalu bergegas ia menolongnya. Beberapa waktu berlalu, akhirnya wanita tersebut menjadi pendamping hidup pemuda A.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak-anak yang lucu.
Pemuda A yang telah memiliki istri dan anak-anak, terus berharap agar dapat ditemukan oleh tim penyelamat atau ada kapal yang lewat di pulau tempat mereka tinggal, hingga mereka dapat keluar dari pulau terpencil tersebut. Lalu berdoalah ia kepada Tuhan, memohon agar keinginannya dikabulkan.
Beberapa waktu berlalu hingga suatu hari sebuah kapal nelayan melewati pulau tempat pemuda A dan B terdampar. Dengan serta merta dan penuh suka cita pemuda A berlari memberikan tanda meminta bantuan.
Setelah pemuda A dan keluarganya sampai di atas kapal nelayan tersebut, bertanyalah nahkoda kapal kepadanya, “apakah masih ada orang lain yang terdampar selain dirimu dan keluargamu?”
“ada. Seorang pemuda yang tingga di sisi timur pulau ini,”jawabnya,
“baiklah. Kita akan menemuinya dan mengajaknya serta,”
“untuk apa?,” tanya pemuda A, “setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengirimkan bantuan dan menolongku keluar dari pulau ini. Setelah datang pertolongan mengapa harus mengajaknya?,” lanjutnya,
Setelah sampai pada sisi timur pulau, dimana tinggal seorang pemuda B, bertanyalah sang nahkoda kepadanya, “temanmu, pemuda A berdoa agar diberikan tempat tinggal, makanan, anak, istri, dan pertolongan kepada Tuhan, lalu semua itu IA kabulkan. Sedangkan dirimu, tetap saja hidup sendirian dan bila aku tak bertanya pada pemuda A itu mungkin kau akan tetap ada di pulau ini,” “apakah doamu tidak dikabulkan Tuhan?,”
“tidak!,” jawab pemuda B, “semua doaku dikabulkan Tuhan”
“lalu?,” kejar sang nahkoda, “mengapa kehidupan kalian berbeda? Memangnya apa doa-doamu yang dikabulkan Tuhan?”
“setiap hari dan setiap saat aku hanya berdoa dan meminta kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan kemudahan dan mengabulkan semua doa yang diucapkan oleh saudaraku pemuda A yang tingga di sisi barat pulau ini”
Sang nahkoda, pemuda A, dan beberapa awak kapal pun tertegun,
Sahabat, adik, dan kakak,
Seringkali kita mungkin merasa sombong atas nikmat dan kemudahan dalam hidup kita,
Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita peroleh adalah karunia dan kemurahan hati Tuhan kepada kita,
Namun boleh jadi,
Nikmat, karunia, kebahagiaan, kemudahan, dan segala yang diberikan Tuhan dalam hidup kita,
Bukanlah karena kesholihan kita,
Bukanlah karena doa-doa yang kita lantunkan,
Namun,
Boleh jadi semua itu hadir,
Karena keridhoan Tuhan atas ikhlasnya orang lain berdoa untuk kebaikan kita tanpa kita ketahui,
Doa-doa yang terlantun dalam diam dan hening,
Yang tak nampak dan tak terdengar oleh gendang telinga kita,
Doa orangtua, doa adik, doa kakak, atau doa sahabat yang dengan tulus ikhlas mendoakan segala kebaikan bagi kita,
Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits dari shahabiyah Ummud Darda` :
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)
Dasyatnya sebuah doa kebaikan yang tak diketahui oleh yang didoakan. Ketika Tuhan memerintahkan tugas kepada malaikat, khusus hanya untuk mengaminkan doa-doa seorang muslim bagi muslim lainnya. Bahkan malaikat pun ikut mendoakan kebaikan yang sama bagi mereka yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya yang lain, dengan batas, selama doa tersebut tak diketahui oleh saudaranya yang didoakan,
Jika menatap kembali hadits tersebut dan kemudian ‘berkaca’,
Betapa jarang diri ini mendoakan orang lain dalam tiap jenak lantunan harap kepada Yang Esa,
Betapa diri demikian pelit dan hanya, selalu, dan seringkali berdoa hanya untuk kebaikan diri sendiri saja,
Jadi merasa tersentil -’-!
Menjelajahi Negeri Seribu Bambu (Pringsewu)
Tak ada dalam agenda. Hari itu, selasa, 11 Mei 2010,
Berpetualang menuju sebuah tempat yang asing pada awalnya, namun ternyata tidak saat sampai apda tujuannya *pernah lewatin tempat itu*
Perjalanan yang indah,
setidaknya setiap saat aku selalu berusaha menikmatinya seikhlas mungkin,
agar tidak menjadi perjalanan yang sia-sia,
Setiap jenak ku belajar membuang semua perasaan tak nyaman yang hadir manakala pandanganku mengingatkan pada hal-hal yang tak menyenangkan,
Tak sia-sia, setiap hari ku merasa semakin mampu tersenyum, meski ‘tak enak’ itu tetap ada,
Biarlah,
Ingin ku nikmati alam indah yang dihamparkan Tuhan di depan bola mataku,
Ini adalah pemandangan yang terpampang di sepanjang perjalanan,
Barisan pepohonan, kebun kacang, bukit, dan area persawahan,
Dengan kamera sederhana aku coba merekamnya
Keindahan garis batas antara biru dan kehijauan, line green and blue..
Inilah tempatnya,
Sebuah tempat di pinggiran sungai besar yang mengalir deras dengan air keruh,
Gambar ini aku rekam dari pondokan,
Saat itu mataku melihat 2 ekor kuda yang tengah asyik makan rerumputan
Dengan latar sungai, jembatan, langit biru, dan suasana hijau yang meneduhkan,
Saat itu suasana mulai kelabu dan gelap,
Sebelum benar-benar gelap dan hujan, aku coba mengabadikannya
Indah bukan?
Terlihat hening dan damai,
Tak terlihat hiruk pikuk yang menyesakkan,
Jika diperhatikan dengan seksama, akan terlihat titik-titik kecil pada pinggiran sungai,
Sebetulnya itu adalah manusia yang sedang berpetualang mencari keong kecil khas sungai air tawar,
Mereka adalah orang-orang dari rombongan yang aku ikuti,
Kelompok arisan keluarga batak muslim dengan marga Sembiring Keloko,
Sayang aku tak sempat mendapatkan foto mereka, kala terjun ke sungai
Mungkin bagi sebagian orang terlihat ndeso dan norak,
Jauh-jauh hanya untuk makan di pinggiran sungai dan mencari keong,
Tapi bagiku, ini amazing,
Karena bagi mereka, kegiatan seperti itu mengingatkan mereka pada hobi dan kebiasaan mereka di kampung halaman asal mereka, tanah karo, sumatera utara,
Sebenarnya aku sendiri pun ingin berpartisipasi,
Merasakan derasnya arus dan sensasi berada di sungai besar dengan pemandangan yang indah,
Namun apa daya, sedang tak bisa berbasah-basah ria,
Selain itu, niat menjadi surut, manakala biji mataku menangkap seekor ular yang cukup besar sedang asyik menyeberangi sungai,
Aaaaa, tidaaakk!!
Benar-benar hilang moodku dekat-dekat ke pinggiran sungai,
Ngeri ketemu dengan kawan-kawan si sneki yang lain -‘-!
Menjelang pulang, hujan mulai turun,
Suasana menjadi lembab dan basah,
Seperti inilah suasananya,
Air hujan membuat gelombang dan memecah permukaan air sungai,
Panorama kelabu, daun dan semak basah berembun,
dikejauhan nampak kabut tipis menyelimuti,
mmmm,..
tempat yang menyenangkan bagi anda yang menyukai petualangan,
tanpa dipungut biaya, karena bukan lokasi wisata,
tertarik untuk mengunjunginya?
Hanya 1 jam perjalanan dari kota Bandar lampung,
Dengan rute : BDL-Pringsewu (belok kanan menuju arah Sukoharjo setelah sampai di trafficlight pringsewu, perjalanan sekitar 15 menit)
Jembatan, akan jadi penunjuk bahwa anda sudah sampai di lokasi,
Enjoy your days,
En have a nice trip!
Berpetualang menuju sebuah tempat yang asing pada awalnya, namun ternyata tidak saat sampai apda tujuannya *pernah lewatin tempat itu*
Perjalanan yang indah,
setidaknya setiap saat aku selalu berusaha menikmatinya seikhlas mungkin,
agar tidak menjadi perjalanan yang sia-sia,
Setiap jenak ku belajar membuang semua perasaan tak nyaman yang hadir manakala pandanganku mengingatkan pada hal-hal yang tak menyenangkan,
Tak sia-sia, setiap hari ku merasa semakin mampu tersenyum, meski ‘tak enak’ itu tetap ada,
Biarlah,
Ingin ku nikmati alam indah yang dihamparkan Tuhan di depan bola mataku,
Ini adalah pemandangan yang terpampang di sepanjang perjalanan,Barisan pepohonan, kebun kacang, bukit, dan area persawahan,
Dengan kamera sederhana aku coba merekamnya
Keindahan garis batas antara biru dan kehijauan, line green and blue..
Inilah tempatnya,Sebuah tempat di pinggiran sungai besar yang mengalir deras dengan air keruh,
Gambar ini aku rekam dari pondokan,
Saat itu mataku melihat 2 ekor kuda yang tengah asyik makan rerumputan
Dengan latar sungai, jembatan, langit biru, dan suasana hijau yang meneduhkan,
Saat itu suasana mulai kelabu dan gelap,Sebelum benar-benar gelap dan hujan, aku coba mengabadikannya
Indah bukan?
Terlihat hening dan damai,
Tak terlihat hiruk pikuk yang menyesakkan,
Jika diperhatikan dengan seksama, akan terlihat titik-titik kecil pada pinggiran sungai,
Sebetulnya itu adalah manusia yang sedang berpetualang mencari keong kecil khas sungai air tawar,
Mereka adalah orang-orang dari rombongan yang aku ikuti,
Kelompok arisan keluarga batak muslim dengan marga Sembiring Keloko,
Sayang aku tak sempat mendapatkan foto mereka, kala terjun ke sungai
Mungkin bagi sebagian orang terlihat ndeso dan norak,
Jauh-jauh hanya untuk makan di pinggiran sungai dan mencari keong,
Tapi bagiku, ini amazing,
Karena bagi mereka, kegiatan seperti itu mengingatkan mereka pada hobi dan kebiasaan mereka di kampung halaman asal mereka, tanah karo, sumatera utara,
Sebenarnya aku sendiri pun ingin berpartisipasi,
Merasakan derasnya arus dan sensasi berada di sungai besar dengan pemandangan yang indah,
Namun apa daya, sedang tak bisa berbasah-basah ria,
Selain itu, niat menjadi surut, manakala biji mataku menangkap seekor ular yang cukup besar sedang asyik menyeberangi sungai,
Aaaaa, tidaaakk!!
Benar-benar hilang moodku dekat-dekat ke pinggiran sungai,
Ngeri ketemu dengan kawan-kawan si sneki yang lain -‘-!
Menjelang pulang, hujan mulai turun,Suasana menjadi lembab dan basah,
Seperti inilah suasananya,
Air hujan membuat gelombang dan memecah permukaan air sungai,
Panorama kelabu, daun dan semak basah berembun,
dikejauhan nampak kabut tipis menyelimuti,
mmmm,..
tempat yang menyenangkan bagi anda yang menyukai petualangan,
tanpa dipungut biaya, karena bukan lokasi wisata,
tertarik untuk mengunjunginya?
Hanya 1 jam perjalanan dari kota Bandar lampung,
Dengan rute : BDL-Pringsewu (belok kanan menuju arah Sukoharjo setelah sampai di trafficlight pringsewu, perjalanan sekitar 15 menit)
Jembatan, akan jadi penunjuk bahwa anda sudah sampai di lokasi,
Enjoy your days,
En have a nice trip!
Mei 08, 2010
Pak Tani dan Kera Putih Serakah

Pak Tani resah. Sudah beberapa hari kebun jagung miliknya diganggu segerombolan kera kecil. Setiap hari pak tani harus menunggui kebunnya agar tak habis oleh kera-kera tersebut.
Letih karena harus setiap hari menunggui kebunnya. Pak tani kemudian membuat sebuah rencana untuk menangkap kera-kera jahil tersebut.
Mulailah pak tani mengejar gerombolan kera tersebut dengan menggunakan jarring yang telah ia buat. Namun, kera-kera kecil itu teramat lincah hingga pak tani tak bisa menangkapnya.
Keesokan harinya, pak tani membawa sebuah toples yang ia isi dengan kacang. Pak tani mengerti, bahwa kera sangat menyukai kacang.
Kemudian toples yang telah ia isi dengan kacang tersebut ia ikat pada sebatang pohon, lalu ia pun bersembunyi mengamati.
“hei, lihat! Ada kacang ditaruh di sana!,” seru seekor kera kecil kepada teman-temannya.
Kera-kera kecil yang melihat ada sebuah botol berisi kacang kesukaan mereka, dengan segera mendekatinya. Sementara pak tani bersiap untuk menangkapnya.
“ayo kita ambil,” serentak suara mereka
Namun, ternyata kera-kera itu cukup lincah dan bergerak dengan cepat.
“hei! Ayo cepat. Ambil sedikit-sedikit saja butiran kacang, lalu cepat pergi. Jangan sampai tertangkap,” ujar seekor kera.
Tapi, seekor kera putih tak mengindahkan seruan itu. Ia yang merasa bosa hanya mengambil beberapa butir kacang lalu berlari pergi, mengambil dan berlari lagi, kemudian ingin mengambil lebih banyak dari yang diperbolehkan.
Sementara pak tani mengejar kera-kera yang lain, kera putih mendekati toples kacang tersebut dan menggenggam butiran kacang sebanyak-banyaknya di tangannya.
Tiba-tiba, teman-temannya berteriak histeris menyuruhnya segera menjauhi toples itu. Kera putih yang terkejut menjadi panik dan segera bergerak untuk pergi. Namun rupanya telapak tangannya yang penuh berisi kecang tak dapat keluar karena leher toples yang kecil sementara genggaman tangannya lebih besar karena berisi banyak kacang.
Teman-temannya berteriak menyuruhnya meninggalkan kacang di tangannya. Namun kera putih tak mau melepaskan kacang-kacang dalam genggamannya. Ia terus menarik-narik tangannya agar terlepas dari toples. Pak tani semakin dekat.
Akhirnya kera putih tertangkap oleh pak tani dank era-kera yang lain berhamburan pergi. Sejak itu kebun jagung pak tani tak pernah diganggu oleh kera-kera nakal.
***
Nah, ternyata perilaku serakah hanya akan membawa kerugian dan bencana ya.
Ambillah seperlunya dan tinggalkan yang berlebihan. Dan pula, tak boleh mengambil milik orang lain yang bukan hak kita tanpa izin.
Memahami Kembali Makna Ridho dan Ikhlas

Menyinggung sekilah mengenai Ridho dan Ikhlas,
Ridho dan Ikhlas,
Dua hal berbeda yang seringkali dimaknai sama oleh sebagian orang. Padahal sebetulnya itu merupakan dua hal yang berbeda.
Ikhlas adalah Melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu karena Alloh semata. Karena itu Ikhlas dikaitkan erat dengan niat.
Sebagai contoh :
## Saya Ikhlas menerima musibah ini
Sikap di atas bukanlah sikap Ikhlas, melainkan Ridho..
Dan,
Ketika kita melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu dengan niat hanya kepada dan bagi Allah,
Maka sikap itulah yang disebut sebagai IKHLAS.
SEDANGKAN
Ridho adalah sikap dengan penerimaan utuh seorang hamba Tuhan Terhadap QodhoNYA. Dimana Qodho merupakan ketetapan TUHAN yang tak tak bisa ditolak atau seringkali kita sebut sebagai TAKDIR,
Tak ada ridho sebelum qodho!
Ridho baru berlaku setelah qodho. Sebagaima yang telah dikatakan oleh Rasulullah melalui hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa’I “Wahai Alloh, Aku meminta kepadaMU (sifat) ridho setelah adanya ketetapan dariMU”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa’I tersebut, Rasulullah mengatakan pula bahwa setiap hamba Tuhan harus senantiasa meminta agar dikaruniai keridhoan dalam menjalani takdir yang ditetapkan baginya. Karena berat dan sulitnya takdir itu bagi sebagian hamba.
Wallahu’alam bisshowab,
Mohon maaf bila ada kekeliruan. Ambil manfaatnya dan buanglah buruknya.
Teringat catatan singkat saat menerima tausiyah pada rakernas @ponpes Daarut Tauhiid pada Desember 2009.
Mei 05, 2010
Tikus dan Ide Menangkap Kucing

Pada suatu malam yang gelap. Suasana hening dan gelap pekat. Terdengar bunyi jangkrik dan binatang malam saling bersahutan.
“Kita buka rapat paripurna kita malam ini”, ucap seekor tikus besar. Sepertinya dialah pemimpin di kelompok itu.
“Baiklah. Demi menghemat waktu. Sebagian besar kita harus bekerja untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Kita semua tahu, warga kampung Mousi sedang mengalami krisis, dimana sulit sekali memperoleh makanan, sejak hadirnya musuh kita di rumah itu,”
Semua peserta rapat paripurna terdiam. Senyap.
“Untuk itu, kehadiran kita semua di sini adalah untuk mengakhiri krisis kita. Kita harus bisa mengusir kucing musuh kita dari rumah itu. Atau menangkapnya,” ujarnya.
“Bagaimana caranya?,” seekor tikur Curut berkata.
“Kita semua tahu betapa ganasnya kucing itu. Jika tertangkap, kita tak akan diberi ampun olehnya,” lanjutnya kembali.
Riuh suara bergemuruh mendengar ucap Curut. Riuh bernada ngeri membayangkan keganasan kucing musuh mereka.
Kampung Mousi memang sedang mengalami masalah. Pemilik rumah tempat mereka tinggal memelihara seekor kucing. Sejak itulah masalah mereka dimulai. Mereka menjadi sulit mendapatkan makanan, bahkan setiap saat selalu terancam nyawanya karena si kucing. Sudah puluhan nyawa meregang dalam cengkeraman gigi dan taringnya yang tajam.
“Baiklah.. baiklah!,”
“Untuk itulah kita semua berkumpul. Untuk bermusyawarah mencari solusi terbaik cara menyingkirkan kucing itu,” lanjutnya.
“Setiap tikus yang hadir dalam rapat, harus memberikan saran atau ide!”
Semua terdiam.
Tak ada yang memiliki ide apapun. Selain itu semua diluputi ketakutan dan kengerian saat membayangkan sang kucing.
“Bagaimana kalau kita buat perangkap seperti perangkap yang dibuat manusia untuk menangkap kita?,” seekor tikus putih member saran.
Kembali semua suara bergemuruh, “ah, itu tidak mungkin!”
“Jika kita racuni?,”
“Jangan!! Nanti racunnya termakan oleh anak-anak kita. Berbahaya!,” tukas yang lain.
Semua ide telah diungkapkan. Namun belum menyelesaikan masalah.
Tiba-tiba seekor tikus maju ke hadapan pimpinan sidang, dan berkata,
“Yang mulia. Saya mempunyai ide yang dapat kita gunakan untuk mengatasi kucing musuh kita,”
“Apa itu?, Bicaralah!”
Semua terdiam. Menatap dan menunggu dengan berdebar.
“Kita tak perlu menangkap kucing musuh kita. Kita tak harus pula membunuhnya,” ia terdiam. Mengedarkan pandangannya.
“Namun, kita dapat menghindarinya,”
“Maksudnya?," Tanya seluruh peserta siding,
“Benar. Kita hanya perlu menghindarinya. Membuat sebuah cara dimana ketika kucing itu datang,kita semua dapat menghindar dan berlari dengan cepat tanpa sempat ditangkap atau bahkan dilihat olehnya”
“Kita akan membuat sebuah lonceng kecil yang akan kita kalungkan pada leher sang kucing saat ia sedang tertidur. Dengan begitu, setiap kucing itu berjalan dan bergerak, maka lonceng itu akan berbunyi, dan kita akan mengetahui dimana keberadaannya dan dapat segera lari menghindar,” lanjutnya.
Raja terdiam memikirkan ide yang baru saja disampaikan oleh sang tikus.
“Iya! Kau benar!,” Ucapnya. Kita dapat menghindarinya dan tak perlu mempertaruhkan nyawa untuk membunuhnya. Dengan ide itu, kita akan selalu aman.
seluruh peserta bergemuruh senang.,
“Baiklah. Kita tak akan menunda waktu. Kita akan melaksanakannya segera,” lanjut sang raja tikus.
“Tapi, bagaimana cara kita melakukannya? Bahkan sebelum lonceng itu kita pasang di lehernya, kucing itu akan menerkam kita lebih dahulu,” tukas yang lain.
Kembali semua suara terdiam, benar juga, fikir hati mereka
Akhirnya rapat paripurna dewan tikus ditutup tanpa menghasilkan apa-apa.
Adik-adik, ternyata pintar dan cerdas saja tidaklah cukup untuk mengatasi masalah. Karena kita membutuhkan keberanian untuk melakukannya. Karena beratnya resiko yang harus diterima, terkadang banyak orang pintar yang hanya mampu berteori tanpa berani melaksanakan ide-idenya.
Nah, adik-adik. Jangan mau seperti tikus-tikus yang pintar, namun tak memiliki cukup keberanian. Harus berani!! =D
*terinspirasi oleh tikus-tikus di rumah yang bikin greget… ^^
I'm Not Women, Im a Man!
“Terusss!! Panjat teruuss yang tinggi ya!,”
Seorang laki-laki bersuara dengan berkacak pinggang dengan kepala mendongak ke atas pohon kelapa yang tumbuh di depan rumah itu. Beberapa wajah terlihat menahan tawa melihat wajah pucat sosok di atas pohon itu.
“teruuuss! Jangan turun lagi. Tidur di situ aja!”, lanjutnya dengan suara penuh tekanan.
Sementara sesosok remaja kelas 3 SMP nampak terdiam di atas pohon kelapa dalam kebingungan dan ketakutan antara tetap di atas atau turun perlahan.
“Nina, turun!,” tiba-tiba sesosok wanita menyeruak dari balik wajah-wajah yang terkekeh-kekeh. Wanita asing yang tak asing.
Perlahan remaja itu turun.
WHEN WAS CHILD
Malam semakin hening dan pekat. Beberapa cahaya terlihat mengintip dari sela-sela rumah. Dusun itu seperti tak ada pada malam hari. Semuanya menghitam. Tak ada penerangan di luar selain cahaya rembulan dan kerlip bintang di kejauhan, karena aliran listrik belum sampai ke dusun itu. Tak terlihat apalagi terdengar apapun kecuali suara jangkrik yang bernyanyi diselingi suara binatang malam lain. Terlihat samar dua bayangan berjalan menerobos jalan setapak yang basah. Tergesa langkah mereka seolah dikejar oleh iblis yang hendak mematahkan kaki mereka dan menarik tubuh mereka tenggelam ke dasar tanah.
“Ayo, Wak. Cepat!,” seru salah seorang diantara mereka.
“Sabarlah. Ini jugak Uwak sudah cepat,” jawab suara seorang lainnya. Nampak sebuah buntalan kain terayun-ayun bersama langkahnya yang tergesa.
Tak lama terlihat sebuah gubuk sederhana. Cahaya lampu kecil mengintip dari sela-sela dinding yang terbuat dari bambu yang dicacah.
Beberapa jam kemudian.
Terdengar lengking tangisan bayi memecah malam yang pekat itu. Rabu, pukul 22.30 waktu Indonesia pada bagian barat, dengan perkiraan masa yaitu 9985 hari yang lalu.
Kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan keinginan melebihi batas kemampuan. Kanak-kanak. Namun seorang laki-laki muda terus mengajarinya bermimpi menggenggam dunia. Setiap malam perempuan yang terlahir 8 tahun lalu itu dihadapkan pada buku-buku yang berisi barisan angka, tulisan, hingga gambar-gambar. Tak ada bermain dalam kamus laki-laki muda itu buatnya.
Setiap malam ia akan menatapi buku-bukunya. Berpura-pura. Sembari mengamati laki-laki muda itu lengah. mengamati kapan ia akan beranjak dari kursinya. Tapi laki-laki itu tetap tegak duduk diam di atas kursinya dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap tebal.
“pergi dulu. Yasinan!,”
Pada malam ke sekian laki-laki muda itu berucap. Kalimat singkat keramat yang selalu ditunggu bocah itu. Ia bersorak riang dalam hati. Asyiiik!, akhirnya bebas.
“belajar yang betul! Awas kalo gak belajar,” laki-laki itu berkata-kata dengan nada memperingatkan sebelum menghilang dari balik pintu kayu. Ia menjawab dengan anggukan, sementara itu sesosok tubuh wanita berbaring diam tak jauh darinya. Perlahan ia menutup bukunya. Tak lama ia berjingkat-jingkat menuju pintu dimana sosok laki-laki itu menghilang.
Berbaur dalam keramaian bersama anak-anak dusun lainnya.
“hom hila hompimpah,” teriak mereka bersama-sama. “Buang jaga!,” teriak kerumunan anak-anak itu serentak. Tak lama terlihatlah bocah-bocah yang berlarian di bawah sinar bulan menghindari bocah laki-laki bernama Buang itu, menghindari sentuhan tangannya yang berarti tertangkap.
“duukk!!,” terdengar benturan.
Sesosok tubuh mungil terpaku diam memegangi perutnya. Darah mengalir pelan dari sela-sela jari-jari yang menutupinya. Memandangi dengan nanar pohon yang baru saja berbenturan dengan tubuhnya. Nampak sebuah bagiannya meruncing. Sepertinya bagian itulah yang menghadirkan perih di perut Nina.
“Nina luka!...” teriak salah seorang bocah itu.
Mendengar itu bocah perempuan yang dipanggil dengan Nina itu segera berlari dengan menahan tangis dan juga perih yang berasal dari tubuhnya. Sesosok wajah dengan penuh amarah membayang di wajahnya. Dengan penuh ketakutan ia berlari menuju sebuah rumah di ujung dusun.
Bocah itu meringkuk di atas kasurnya. Darah itu sudah tak mengalir lagi. Sudah dibersihkan dan dibalut dengan bubuk kopi. Begitulah cara warga dusun mengobati luka. Tak ada kata rumah sakit apalagi dokter. Kalau pun mereka bersentuhan dengan fasilitas kesehatan, paling-paling mantri praktik yang datang sebulan sekali. Ia menutupi wajahnya menghindari tatapan laki-laki itu.
***
Buang, Sangkut, Topan, Leo, dan Dadang telah menunggunya diujung dusun. Beberapa orang anak laki-laki itu terlihat membawa golok.
“lame nian ngan ni (lama sekali kamu tuh),” gerutu Sangkut padanya
“Mang Burhan baru pergi ya, Nin?,’, ujar Leo. Nina menganggukkan kepala.
Beriringan mereka berjalan menuju hutan kecil tak jauh dari dusun mereka. Mereka memang suka sekali bermain ke hutan, mencari biji-biji buah karet yang biasa mereka adu, atau terkadang mencari buah-buahan hutan. Atau mereka akan pergi memasang perangkap ikan pada sebuah lengkungan bumi yang membentuk genangan air yang luas. Di sanalah sebagian besar penduduk dusun mandi dan mencuci. Sebelum senja mereka akan segera pulang, sebelum ayah Nina pulang dari kebun.
Semua anak-anak dusun segan dan takut pada ayah Nina. Bukan hanya karena terkenal dengan ketegasannya, namun juga karena ayah Nina adalah salah seorang pengurus masjid. Dusun mereka sangat menghormati mereka yang menjadi pengurus masjid, layaknya disebut petinggi dusun.
“Kemarin itu, aku diikat di tiang rumah,” bibir mungil Nina bercerita.
“Kenapa?,” Tanya mereka serentak.
“Gara-gara aku nginap di rumah Ugok dan Nyai, dan gak bilang-bilang,” Nina menyeringai sembari menebas-nebaskan golok di tangannya pada semak-semak di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui. Ugok adalah sebutan bagi kakek dan Nyai adalah sebutan bagi nenek di dusun itu.
“ooo…”
Bibir-bibir mungil anak-anak itu terus berceloteh bergantian. Mengiringi tiap gerak mereka. Kadang mereka berlarian, berlomba yang tercepat. Kadang mereka berhenti pada sebuah kebun, manakala mata mereka menemukan buah-buahan yang tentu saja mereka curi, karena tumbuh di kebun yang ada pemiliknya.
Seperti itulah kehidupan anak-anak di dusun terpencil itu. Tak ada boneka, mobil-mobilan seri terbaru dengan remote controlnya, robot-robot keren yang gagah, apalagi sepeda. Anak-anak dusun hanya mengenal permainan kampung sederhana atau menjelajahi hutan, sungai, dan kebun sebagai sarana mereka bermain. Alam adalah mainan pemberian Tuhan untuk mereka.
***
I’M NOT WOMEN, IM A MAN!
Segerombolan anak-anak berseragam merah putih berkerumun di depan pintu masuk sebuah ruang kelas. Sebagian wajah terlihat pucat dan berkeringat seolah sedang menanti giliran untuk dihukum gantung. Terlihat satu persatu laki-laki dan wanita berdatangan dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sebuah sekolah inpres yang berdiri di atas tanah dengan lapangan yang luasnya dua kali luas lapangan sepakbola. Sekolah itu memiliki 4 ruang kelas. Benar, 4 ruang. Setiap ruangan dipergunakan oleh dua kelas sekaligus. Kegiatan belajar dua kelas itu dipisahkan oleh sekat triplek yang membagi ruangan menjadi dua bagian. Satu ruangan sisa dipergunakan sebagai ruang kepala sekolah merangkap ruang guru dan perpustakaan. Sungguh bukan proses yang belajar yang maksimal. Tapi itulah potret pendidikan bagi warga dusun terpencil. Seadanya.
Seluruh aktifitas belajar mengajar dilakukan pada pagi hari, karena pada siang hingga sore hari sebagian guru beralih profesi sebagai petani. Begitu kenyataannya. Gaji yang diterima oleh pahlawan tanpa tanda jasa sekolah inpres di tempat terpencil itu tentu saja tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.
Sama seperti beberapa anak-anak lainnya. Wajah Nina ikut memucat. Hari itu pembagian raport. Hari keramat.
Suara adzan pertanda waktu shalat Isya memecah lamunan Nina. Melemparkannya kembali pada alam nyata. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan meremas-remas rambutnya yang cepak dengan gusar. Layar monitor computer berganti menjadi slide yang menampilkan gambar-gambar bergantian. Beranjak ia menuju kamar mandi. Berwudhu.
***
Wajah laki-laki itu tertegun memandang Nina. Bukan, tapi memandangi kepalanya. Tak ada yang terucap darinya, ia hanya diam tak berkata apa-apa. Namun puluhan tahun mengenalnya cukup membuat Nina mengerti apa yang tersimpan dalam diam laki-laki paruh baya itu. Ada sebuah tanya yang mengendap di benaknya, Kenapa?
18 tahun lalu,
“Waaa, bagusnya rambut anak abah. Potong dimana?,” tanyanya.
Nina terdiam. Tak berani menjawab karena ia tahu itu bukanlah pertanyaan apalagi pujian, namun bentuk sindiran. Nina terduduk pada pojok ruangan, menatap sang emak, seolah memohon bantuan.
“memangnya kenapa sih?,” terdengar suara si emak menjawab. Pun ia mengerti bahwa si abah bukan memuji namun tengah marah.
“gak kenapa-kenapa. Berarti aku ini tak punya anak perempuan ya. Anaknya laki-laki semua ternyata,” ucapnya lagi.
Ia beranjak. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia pakai bekerja di kebun. Nina kecil tetap terdiam tak berani memandang wajahnya.
Hari itu, rambut panjang Nina kecil dipangkas. Sang emak yang memang agak risih dengan anak-anak yang berambut panjang membawa Nina ke Bibik Subay dan dipotonglah rambutnya. Abah dan Emak Nina memang memiliki pendapat yang berbeda tentang itu. Abahnya yang menyukai anaknya dengan rambut panjangnya dan menganggap bahwa perempuan itu identik dengan rambutnya.
Hal itu berbuntut panjang. Berhari-hari si Abah diam seribu bahasa. Nina kecil hanya bisa terdiam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi melihat perbedaan pendapat orangtunya mengenai rambutnya. Nina bingung dan juga takut. Tapi toh tak ada yang bisa dilakukan.
Waktu berlalu. Ketika sang waktu berjalan dengan langkah tergesa. Mengganti menit menjadi jam, jam berubah menjelma menjadi hari. Kemudian bulan bertambah hingga tahun telah berlalu bersama waktu. September 2000, Nina kecil berevolusi.
***
Gemericik air hujan yang jatuh di atas asbes rumah terdengar merdu. Angan Nina mengembara jauh. Jari-jarinya mengetuk keyboard sementara tangan kirinya memainkan rambut pendeknya.
Tak ada yang ia fikirkan, namun kepalanya terasa penuh. Ada yang mengganggu fikiran Nina. Ada perasaan tak nyaman menyesaki ruang dadanya. Ada perasaan sedih yang menyelinap dan tak mampu terurai. Ia pandangi lagi barisan kalimat yang memenuhi layar monitornya. Formulir pendaftaran akademi kepolisian. Perlahan jarinya menggerakan kursor. Menutup semua jendela kerja yang terbuka. Dan mematikan komputernya.
Gelisah. Memejamkan mata dan menghilang ke negeri impian rasanya mungkin akan sedikit membantu melepaskan sejenak rasa tak nyaman yang menyesakinya.
Hening malam. Rintik hujan masih setia turun. Sudah bulan april, berarti musim hujan akan berganti dengan musim kemarau. Mulutnya bergerak berkomat-kamit, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dari kaki hingga kepala. Sunyi.
_END_
Seorang laki-laki bersuara dengan berkacak pinggang dengan kepala mendongak ke atas pohon kelapa yang tumbuh di depan rumah itu. Beberapa wajah terlihat menahan tawa melihat wajah pucat sosok di atas pohon itu.
“teruuuss! Jangan turun lagi. Tidur di situ aja!”, lanjutnya dengan suara penuh tekanan.
Sementara sesosok remaja kelas 3 SMP nampak terdiam di atas pohon kelapa dalam kebingungan dan ketakutan antara tetap di atas atau turun perlahan.
“Nina, turun!,” tiba-tiba sesosok wanita menyeruak dari balik wajah-wajah yang terkekeh-kekeh. Wanita asing yang tak asing.
Perlahan remaja itu turun.
WHEN WAS CHILD
Malam semakin hening dan pekat. Beberapa cahaya terlihat mengintip dari sela-sela rumah. Dusun itu seperti tak ada pada malam hari. Semuanya menghitam. Tak ada penerangan di luar selain cahaya rembulan dan kerlip bintang di kejauhan, karena aliran listrik belum sampai ke dusun itu. Tak terlihat apalagi terdengar apapun kecuali suara jangkrik yang bernyanyi diselingi suara binatang malam lain. Terlihat samar dua bayangan berjalan menerobos jalan setapak yang basah. Tergesa langkah mereka seolah dikejar oleh iblis yang hendak mematahkan kaki mereka dan menarik tubuh mereka tenggelam ke dasar tanah.
“Ayo, Wak. Cepat!,” seru salah seorang diantara mereka.
“Sabarlah. Ini jugak Uwak sudah cepat,” jawab suara seorang lainnya. Nampak sebuah buntalan kain terayun-ayun bersama langkahnya yang tergesa.
Tak lama terlihat sebuah gubuk sederhana. Cahaya lampu kecil mengintip dari sela-sela dinding yang terbuat dari bambu yang dicacah.
Beberapa jam kemudian.
Terdengar lengking tangisan bayi memecah malam yang pekat itu. Rabu, pukul 22.30 waktu Indonesia pada bagian barat, dengan perkiraan masa yaitu 9985 hari yang lalu.
Kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan keinginan melebihi batas kemampuan. Kanak-kanak. Namun seorang laki-laki muda terus mengajarinya bermimpi menggenggam dunia. Setiap malam perempuan yang terlahir 8 tahun lalu itu dihadapkan pada buku-buku yang berisi barisan angka, tulisan, hingga gambar-gambar. Tak ada bermain dalam kamus laki-laki muda itu buatnya.
Setiap malam ia akan menatapi buku-bukunya. Berpura-pura. Sembari mengamati laki-laki muda itu lengah. mengamati kapan ia akan beranjak dari kursinya. Tapi laki-laki itu tetap tegak duduk diam di atas kursinya dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap tebal.
“pergi dulu. Yasinan!,”
Pada malam ke sekian laki-laki muda itu berucap. Kalimat singkat keramat yang selalu ditunggu bocah itu. Ia bersorak riang dalam hati. Asyiiik!, akhirnya bebas.
“belajar yang betul! Awas kalo gak belajar,” laki-laki itu berkata-kata dengan nada memperingatkan sebelum menghilang dari balik pintu kayu. Ia menjawab dengan anggukan, sementara itu sesosok tubuh wanita berbaring diam tak jauh darinya. Perlahan ia menutup bukunya. Tak lama ia berjingkat-jingkat menuju pintu dimana sosok laki-laki itu menghilang.
Berbaur dalam keramaian bersama anak-anak dusun lainnya.
“hom hila hompimpah,” teriak mereka bersama-sama. “Buang jaga!,” teriak kerumunan anak-anak itu serentak. Tak lama terlihatlah bocah-bocah yang berlarian di bawah sinar bulan menghindari bocah laki-laki bernama Buang itu, menghindari sentuhan tangannya yang berarti tertangkap.
“duukk!!,” terdengar benturan.
Sesosok tubuh mungil terpaku diam memegangi perutnya. Darah mengalir pelan dari sela-sela jari-jari yang menutupinya. Memandangi dengan nanar pohon yang baru saja berbenturan dengan tubuhnya. Nampak sebuah bagiannya meruncing. Sepertinya bagian itulah yang menghadirkan perih di perut Nina.
“Nina luka!...” teriak salah seorang bocah itu.
Mendengar itu bocah perempuan yang dipanggil dengan Nina itu segera berlari dengan menahan tangis dan juga perih yang berasal dari tubuhnya. Sesosok wajah dengan penuh amarah membayang di wajahnya. Dengan penuh ketakutan ia berlari menuju sebuah rumah di ujung dusun.
Bocah itu meringkuk di atas kasurnya. Darah itu sudah tak mengalir lagi. Sudah dibersihkan dan dibalut dengan bubuk kopi. Begitulah cara warga dusun mengobati luka. Tak ada kata rumah sakit apalagi dokter. Kalau pun mereka bersentuhan dengan fasilitas kesehatan, paling-paling mantri praktik yang datang sebulan sekali. Ia menutupi wajahnya menghindari tatapan laki-laki itu.
***
Buang, Sangkut, Topan, Leo, dan Dadang telah menunggunya diujung dusun. Beberapa orang anak laki-laki itu terlihat membawa golok.
“lame nian ngan ni (lama sekali kamu tuh),” gerutu Sangkut padanya
“Mang Burhan baru pergi ya, Nin?,’, ujar Leo. Nina menganggukkan kepala.
Beriringan mereka berjalan menuju hutan kecil tak jauh dari dusun mereka. Mereka memang suka sekali bermain ke hutan, mencari biji-biji buah karet yang biasa mereka adu, atau terkadang mencari buah-buahan hutan. Atau mereka akan pergi memasang perangkap ikan pada sebuah lengkungan bumi yang membentuk genangan air yang luas. Di sanalah sebagian besar penduduk dusun mandi dan mencuci. Sebelum senja mereka akan segera pulang, sebelum ayah Nina pulang dari kebun.
Semua anak-anak dusun segan dan takut pada ayah Nina. Bukan hanya karena terkenal dengan ketegasannya, namun juga karena ayah Nina adalah salah seorang pengurus masjid. Dusun mereka sangat menghormati mereka yang menjadi pengurus masjid, layaknya disebut petinggi dusun.
“Kemarin itu, aku diikat di tiang rumah,” bibir mungil Nina bercerita.
“Kenapa?,” Tanya mereka serentak.
“Gara-gara aku nginap di rumah Ugok dan Nyai, dan gak bilang-bilang,” Nina menyeringai sembari menebas-nebaskan golok di tangannya pada semak-semak di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui. Ugok adalah sebutan bagi kakek dan Nyai adalah sebutan bagi nenek di dusun itu.
“ooo…”
Bibir-bibir mungil anak-anak itu terus berceloteh bergantian. Mengiringi tiap gerak mereka. Kadang mereka berlarian, berlomba yang tercepat. Kadang mereka berhenti pada sebuah kebun, manakala mata mereka menemukan buah-buahan yang tentu saja mereka curi, karena tumbuh di kebun yang ada pemiliknya.
Seperti itulah kehidupan anak-anak di dusun terpencil itu. Tak ada boneka, mobil-mobilan seri terbaru dengan remote controlnya, robot-robot keren yang gagah, apalagi sepeda. Anak-anak dusun hanya mengenal permainan kampung sederhana atau menjelajahi hutan, sungai, dan kebun sebagai sarana mereka bermain. Alam adalah mainan pemberian Tuhan untuk mereka.
***
I’M NOT WOMEN, IM A MAN!
Segerombolan anak-anak berseragam merah putih berkerumun di depan pintu masuk sebuah ruang kelas. Sebagian wajah terlihat pucat dan berkeringat seolah sedang menanti giliran untuk dihukum gantung. Terlihat satu persatu laki-laki dan wanita berdatangan dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sebuah sekolah inpres yang berdiri di atas tanah dengan lapangan yang luasnya dua kali luas lapangan sepakbola. Sekolah itu memiliki 4 ruang kelas. Benar, 4 ruang. Setiap ruangan dipergunakan oleh dua kelas sekaligus. Kegiatan belajar dua kelas itu dipisahkan oleh sekat triplek yang membagi ruangan menjadi dua bagian. Satu ruangan sisa dipergunakan sebagai ruang kepala sekolah merangkap ruang guru dan perpustakaan. Sungguh bukan proses yang belajar yang maksimal. Tapi itulah potret pendidikan bagi warga dusun terpencil. Seadanya.
Seluruh aktifitas belajar mengajar dilakukan pada pagi hari, karena pada siang hingga sore hari sebagian guru beralih profesi sebagai petani. Begitu kenyataannya. Gaji yang diterima oleh pahlawan tanpa tanda jasa sekolah inpres di tempat terpencil itu tentu saja tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.
Sama seperti beberapa anak-anak lainnya. Wajah Nina ikut memucat. Hari itu pembagian raport. Hari keramat.
Suara adzan pertanda waktu shalat Isya memecah lamunan Nina. Melemparkannya kembali pada alam nyata. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan meremas-remas rambutnya yang cepak dengan gusar. Layar monitor computer berganti menjadi slide yang menampilkan gambar-gambar bergantian. Beranjak ia menuju kamar mandi. Berwudhu.
***
Wajah laki-laki itu tertegun memandang Nina. Bukan, tapi memandangi kepalanya. Tak ada yang terucap darinya, ia hanya diam tak berkata apa-apa. Namun puluhan tahun mengenalnya cukup membuat Nina mengerti apa yang tersimpan dalam diam laki-laki paruh baya itu. Ada sebuah tanya yang mengendap di benaknya, Kenapa?
18 tahun lalu,
“Waaa, bagusnya rambut anak abah. Potong dimana?,” tanyanya.
Nina terdiam. Tak berani menjawab karena ia tahu itu bukanlah pertanyaan apalagi pujian, namun bentuk sindiran. Nina terduduk pada pojok ruangan, menatap sang emak, seolah memohon bantuan.
“memangnya kenapa sih?,” terdengar suara si emak menjawab. Pun ia mengerti bahwa si abah bukan memuji namun tengah marah.
“gak kenapa-kenapa. Berarti aku ini tak punya anak perempuan ya. Anaknya laki-laki semua ternyata,” ucapnya lagi.
Ia beranjak. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia pakai bekerja di kebun. Nina kecil tetap terdiam tak berani memandang wajahnya.
Hari itu, rambut panjang Nina kecil dipangkas. Sang emak yang memang agak risih dengan anak-anak yang berambut panjang membawa Nina ke Bibik Subay dan dipotonglah rambutnya. Abah dan Emak Nina memang memiliki pendapat yang berbeda tentang itu. Abahnya yang menyukai anaknya dengan rambut panjangnya dan menganggap bahwa perempuan itu identik dengan rambutnya.
Hal itu berbuntut panjang. Berhari-hari si Abah diam seribu bahasa. Nina kecil hanya bisa terdiam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi melihat perbedaan pendapat orangtunya mengenai rambutnya. Nina bingung dan juga takut. Tapi toh tak ada yang bisa dilakukan.
Waktu berlalu. Ketika sang waktu berjalan dengan langkah tergesa. Mengganti menit menjadi jam, jam berubah menjelma menjadi hari. Kemudian bulan bertambah hingga tahun telah berlalu bersama waktu. September 2000, Nina kecil berevolusi.
***
Gemericik air hujan yang jatuh di atas asbes rumah terdengar merdu. Angan Nina mengembara jauh. Jari-jarinya mengetuk keyboard sementara tangan kirinya memainkan rambut pendeknya.
Tak ada yang ia fikirkan, namun kepalanya terasa penuh. Ada yang mengganggu fikiran Nina. Ada perasaan tak nyaman menyesaki ruang dadanya. Ada perasaan sedih yang menyelinap dan tak mampu terurai. Ia pandangi lagi barisan kalimat yang memenuhi layar monitornya. Formulir pendaftaran akademi kepolisian. Perlahan jarinya menggerakan kursor. Menutup semua jendela kerja yang terbuka. Dan mematikan komputernya.
Gelisah. Memejamkan mata dan menghilang ke negeri impian rasanya mungkin akan sedikit membantu melepaskan sejenak rasa tak nyaman yang menyesakinya.
Hening malam. Rintik hujan masih setia turun. Sudah bulan april, berarti musim hujan akan berganti dengan musim kemarau. Mulutnya bergerak berkomat-kamit, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dari kaki hingga kepala. Sunyi.
_END_
Kucing

“Kotor, dek..”, suara itu mengeluh
“Masuk!”, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih mirip perintah yang tak boleh dibantah
“Deeekk!!!”, kali ini terdengar agak berteriak berusaha menahan kesal.
“apa sih?”, sebuah suara menyahut. Terdengar asal jawab dan enggan. Sementara terdengar suara mengeong halus di sela-sela suara yang saling bersahutan itu
“Kasih makan aja, jangan dipegang-pegang”
“Ya ampuuunn. Lihat! Kucingnya masuk”, suara itu memberitahu, lebih tepatnya protes. “Jangan dipegang. Lihat tubuhnya kotor”
“Deeekk!!!!”, suara itu benar-benar berteriak sekarang.
Aku terus menyimak dialog itu dengan tetap memejamkan mata. Sepertinya ada seekor kucing yang dekil, menurut salah satu suara itu, yang jadi perdebatan dua suara tersebut. Suara yang satu menginginkan kucing itu sementara suara yang lain merasa jijik dengannya.
“ugh! Jijik aku. Ku hempaskan kucing ini nanti”
Waah, sudah statemen kriminal, nih. Gumam hatiku. Kalimat itu membawaku bergerak bangun menuju asal suara-suara itu. Aku tak menyukai kalimat itu, meski aku tahu itu hanyalah sebuah gertakan agar suara yang lain segera menyingkirkan kucing tersebut.
Aku tak menyukai kalimat itu bukan hanya karena aku begitu menyayangi makhluk Tuhan bernama kucing itu, namun karena kalimat tersebut sama sekali tak mendidik dan penuh dengan kekerasan.
Ku buka pintu dan mengamati yang terjadi. Sesosok tubuh kurus ceking sedang berkacak pinggang, sementara sesosok lain mondar mandir mengurusi kucing dekilnya. Ah, tidak terlalu dekil, menurutku.
Melihatku, sosok bocah kecil itu segera melepaskan kucing kecilnya keluar pintu dan menjauh
“Panca, sini!”, panggilku
Dengan agak takut-takut bocah itu mendekat. Seolah merasa ia akan dimarahi.
“Ambil kucingnya, terus mandiin”, lanjutku
seketika wajah itu berbinar sumringah.
Suara mengeong-ngeong kucing kecil itu terdengar melengking di pagi itu. Aku terkikik dalam gudang semediku mendengar suara panik bocah laki-laki itu mengejar kucingnya yang meronta untuk dimandikan.
Hihihihih, kesian sekali kau kucing kecil, pagi-pagi sudah dapat musibah, ucap hatiku dengan senyum.
“Lagi nyari apa? Kutunya?”, Tanya suara pemilik tubuh kurus itu. Tak terdengar jawaban, namun sepertinya menjawab dengan anggukan kepala.
“Sikatin giginya sekalian biar bersih!”
Kalimat kedua membuatku terkikik perlahan. Bagaimanapun seisi rumah ini menyukai kucing, meski dengan kadar yang berbeda-beda.
Beberapa saat kemudian suasana hening. Hanya tersisa ngeong-ngeong pilu si kucing kecil yang baru saja ditimpa musibah. Sepertinya acara pemandian telah selesai.
Perlahan aku beranjak keluar……….
“Bukan begitu caranya mendidik adik. Dia boleh melakukan hal yang dia suka bila itu baik. Kucing itu memang kotor menurutmu. Tapi tidak lantas kau boleh memerintah dia untuk membuangnya. Bayangkan perasaannya kala menemukan kucing itu hingga membawany pulang. Dia tak lantas harus membuangnya hanya karena kucing itu kotor dan dekil,” kupandangi sosok kurus itu.
“Ajari. Ajari cara merawatnya. Bagaimana agar bersih, perintahkan untuk dimandikan setiap kali terlihat kotor..”, ucapku panjang lebar pada sosok kurus itu,”
“Biarkan dia belajar sesuatu. Dia tak harus mengikuti apa yang kau suka dan menjauhi apa yang tak kau suka..”, lanjutku
“Intinya biarkan belajar dari apa yang dia lakukan. Dan ajari bila dia belum mengerti atau keliru”, ujarku kembali pada sang kakak.
Sementara bocah kecil itu nyengir riang, merasa menang.
“Apa nyengir-nyengir?”, aku menoleh padanya
“Bukan cuma kucing yang harus mandi biar bersih dan gak jorok bau. Kau juga harus mandi. Sana!”
Ia beranjak pergi. Mandi.
Ah, kadang aku merasa letih karena acap kali harus menjadi wasit di rumah ini. Melerai perdebatan demi perdebatan dan mengarahkannya menjadi dialog positif. Melerai pertengkaran yang tak jarang mulai menggunakan kekuatan dan aku fisik. Terkadang capek ketika harus terus berganti peran mulai dari jaksa, pengacara, hakim, guru, teman, wasit, dan peran-peran lainnya. Selalu butuh energy untuk menggiring penghuni rumah ini, bahkan untuk mengingatkan saat pelaksanaan shalat sekalipun harus selalu dikomandoi. Aku jadi mirip jam weker. Merasa seperti panglima yang memimpin pasukan yang seringkali bandel, tak mengerti apa-apa, brutal, atau bahkan tak peduli dengan perintah atau pun nasehat.
Namun sekesal semarah apapun, tak pernah mampu aku mengucapkan kalimat-kalimat umpatan pada mereka, karena sadar itu akan jadi pembenaran dan menjadi perilaku yang ditiru. Tak diajari saja mereka sudah jadi anak-anak yang pandai dan selalu mengumpat dengan nama-nama penghuni kebun binatang.
Tak sanggup tangan dan kaki melayang pada tubuh-tubuh kekar itu, bukan karena tak mampu, namun karena tak mau. Karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan-kekerasan baru.
Itulah sejenak cerita pagi. Sekelumit kisah dari banyak kisah-kisah lain tentang mereka yang menuntut banyak padaku. Menuntut ketegaran dan kekokohan, serta kesabaran tiada habis. Menuntut permainan peranan yang senantiasa berubah dalam tiap kisahnya. Seringkali keletihan tanpa sadar membuat lisanku berucap, kapankah mereka bisa kulepaskan. Kapankah mereka bisa berdiri tegak di atas kaki mereka sendiri dan tak menjadi beban. Aku selalu menunggu dengan sabar saat itu tiba, saat dimana aku akan bebas melangkah meninggalkan gudang semediku. Melangkah mengitari bumi yang indah dan mengelilingi jagad raya.
Dalam keletihan ku pejamkan mata, sesaat ku buka mata kembali, melirik jam pada ponsel yang tergeletak di atas kepalaku 06:47AM, “mmmm, masih ada waktu 3 jam untuk terlelap kembali”, gumamku sembari menutup mata.
Logika Terbalik
Siang itu cukup cerah, matahari bersinar dengan penuh kepercayaan diri. Menyinari bumi dengan kehangatannya yang menghadirkan kehidupan bagi alam semesta.
“Assalamu’alaykum..” terdengar suara salam.
“Wa’alaymukussalam warohmatulloh,” sahutku sembari membuka pintu
Sesosok wajah berbalut jilbab coklat muda berdiri dengan senyum lebar.
“eeee… yaa ampun. Ada angin apa? masuk..masuk,” lanjutku
Lama tak bertemu. Seorang kawan lama. Tak lama kami sudah terlibat pembicaraan. Santai saja, karena kami bukan orang-orang penting yang suka berbicara hal2 berat dan serius. Tema seputar suka dan duka ekonomi menjadi topik yang cukup jadi pembicaraan yang panjang. Hihihihih, sebagian besar intinya penderitaan.
Tapi kemudian sang kawan mencuatkan sebuah tema lain. Cinta, aha!.
Cinta, selalu menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Tema yang menyentuh semua ruang dan waktu, kaya atau miskin, tanpa batas usia sekalipun, baik yang sudah tua, setengah baya, dewasa, hingga anak-anak yang baru menginjak usia remaja. Semua begitu antusias bila mendengarnya. Mata berbinar dan wajah menjadi merah bersemu.
Bahkan, para penguasa bisnis dunia pun menjadikan ‘cinta’ sebagai sumber tambang emas penghasil uang. Lihat saja, betapa gencar mereka mempromosikan segala hal yang berbau tentang cinta. Dengan penguasaan media mereka mulai merangsek, dari sinetron, film, fashion, hingga moment. Kita dapat melihat bertapa hingar bingarnya pusat perbelanjaan, mall, café, dan tempat-tempat keramaian lainnya kala menjelang valentine days, yang diklaim sebagai hari kasih sayang. Semua berlomba mempromosikan hawa ‘cinta’.
Aku jadi sering tersenyum geli melihatnya, lihatlah mereka, kasian sekali ya, dalam kurun waktu 365 hari dalam putaran massa setahun, mereka hanya dapat ‘jatah’ sehari.
Ah, itulah. Konspirasi dunia melalui bisnis dan remaja. Berat membahasnya. Gurita.
“Beneran, deh, mba. Saya dah capek sendirian,” ucapnya. Ini anak termasuk orang yang punya tata karma dan tingkat kesopanan yang tinggi. Padahal usianya di atasku, tapi dia selalu memanggilku dengan sebutan, mba. Sedangkan aku hanya memanggil nama atau ber elu gw saja dengannya
“Emang ngapain aja selama ini, sampe sendirian aja capek? Habis mbabat hutan, tah?,” jawabku usil. Aku terkikik melihatnya mendelik kesal merasa dibercandai
Perjuangan berat hidup sang kawan, kebosanan dan keletihannya menghadapi hidup membuatnya berfikir bahwa I want and must get a married!
Wuihh! Aku terdiam, tema roaming, fikirku. Beberapa waktu kubiarkan sang kawan berkeluh kesah dan bercerita tanpa disela.
“Saya tuh capek sendirian, gak ada teman berbagi,” lanjutnya. “Apalagi sekarang ada abang di rumah, tambah stress saya. Rasanya di luar rumah lebih nyaman dari di rumah”
“Eh, abangmu udah di rumah lagi?”, sahutku. Teringat olehku siapa abangnya. Seorang laki-laki yang agak terganggu kestabilan jiwanya.
“Ya sok atuh, lu kan punya itu yang namanya murobbi. Ngajuin aja, beres kan?,” jawabku. Bukan jawaban solutif. Gak aku suruh pun pasti dah dia lakukan.
“Aahh, hari gini. Antrian itu dah panjang mba. Ikhwan-ikhwan itu kan cari yang cantik, muda, yang kayak saya mah biodatanya ditumpukkan paling bawah,” keluhnya
“And, so..?”
Pembicaraan makin ‘dalem’. Sebenarnya aku enggan, benar-benar enggan berbicara dengan tema-tema seperti ini.
“Minta tolong teman-teman kantor lu, kek. Kan lu kerjanya di sekolah Islam. Pasti di sana banyak pria-pria sholeh berjenggot, atau minta dikenalkan dengan teman-teman mereka yang juga udah siap menikah. Beres kan,” ujarku. Sebetulnya dengan maksud menghentikan pembicaraan.
“Tau ah, saya mah pusing. Pengennya nikah tapi gak tau sama siapa,”
Aku tersenyum mendengarnya. Bagus deh kalo pusing, biar temanya berhenti, ucap hatiku.
Aku beringsut duduk tegak dengan kaki bersila di hadapannya. Ku pasang ekspresi serius. Memang ingin bicara serius. Bagaimana pun tamu harus dihormati, meski pembicaraan kurang begitu nyaman diikuti.
“Well,.. Emang sudah siap nikah?,” tanyaku menyelidik
“Sudah, kenapa?,” tanyanya balik menyelidik
“Memangnya sudah mempersiapkan apa?,” tanyaku lagi
“Mmmmm…”
Ia tak perlu menjawab. Aku percaya ia sudah siap untuk itu, hanya saja memang tak perlu diungkapkan panjang lebar.
“Pernah, gak, berfikir terbalik?,” lanjutku
“Maksudnya,” ia balik bertanya, menyelidik.
“Iya. Berfikir terbalik,” aku membiarkannya terdiam untuk mencerna kalimatku.
“Setiap orang, laki-laki dan perempuan yang sudah memasuki usia matang, pasti siap dan mempersiapkan diri untuk menikah, ya tho?,” ujarku. “Tapi, pernahkah mencoba untuk berfikir terbalik, untuk bersiap-siap pula, apabila ternyata dalam hidup ini tak tertulis menikah dalam catatan takdir kita?,” lanjutku. Dia bengong.
“Setiap orang yang hidup dengan takdir sebagai manusia tentulah memiliki impian yang sama. Memiliki teman hidup, menjadi istri dan suami, menjadi ayah dan ibu dari anak-anak, dan menjadi kakek nenek dari cucu-cucu yang lucu-lucu kala usia tua. Namun bukankah kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa tidak semua orang memiliki garis takdir yang sama,” tatapku lurus pada matanya.
Ia semakin tak bersuara. Entah apa yang berputar di benaknya. Aku tak peduli. Kulanjutkan kata-kataku.
“Tidak sedikit orang yang sepanjang hayatnya ia habiskan tanpa seorang teman, banyak yang kembali ke pangkuan penggenggam alam saat masih menyandang titel single, atau menghembuskan nafas sebelum sempat merasakan gemerlap gejolak dunia remaja,” lanjutku.
“Tentu saja kita meyakini bahwa Allah menciptakan hambanya berpasang-pasangan. Namun kenyataan hidup yang Tuhan gariskan pada hamba-hambanya pula lah yang mengajarkan pada kita, bahwa boleh jadi pasangan itu IA ciptakan bukan untuk di dunia ini, namun boleh jadi pada kehidupan setelah kematian,” ucapku dengan tetap menatap lurus padanya. Mencoba menyelami fikirannya.
Kubiarkan waktu seolah berhenti. Hening. Kubiarkan ia sibuk dengan fikirannya sendiri.
“Hei!,” aku menjawil lengannya. “sedang coba berfikir terbalik ya?,” godaku
“Iihh… gak mau saya.” Jeritnya.
“Laaah, kan gw bilang seandainya. Seandainya takdir tak menuliskannya dalam hidup lu. Seandainya. Nah, udah bersiap-siap belum?,”
“Kalo belum bersiap-siap, ya disiapin dari sekarang”, aku terkekeh ringan.
“Ihh..gak ah!”, jawabnya lagi
“Gw serius, lho dengan kalimat panjang gw tadi,” tatapku
Ia terdiam sesaat
“Mba. Mmmm, mba gak……..?,” ia memandangku dengan tatapan aneh
“Enggak apa?,” kejarku dengan senyum menggoda. “Gak mau menikah?,” lanjutku lagi. Dia terdiam.
“Tak ada ruginya berfikir terbalik dari kebanyakan orang,” ujarku. “Tak ada salahnya menyiapkan diri bila harus sendiri. Sama seperti ketika sebagian kita berfikir harus bersiap-siap saat ingin dan akan menikah,”
“Jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Bersabarlah ketika menunggu, karena jodoh tak kan tertukar, Tuhan tak pernah khilaf. Dan belajarlah Ridho bila ternyata takdir tak seperti yang diimpikan, agar hidup tak menjadi seperti beban,” Aku mengamatinya.
“Gw tak sedang mendoktrin lu, lho. Toh hidup kita ini dijalani masing-masing. Hanya berusaha agar lu gak stress mikirin kapan lu nikahnya. Jangan terlalu difikirin, tar lu gila lagi,” godaku.
Ia masih memandangiku dengan tatapan heran dan aneh. Aku kembali tersenyum kecil.
“oya, satu lagi,” ujarku tak peduli dengan tatapannya, “apapun ucapan orang, jangan terlalu dimasukan ke hati, ya!”
Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan, “kapan mba, mas, kak?” menjadi sesuatu yang makin merumitkan persoalan. Aku tak menyalahkan ketika bibir-bibir itu melontar tanya, dengan berbaik sangka bahwa setiap pertanyaan hadir oleh karena besarnya perhatian dan kasih sayang mereka terhadap yang ditanya. Namun, mereka mungkin tak menyadari bahwa itu sungguh tak mengenakkan diterima oleh gendang telingan orang-orang yang mereka tanyai.
Sangat menyadari hal tersebut, aku sendiri sangat menghindari pertanyaan, “kapan mba, mas?”, kepada siapapun. Karena bagiku, ekspresi menyayangi dan besarnya perhatian terhadap saudara saudari kita, tak harus diungkapkan dalam bentuk pertanyaan seperti itu.
Boleh jadi kita mengucapkannya dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang utuh. Namun, coba renungkan sebelum bertanya, apakah pertanyaan itu membahagiakan mereka yang ditanya? atau justru menyakitinya?
Usia yang menginjak usia matang, kebosanan dalam aktivitas, keletihan dalam menghadapi cobaan hidup, lelah dengan penderitaan, hingga tak tahan dengan tuntutan keluarga, seringkali jadi penyebab lisan-lisan hamba-hamba bertanya pada Tuhan. Kapan?
Kapan?
Kapan?
Serta, berapa lama lagi?
Tak ada yang mampu menjawabnya, karena semua adalah mistery, yang hingga kapan pun tak kan mampu dikuak oleh kekuatan manusia yang berbatas. Namun, kesabaran yang tanpa batas dan penerimaan yang utuh adalah kekuatan maha dasyat yang mampu menguatkan hamba Tuhan dalam hidupnya.
“Sudah ah. Easy going aja. Jalani apa yang ada,”, ujarku lagi. “Kata peribahasa, ada banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau kata gw, ada banyak cara untuk hidup bahagia. Kebahagiaan tak semata hanya diperoleh dengan menikah. Tak menikah pun kita bisa bahagia, kok. Asal Ridho dan bersyukur dengan apa yang ada”
Bdl, Januari 2010
“Assalamu’alaykum..” terdengar suara salam.
“Wa’alaymukussalam warohmatulloh,” sahutku sembari membuka pintu
Sesosok wajah berbalut jilbab coklat muda berdiri dengan senyum lebar.
“eeee… yaa ampun. Ada angin apa? masuk..masuk,” lanjutku
Lama tak bertemu. Seorang kawan lama. Tak lama kami sudah terlibat pembicaraan. Santai saja, karena kami bukan orang-orang penting yang suka berbicara hal2 berat dan serius. Tema seputar suka dan duka ekonomi menjadi topik yang cukup jadi pembicaraan yang panjang. Hihihihih, sebagian besar intinya penderitaan.
Tapi kemudian sang kawan mencuatkan sebuah tema lain. Cinta, aha!.
Cinta, selalu menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Tema yang menyentuh semua ruang dan waktu, kaya atau miskin, tanpa batas usia sekalipun, baik yang sudah tua, setengah baya, dewasa, hingga anak-anak yang baru menginjak usia remaja. Semua begitu antusias bila mendengarnya. Mata berbinar dan wajah menjadi merah bersemu.
Bahkan, para penguasa bisnis dunia pun menjadikan ‘cinta’ sebagai sumber tambang emas penghasil uang. Lihat saja, betapa gencar mereka mempromosikan segala hal yang berbau tentang cinta. Dengan penguasaan media mereka mulai merangsek, dari sinetron, film, fashion, hingga moment. Kita dapat melihat bertapa hingar bingarnya pusat perbelanjaan, mall, café, dan tempat-tempat keramaian lainnya kala menjelang valentine days, yang diklaim sebagai hari kasih sayang. Semua berlomba mempromosikan hawa ‘cinta’.
Aku jadi sering tersenyum geli melihatnya, lihatlah mereka, kasian sekali ya, dalam kurun waktu 365 hari dalam putaran massa setahun, mereka hanya dapat ‘jatah’ sehari.
Ah, itulah. Konspirasi dunia melalui bisnis dan remaja. Berat membahasnya. Gurita.
“Beneran, deh, mba. Saya dah capek sendirian,” ucapnya. Ini anak termasuk orang yang punya tata karma dan tingkat kesopanan yang tinggi. Padahal usianya di atasku, tapi dia selalu memanggilku dengan sebutan, mba. Sedangkan aku hanya memanggil nama atau ber elu gw saja dengannya
“Emang ngapain aja selama ini, sampe sendirian aja capek? Habis mbabat hutan, tah?,” jawabku usil. Aku terkikik melihatnya mendelik kesal merasa dibercandai
Perjuangan berat hidup sang kawan, kebosanan dan keletihannya menghadapi hidup membuatnya berfikir bahwa I want and must get a married!
Wuihh! Aku terdiam, tema roaming, fikirku. Beberapa waktu kubiarkan sang kawan berkeluh kesah dan bercerita tanpa disela.
“Saya tuh capek sendirian, gak ada teman berbagi,” lanjutnya. “Apalagi sekarang ada abang di rumah, tambah stress saya. Rasanya di luar rumah lebih nyaman dari di rumah”
“Eh, abangmu udah di rumah lagi?”, sahutku. Teringat olehku siapa abangnya. Seorang laki-laki yang agak terganggu kestabilan jiwanya.
“Ya sok atuh, lu kan punya itu yang namanya murobbi. Ngajuin aja, beres kan?,” jawabku. Bukan jawaban solutif. Gak aku suruh pun pasti dah dia lakukan.
“Aahh, hari gini. Antrian itu dah panjang mba. Ikhwan-ikhwan itu kan cari yang cantik, muda, yang kayak saya mah biodatanya ditumpukkan paling bawah,” keluhnya
“And, so..?”
Pembicaraan makin ‘dalem’. Sebenarnya aku enggan, benar-benar enggan berbicara dengan tema-tema seperti ini.
“Minta tolong teman-teman kantor lu, kek. Kan lu kerjanya di sekolah Islam. Pasti di sana banyak pria-pria sholeh berjenggot, atau minta dikenalkan dengan teman-teman mereka yang juga udah siap menikah. Beres kan,” ujarku. Sebetulnya dengan maksud menghentikan pembicaraan.
“Tau ah, saya mah pusing. Pengennya nikah tapi gak tau sama siapa,”
Aku tersenyum mendengarnya. Bagus deh kalo pusing, biar temanya berhenti, ucap hatiku.
Aku beringsut duduk tegak dengan kaki bersila di hadapannya. Ku pasang ekspresi serius. Memang ingin bicara serius. Bagaimana pun tamu harus dihormati, meski pembicaraan kurang begitu nyaman diikuti.
“Well,.. Emang sudah siap nikah?,” tanyaku menyelidik
“Sudah, kenapa?,” tanyanya balik menyelidik
“Memangnya sudah mempersiapkan apa?,” tanyaku lagi
“Mmmmm…”
Ia tak perlu menjawab. Aku percaya ia sudah siap untuk itu, hanya saja memang tak perlu diungkapkan panjang lebar.
“Pernah, gak, berfikir terbalik?,” lanjutku
“Maksudnya,” ia balik bertanya, menyelidik.
“Iya. Berfikir terbalik,” aku membiarkannya terdiam untuk mencerna kalimatku.
“Setiap orang, laki-laki dan perempuan yang sudah memasuki usia matang, pasti siap dan mempersiapkan diri untuk menikah, ya tho?,” ujarku. “Tapi, pernahkah mencoba untuk berfikir terbalik, untuk bersiap-siap pula, apabila ternyata dalam hidup ini tak tertulis menikah dalam catatan takdir kita?,” lanjutku. Dia bengong.
“Setiap orang yang hidup dengan takdir sebagai manusia tentulah memiliki impian yang sama. Memiliki teman hidup, menjadi istri dan suami, menjadi ayah dan ibu dari anak-anak, dan menjadi kakek nenek dari cucu-cucu yang lucu-lucu kala usia tua. Namun bukankah kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa tidak semua orang memiliki garis takdir yang sama,” tatapku lurus pada matanya.
Ia semakin tak bersuara. Entah apa yang berputar di benaknya. Aku tak peduli. Kulanjutkan kata-kataku.
“Tidak sedikit orang yang sepanjang hayatnya ia habiskan tanpa seorang teman, banyak yang kembali ke pangkuan penggenggam alam saat masih menyandang titel single, atau menghembuskan nafas sebelum sempat merasakan gemerlap gejolak dunia remaja,” lanjutku.
“Tentu saja kita meyakini bahwa Allah menciptakan hambanya berpasang-pasangan. Namun kenyataan hidup yang Tuhan gariskan pada hamba-hambanya pula lah yang mengajarkan pada kita, bahwa boleh jadi pasangan itu IA ciptakan bukan untuk di dunia ini, namun boleh jadi pada kehidupan setelah kematian,” ucapku dengan tetap menatap lurus padanya. Mencoba menyelami fikirannya.
Kubiarkan waktu seolah berhenti. Hening. Kubiarkan ia sibuk dengan fikirannya sendiri.
“Hei!,” aku menjawil lengannya. “sedang coba berfikir terbalik ya?,” godaku
“Iihh… gak mau saya.” Jeritnya.
“Laaah, kan gw bilang seandainya. Seandainya takdir tak menuliskannya dalam hidup lu. Seandainya. Nah, udah bersiap-siap belum?,”
“Kalo belum bersiap-siap, ya disiapin dari sekarang”, aku terkekeh ringan.
“Ihh..gak ah!”, jawabnya lagi
“Gw serius, lho dengan kalimat panjang gw tadi,” tatapku
Ia terdiam sesaat
“Mba. Mmmm, mba gak……..?,” ia memandangku dengan tatapan aneh
“Enggak apa?,” kejarku dengan senyum menggoda. “Gak mau menikah?,” lanjutku lagi. Dia terdiam.
“Tak ada ruginya berfikir terbalik dari kebanyakan orang,” ujarku. “Tak ada salahnya menyiapkan diri bila harus sendiri. Sama seperti ketika sebagian kita berfikir harus bersiap-siap saat ingin dan akan menikah,”
“Jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Bersabarlah ketika menunggu, karena jodoh tak kan tertukar, Tuhan tak pernah khilaf. Dan belajarlah Ridho bila ternyata takdir tak seperti yang diimpikan, agar hidup tak menjadi seperti beban,” Aku mengamatinya.
“Gw tak sedang mendoktrin lu, lho. Toh hidup kita ini dijalani masing-masing. Hanya berusaha agar lu gak stress mikirin kapan lu nikahnya. Jangan terlalu difikirin, tar lu gila lagi,” godaku.
Ia masih memandangiku dengan tatapan heran dan aneh. Aku kembali tersenyum kecil.
“oya, satu lagi,” ujarku tak peduli dengan tatapannya, “apapun ucapan orang, jangan terlalu dimasukan ke hati, ya!”
Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan, “kapan mba, mas, kak?” menjadi sesuatu yang makin merumitkan persoalan. Aku tak menyalahkan ketika bibir-bibir itu melontar tanya, dengan berbaik sangka bahwa setiap pertanyaan hadir oleh karena besarnya perhatian dan kasih sayang mereka terhadap yang ditanya. Namun, mereka mungkin tak menyadari bahwa itu sungguh tak mengenakkan diterima oleh gendang telingan orang-orang yang mereka tanyai.
Sangat menyadari hal tersebut, aku sendiri sangat menghindari pertanyaan, “kapan mba, mas?”, kepada siapapun. Karena bagiku, ekspresi menyayangi dan besarnya perhatian terhadap saudara saudari kita, tak harus diungkapkan dalam bentuk pertanyaan seperti itu.
Boleh jadi kita mengucapkannya dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang utuh. Namun, coba renungkan sebelum bertanya, apakah pertanyaan itu membahagiakan mereka yang ditanya? atau justru menyakitinya?
Usia yang menginjak usia matang, kebosanan dalam aktivitas, keletihan dalam menghadapi cobaan hidup, lelah dengan penderitaan, hingga tak tahan dengan tuntutan keluarga, seringkali jadi penyebab lisan-lisan hamba-hamba bertanya pada Tuhan. Kapan?
Kapan?
Kapan?
Serta, berapa lama lagi?
Tak ada yang mampu menjawabnya, karena semua adalah mistery, yang hingga kapan pun tak kan mampu dikuak oleh kekuatan manusia yang berbatas. Namun, kesabaran yang tanpa batas dan penerimaan yang utuh adalah kekuatan maha dasyat yang mampu menguatkan hamba Tuhan dalam hidupnya.
“Sudah ah. Easy going aja. Jalani apa yang ada,”, ujarku lagi. “Kata peribahasa, ada banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau kata gw, ada banyak cara untuk hidup bahagia. Kebahagiaan tak semata hanya diperoleh dengan menikah. Tak menikah pun kita bisa bahagia, kok. Asal Ridho dan bersyukur dengan apa yang ada”
Bdl, Januari 2010
Penantian,..
Sesosok laki-laki tua duduk dengan angkuh
Garang tatapnya menelusuri tiap detil wajah di hadapannya
Menggelegar suara yang ia semburkan dari pita suaranya
Dan sesosok tubuh kecil di hadapannya terdiam kaku membisu,
Memandangi, tak peduli..
Dalam jiwa bergolak rasa yang tak biasa
Antara pusaran gelombang negatif dan positif
Tiap pusaran menghentak seolah hendak melumat tiap materi yang ia temui
Benci?
Sosok tua itu adalah pejuang pada masanya
Sisa-sisa kerasnya medan juang masih nampak pada sikap dan ucapnya
Ribuan hari yang lalu sosok itu menggelegar membahana
Memekakkan telinganya
Dan menghancurkan kekuatannya
8 tahun silam..
Hari ini, ia pandangi sosok renta itu di hadapannya
Terduduk lemah dalam penantiannya, menghitung masa
Kapan waktuku akan datang, ujarnya?
Iba?
Ia menanti. Menanti datangnya sang abadi
Yang kan memutuskan bukan hanya nikmat darinya
Namun melepaskan pula segala dera dan derita hidupnya
mencabut nafas dari batang kerongkongannya
menghentikan tiap denyut dan detak jantungnya
menghentikan geraknya dan menutup rapat matanya
Di setiap senja ia termenung
Lagi, menunggu kedatangan sang abadi
’yah, lewat lagi’
Celetukan ringan terlontar dari bibir tuanya
Kala ia saksikan rombongan penandu raga tanpa nyawa menuju peraduannya
Aku tersenyum dalam diam, getir..
*pernahkah kalian menyaksikan betapa letihnya mereka yang telah hidup dalam usia senja?
menanti sang abadi datang menghampiri...
Garang tatapnya menelusuri tiap detil wajah di hadapannya
Menggelegar suara yang ia semburkan dari pita suaranya
Dan sesosok tubuh kecil di hadapannya terdiam kaku membisu,
Memandangi, tak peduli..
Dalam jiwa bergolak rasa yang tak biasa
Antara pusaran gelombang negatif dan positif
Tiap pusaran menghentak seolah hendak melumat tiap materi yang ia temui
Benci?
Sosok tua itu adalah pejuang pada masanya
Sisa-sisa kerasnya medan juang masih nampak pada sikap dan ucapnya
Ribuan hari yang lalu sosok itu menggelegar membahana
Memekakkan telinganya
Dan menghancurkan kekuatannya
8 tahun silam..
Hari ini, ia pandangi sosok renta itu di hadapannya
Terduduk lemah dalam penantiannya, menghitung masa
Kapan waktuku akan datang, ujarnya?
Iba?
Ia menanti. Menanti datangnya sang abadi
Yang kan memutuskan bukan hanya nikmat darinya
Namun melepaskan pula segala dera dan derita hidupnya
mencabut nafas dari batang kerongkongannya
menghentikan tiap denyut dan detak jantungnya
menghentikan geraknya dan menutup rapat matanya
Di setiap senja ia termenung
Lagi, menunggu kedatangan sang abadi
’yah, lewat lagi’
Celetukan ringan terlontar dari bibir tuanya
Kala ia saksikan rombongan penandu raga tanpa nyawa menuju peraduannya
Aku tersenyum dalam diam, getir..
*pernahkah kalian menyaksikan betapa letihnya mereka yang telah hidup dalam usia senja?
menanti sang abadi datang menghampiri...
Yuujyou
[* ori poem by me,.. i devotedly just for my fren]
Hanashi o wakachiau tame ni yujo o sodatete iku to shitara,
omoide no hibi ga ippai nokoru desho.
Sunao ni sasaeai michi o isshoni ayunde ikeru kara.
Moshimo, watashitachi o awasete kureta hi ga, kondo,
watashitachi o wakaresaseru hi to shite kitara,
sayonara wa iwanaidene.
Yujo wa kyori ya jikan nanka ni eikyo sarenai mono dakara.
Kamisama ga futatabi awasete kureru koto o shinjite imasu.
Moshimo, watashitachi ga chigau hoko ni susumenai to ikenai toki ga kitara,
sorezore no michi o ayunde ikimasho.
Onaji koto ni awaseru tame no deai janai kara.
Shiawase : berbahagialah,.. ^^
Hanashi o wakachiau tame ni yujo o sodatete iku to shitara,
omoide no hibi ga ippai nokoru desho.
Sunao ni sasaeai michi o isshoni ayunde ikeru kara.
Moshimo, watashitachi o awasete kureta hi ga, kondo,
watashitachi o wakaresaseru hi to shite kitara,
sayonara wa iwanaidene.
Yujo wa kyori ya jikan nanka ni eikyo sarenai mono dakara.
Kamisama ga futatabi awasete kureru koto o shinjite imasu.
Moshimo, watashitachi ga chigau hoko ni susumenai to ikenai toki ga kitara,
sorezore no michi o ayunde ikimasho.
Onaji koto ni awaseru tame no deai janai kara.
Shiawase : berbahagialah,.. ^^
Cinta Pertama dan Terakhir,..
SATU
“kau adalah cinta pertama dan terakhirku….”
Jogja, April 2005
Aku tidak akan seterkejut ini jika petir menyambar di dekat telingaku. Duniaku seakan berhenti sesaat ketika Senja, teman satu jurusan di fakultas, menceritakan hal itu.
Sore itu langit pantai parangtritis berwarna kelabu. Tak banyak orang yang ada di sana menikmati pantainya yang indah namun menyimpan seribu peristiwa berbau mistis. Ini memang bukan akhir pekan.
Berdiri diam Jingga, sembari sesekali ekor matanya melirik Senja yang berdiri tak jauh darinya. Sesekali senyum mereka terkembang saat tatapan mereka bertemu. Pantai yang indah, dengan angin yang bertiup kencang, menerbangkan ekor jilbab merah muda Jingga.
“Indah sekali bukan?,” ucap Jingga
“Hu um..” sahut Senja, dengan tatapan tak lepas menatap pada ujung batas cakrawala
“Aku bahagia ada di sini, denganmu. Rasanya tak ingin kembali. Di sini saja”, “rasanya sulit sekali menerima kenyataan hidup, bahwa hidup akan mengantarkanku pada episode lain yang belum mampu aku terima”
“Apakah kau bahagia, Senja”, Tanya Jingga
Senja menghela nafas “bertemu denganmu dan bersamamu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Menemukan seseorang yang memiliki semua hal yang selama ini aku cari,” jawabnya.
“Benarkah?”, Tanya Jingga lagi.
“Mmmmm…” jawab Senja
“Bisakah aku tetap bersamamu?”
***
Pekerjaan yang menumpuk di hadapan Jingga ia biarkan begitu saja. Ia terdiam dengan fikirannya yang mengembara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, telpon dari rumah “ya, assalamu’alaikum,” jawab Jingga.
“Wa’alaikumussalam”, jawab suara di seberang sana
“Ya, bu. Ada apa?”
“Ibu cuma mau ngingetin kamu, supaya nanti kamu tidak lupa pulang nanti mampir ke rumah budhe Ida, suruh ke datang ke rumah. Ibu mau membicarakan tentang aksesoris dan dekorasi pelaminan”
Perut Jingga terasa mulas, malas ia menjawab, dan segera menutup telpon.
Dunia yang ia pijak terasa bergetar. Jingga terhuyung berusaha menyeimbangkan diri agar tak ambruk jatuh. Duh, kepalaku, ada apa denganmu, ucap hati Jingga.
Perlahan ia raih ponsel yang belum sempat ia simpan kembali,
Aku ingin bertemu denganmu, malam ini!
Jari jemarinya dengan gemetar menekan tombol, pengiriman pesan.
Tak bisa. Aku ada janji bertemu kerabat malam ini. Aku pun ingin ketemu.
Tak lama pesan balasan ia terima.
Ada apa denganmu? Aku sungguh ingin bertemu denganmu. Aku sakit. Kepalaku pusing. Kau bilang tak akan membiarkanku menderita. Ah, Sudahlah, bagaimanapun bagiku kau tetaplah kakakku.
Ia kirim pesan terakhir itu dan mematikan ponselnya.
***
“Bawa aku pergi. Aku mohon. Kemana saja, aku tak peduli”, isak Jingga.
Senja terdiam dalam kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Sesungguhnya ia pun ingin merengkuh sosok di depannya, memenuhi permintaannya. Tapi…
“Pulanglah…”, jawab Senja datar. Dengan menahan gemuruh hati yang tak menentu.
“Tapi..”
“Aku bilang pulang. Pulang!”, Senja menatap tajam Jingga.
“aku tak bisa!!”, teriaknya. “kau adalah cinta pertama dan terakhirku”
“Hadapilah hidupmu dan berbahagialah”, senja menjawab “Aku tak tahu harus bagaimana. Berjanjilah untuk hidup bahagia” ,lanjutnya, lalu beranjak menjauh
Langit malam terlihat kelam. Perlahan rintik air hujan menjelma menjadi hujan lebat, membasahi wajahnya dan mengaburkan pandangannya. Bercampur dengan air yang mengalir dari matanya. Langkahnya tertahan, duduk bersandar pada tembok beton. Sakit.
***
DUA,
Suasana begitu meriah dan tampak penuh suka cita. Bergiliran tamu undangan berdatangan, ikut merayakan kebahagiaan kedua mempelai. Benarkah?, suara hati Senja.
Sesaat lalu prosesi akad telah dilaksanakan dengan penuh suasana khidmat.
“Saaaahhhh……!!”
Jawaban saksi disertai dengungan haru tetamu dan keluarga yang memenuhi ruangan.
Ku lirik Senja dengan ekor mataku. Beku. Kuraih bahunya dan kutepuk-tepuk dengan perlahan, berusaha membagi energi.
Teringat pembicaraan panjang Rangga dan Senja malam itu.
“Dia akan baik-baik saja”, Rangga menatap Senja yang duduk terpaku.
“Aku menyayanginya, Ngga”, ucap Senja dengan wajah mengeras kaku. “aku tak akan membiarkan dia menderita”
“Lalu..?”
“Entahlah..” jawabnya. “ Aku ingin meraihnya, tapi rasanya ia semakin tak mampu ku raih. Tahukah kau bagaimana sedihnya aku melihatnya harus menjalani kehidupan yang diberikan padanya? Bisakah kau rasakan sakitnya hatiku saatnya melihatnya menangis?”
Rangga terdiam, “Lalu..?”
“Aku sungguh menyayanginya. Aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini aku cari-cari. ia memiliki semua hal yang aku inginkan. Ia, benar-benar mirip denganku. Mengapa demikian rumit takdir? Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang yang aku cari, tapi di saat itu waktuku semakin habis”
Rangga tak lagi mendengarkan kata-kata Senja. Angannya mengembara. Menjelajahi sebuah masa.
***
“Apakah aku tak layak dicintai?,” Tertunduk wajah Jingga. Menekuri alas kakinya. “Apakah benar aku tak layak dicintai?”
Di sampingnya Senja terpaku. Memandangi lalu lalang orang-orang yang berjalan dengan bergegas. Ia tengadahkan wajah dan mengusap-usap wajahnya dengan gelisah. Memandangi pohon beringin yang tumbuh dengan besar di atasnya, melindungi mereka dari sengatan garang lidah sang surya.
Terjebak pada sebuah labirin kebingungan. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Senja menghela nafas dan menghembuskannya dengan keras.
kau adalah cinta pertama dan terakhirku….
Senja terjaga dari mimpinya. Butir-butir keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Perlahan ia meraih gelas di atas meja dan meneguknya hingga tak bersisa.
Kalimat itu, terus mendengung di kepalanya. Menghadirkan titik-titik embun di wajahnya. Menyeruak perih dan mengiris perasaannya.
Kenangan bersama Jingga menghantuinya. Tawanya, senyumannya, dan yang tak kan pernah ia lupakan adalah tangisannya.
Betapa bahagia saat mereka masih bersama. Tertawa riang menikmati udara pegunungan yang basah berhias deretan pohon pinus yang tegak menjulang. Masih jelas di kelopak matanya, kala hujan mulai turun rintik-rintik dan semakin menderas, dengan langkah gontai letih menahan sakit dari kaki-kaki yang terkilir, namun tawa riang tetap menghiasi mereka.
Mendengar tawanya. Merengkuh bahunya dan menghindarkannya dari kerumunan para pria. Mengusap dengan kekhawatiran wajah pucatnya kala suatu waktu ia mengajak Jingga mengunjungi tempat wisata dan menaiki wahana ekstrim yang ada di sana. Semuanya masih terasa. Menyiksa.
“Allah, betapa aku meyayanginya”, desis Senja.
Sesak.
***
TIGA,
Sleman, oktober 2004
Nanar Jingga menatap Rangga dengan penuh rasa tak percaya.
“Iya, kita sudah selesai. Aku bukanlah orang yang baik untukmu..”, Rangga menatap Jingga.
“Tapi aku mencintaimu, Ngga”, Tukas Jingga. “Kenapa kau tega sekali padaku? Kau hempaskan aku setelah kau buat aku mencintaimu!”
“Sudahlah. Aku bukan yang terbaik”, lanjut Rangga,
“Tahukah kau, kau adalah cinta pertamaku. Denganmu pertama kali aku merasakan cinta. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kurasakan”
“Lupakanlah..”
“Jangan mengatur perasaanku..!”
Rangga tersentak dari lamunannya ketika Senja bangkit dari duduknya dengan keras.
“Ayo!”, ujarnya
“Kemana?”, Tanya Rangga berusaha menjajari langkah Senja.
“Makan!”
Rangga tak lagi mengusiknya. Berjalan mereka mengikuti langkah kaki menjauh meninggalkan cakrawala yang kuning memerah jingga. Senja merapatkan jaketnya berusaha menghalau dinginnya angin mulai yang bertiup menerpa tubuhnya. Memandang jauh ke depan dengan langkah perlahan.
END
Wira Garden,
7 december 2009
*Begitu gampangnya lisan berkata kalimat yang sama. apakah kata hanya sebuah rangkaian huruf tanpa makna yang bisa dengan mudahnya diucapkan kapan saja dan pada siapa saja?
ah, mungkin beginilah hidup di dunia."
“kau adalah cinta pertama dan terakhirku….”
Jogja, April 2005
Aku tidak akan seterkejut ini jika petir menyambar di dekat telingaku. Duniaku seakan berhenti sesaat ketika Senja, teman satu jurusan di fakultas, menceritakan hal itu.
Sore itu langit pantai parangtritis berwarna kelabu. Tak banyak orang yang ada di sana menikmati pantainya yang indah namun menyimpan seribu peristiwa berbau mistis. Ini memang bukan akhir pekan.
Berdiri diam Jingga, sembari sesekali ekor matanya melirik Senja yang berdiri tak jauh darinya. Sesekali senyum mereka terkembang saat tatapan mereka bertemu. Pantai yang indah, dengan angin yang bertiup kencang, menerbangkan ekor jilbab merah muda Jingga.
“Indah sekali bukan?,” ucap Jingga
“Hu um..” sahut Senja, dengan tatapan tak lepas menatap pada ujung batas cakrawala
“Aku bahagia ada di sini, denganmu. Rasanya tak ingin kembali. Di sini saja”, “rasanya sulit sekali menerima kenyataan hidup, bahwa hidup akan mengantarkanku pada episode lain yang belum mampu aku terima”
“Apakah kau bahagia, Senja”, Tanya Jingga
Senja menghela nafas “bertemu denganmu dan bersamamu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Menemukan seseorang yang memiliki semua hal yang selama ini aku cari,” jawabnya.
“Benarkah?”, Tanya Jingga lagi.
“Mmmmm…” jawab Senja
“Bisakah aku tetap bersamamu?”
***
Pekerjaan yang menumpuk di hadapan Jingga ia biarkan begitu saja. Ia terdiam dengan fikirannya yang mengembara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, telpon dari rumah “ya, assalamu’alaikum,” jawab Jingga.
“Wa’alaikumussalam”, jawab suara di seberang sana
“Ya, bu. Ada apa?”
“Ibu cuma mau ngingetin kamu, supaya nanti kamu tidak lupa pulang nanti mampir ke rumah budhe Ida, suruh ke datang ke rumah. Ibu mau membicarakan tentang aksesoris dan dekorasi pelaminan”
Perut Jingga terasa mulas, malas ia menjawab, dan segera menutup telpon.
Dunia yang ia pijak terasa bergetar. Jingga terhuyung berusaha menyeimbangkan diri agar tak ambruk jatuh. Duh, kepalaku, ada apa denganmu, ucap hati Jingga.
Perlahan ia raih ponsel yang belum sempat ia simpan kembali,
Aku ingin bertemu denganmu, malam ini!
Jari jemarinya dengan gemetar menekan tombol, pengiriman pesan.
Tak bisa. Aku ada janji bertemu kerabat malam ini. Aku pun ingin ketemu.
Tak lama pesan balasan ia terima.
Ada apa denganmu? Aku sungguh ingin bertemu denganmu. Aku sakit. Kepalaku pusing. Kau bilang tak akan membiarkanku menderita. Ah, Sudahlah, bagaimanapun bagiku kau tetaplah kakakku.
Ia kirim pesan terakhir itu dan mematikan ponselnya.
***
“Bawa aku pergi. Aku mohon. Kemana saja, aku tak peduli”, isak Jingga.
Senja terdiam dalam kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Sesungguhnya ia pun ingin merengkuh sosok di depannya, memenuhi permintaannya. Tapi…
“Pulanglah…”, jawab Senja datar. Dengan menahan gemuruh hati yang tak menentu.
“Tapi..”
“Aku bilang pulang. Pulang!”, Senja menatap tajam Jingga.
“aku tak bisa!!”, teriaknya. “kau adalah cinta pertama dan terakhirku”
“Hadapilah hidupmu dan berbahagialah”, senja menjawab “Aku tak tahu harus bagaimana. Berjanjilah untuk hidup bahagia” ,lanjutnya, lalu beranjak menjauh
Langit malam terlihat kelam. Perlahan rintik air hujan menjelma menjadi hujan lebat, membasahi wajahnya dan mengaburkan pandangannya. Bercampur dengan air yang mengalir dari matanya. Langkahnya tertahan, duduk bersandar pada tembok beton. Sakit.
***
DUA,
Suasana begitu meriah dan tampak penuh suka cita. Bergiliran tamu undangan berdatangan, ikut merayakan kebahagiaan kedua mempelai. Benarkah?, suara hati Senja.
Sesaat lalu prosesi akad telah dilaksanakan dengan penuh suasana khidmat.
“Saaaahhhh……!!”
Jawaban saksi disertai dengungan haru tetamu dan keluarga yang memenuhi ruangan.
Ku lirik Senja dengan ekor mataku. Beku. Kuraih bahunya dan kutepuk-tepuk dengan perlahan, berusaha membagi energi.
Teringat pembicaraan panjang Rangga dan Senja malam itu.
“Dia akan baik-baik saja”, Rangga menatap Senja yang duduk terpaku.
“Aku menyayanginya, Ngga”, ucap Senja dengan wajah mengeras kaku. “aku tak akan membiarkan dia menderita”
“Lalu..?”
“Entahlah..” jawabnya. “ Aku ingin meraihnya, tapi rasanya ia semakin tak mampu ku raih. Tahukah kau bagaimana sedihnya aku melihatnya harus menjalani kehidupan yang diberikan padanya? Bisakah kau rasakan sakitnya hatiku saatnya melihatnya menangis?”
Rangga terdiam, “Lalu..?”
“Aku sungguh menyayanginya. Aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini aku cari-cari. ia memiliki semua hal yang aku inginkan. Ia, benar-benar mirip denganku. Mengapa demikian rumit takdir? Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang yang aku cari, tapi di saat itu waktuku semakin habis”
Rangga tak lagi mendengarkan kata-kata Senja. Angannya mengembara. Menjelajahi sebuah masa.
***
“Apakah aku tak layak dicintai?,” Tertunduk wajah Jingga. Menekuri alas kakinya. “Apakah benar aku tak layak dicintai?”
Di sampingnya Senja terpaku. Memandangi lalu lalang orang-orang yang berjalan dengan bergegas. Ia tengadahkan wajah dan mengusap-usap wajahnya dengan gelisah. Memandangi pohon beringin yang tumbuh dengan besar di atasnya, melindungi mereka dari sengatan garang lidah sang surya.
Terjebak pada sebuah labirin kebingungan. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Senja menghela nafas dan menghembuskannya dengan keras.
kau adalah cinta pertama dan terakhirku….
Senja terjaga dari mimpinya. Butir-butir keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Perlahan ia meraih gelas di atas meja dan meneguknya hingga tak bersisa.
Kalimat itu, terus mendengung di kepalanya. Menghadirkan titik-titik embun di wajahnya. Menyeruak perih dan mengiris perasaannya.
Kenangan bersama Jingga menghantuinya. Tawanya, senyumannya, dan yang tak kan pernah ia lupakan adalah tangisannya.
Betapa bahagia saat mereka masih bersama. Tertawa riang menikmati udara pegunungan yang basah berhias deretan pohon pinus yang tegak menjulang. Masih jelas di kelopak matanya, kala hujan mulai turun rintik-rintik dan semakin menderas, dengan langkah gontai letih menahan sakit dari kaki-kaki yang terkilir, namun tawa riang tetap menghiasi mereka.
Mendengar tawanya. Merengkuh bahunya dan menghindarkannya dari kerumunan para pria. Mengusap dengan kekhawatiran wajah pucatnya kala suatu waktu ia mengajak Jingga mengunjungi tempat wisata dan menaiki wahana ekstrim yang ada di sana. Semuanya masih terasa. Menyiksa.
“Allah, betapa aku meyayanginya”, desis Senja.
Sesak.
***
TIGA,
Sleman, oktober 2004
Nanar Jingga menatap Rangga dengan penuh rasa tak percaya.
“Iya, kita sudah selesai. Aku bukanlah orang yang baik untukmu..”, Rangga menatap Jingga.
“Tapi aku mencintaimu, Ngga”, Tukas Jingga. “Kenapa kau tega sekali padaku? Kau hempaskan aku setelah kau buat aku mencintaimu!”
“Sudahlah. Aku bukan yang terbaik”, lanjut Rangga,
“Tahukah kau, kau adalah cinta pertamaku. Denganmu pertama kali aku merasakan cinta. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kurasakan”
“Lupakanlah..”
“Jangan mengatur perasaanku..!”
Rangga tersentak dari lamunannya ketika Senja bangkit dari duduknya dengan keras.
“Ayo!”, ujarnya
“Kemana?”, Tanya Rangga berusaha menjajari langkah Senja.
“Makan!”
Rangga tak lagi mengusiknya. Berjalan mereka mengikuti langkah kaki menjauh meninggalkan cakrawala yang kuning memerah jingga. Senja merapatkan jaketnya berusaha menghalau dinginnya angin mulai yang bertiup menerpa tubuhnya. Memandang jauh ke depan dengan langkah perlahan.
END
Wira Garden,
7 december 2009
*Begitu gampangnya lisan berkata kalimat yang sama. apakah kata hanya sebuah rangkaian huruf tanpa makna yang bisa dengan mudahnya diucapkan kapan saja dan pada siapa saja?
ah, mungkin beginilah hidup di dunia."
Serpihan Hitam
Aku beringsut. Berupaya terus berlindung dan bersembunyi dari tatapan garang matahari yang dapat menghancurkan tubuh legamku. Namun pohon-pohon tempatku bersembunyi terus bergerak ke sana ke mari karena dorongan tangan angin pada tubuhnya.
“aduh!” aku terpekik ketika lidah panas matahari menyelinap dari balik dahan, ranting, dan dedaunan, dan menjilat tubuhku.
Gerakan angin yang semakin kencang menggoyang tubuh pepohonan seolah menyemangati matahari untuk meraih tubuhku dan menghancurkannya menjadi serpihan kegelapan kecil.
Aku beringsut. Bergerak berupaya mengimbangi kemana arah gerakan pepohonan tempatku berlindung. Menghindari matahari yang ingin melumatku hingga habis.
“Hei! Angin, berhenti sejenak. Jangan kau goyang-goyang pohon ini. Biarkan aku beristirahat sejenak di sini hingga waktuku tiba,” ucapku pada angin yang terus saja menari-nari pada lengan dan jari jemari pohonan.
“tak bisa. Ini takdirku. Maafkan aku,” sahutnya.
Ku pandangi wajah letih temanku-temanku. Tapi keadaan mereka lebih baik. Rumah yang berdiri kokoh, gedung tinggi menjulang, mobil yang diam dalam parkiran, dan benda besar diam lainnya membuat mereka dapat berlindungan dengan tenang dari garangnya tangan-tangan sang surya. Ku lirik pula sebagian teman-temanku yang lain, yang tak jauh berbeda nasibnya denganku, si Legam yang berupaya berlindung di balik tubuh-tubuh manusia yang berjalan dengan tergesa, juga si hitam yang mengikuti benda atau siapa saja yang dapat melindunginya dari kejaran sang surya.
“hei, Gam. Cepat kemari,”, teriakku padanya “mumpung pak abu sedikit menutupi mata sang surya. Berlari ke sini. Cepat”
“kau terlalu jauh, Darky. Aku bisa hancur dan menghilang sebelum sampai di tempatmu”, sahut Hitam dengan berteriak pula. “kecuali…” lanjutnya
“kecuali..?”, kejarku
“kecuali manusia yang melindungiku ini bersedia mengantarkan aku ke tempatmu”
Kami terdiam. Tak ada suara kembali.
Itulah kami. Aku si Darky, Legam, dan Hitam, adalah bagian dari kegelapan maha dasyat pada takdirnya. Namun menjadi lemah dan terpecah menjadi serpihan kegelapan kecil yang mereka sebut bayangan. Tubuh kami gelap menghitam. Dunia kami adalah malam hari, ketika sang surya menuruni cakrawala untuk kembali ke peraduannya. Saat dimana kami akan bersorak sorai gembira dan bersenandung riang bersama penghuni malam lainnya.
Saat dimana cahaya matahari tak Nampak. Yang ada hanyalah cahaya-cahaya yang berasal dari lampu buatan tangan-tangan manusia. Itu sama sekali tak mengganggu kami, bagaimana pun terangnya cahaya lampu-lampu dengan aneka bentuk dan warna itu, tak kan pernah dapat mengalahkan kami. Karena kami adalah penguasa dunia malam, kegelapan.
“hayo tebak, esok hari cerah atau mendung kelabu?” ujar Hitam
“Mendung kelabuuuu!!!”, jawab kami berbarengan
“huuuuu… ngareeep” cibir Hitam lagi
“lohh..jadi? tanyaku. Hitam kembali terkekeh sembari berlari menghindari lemparanku
Itulah tema-tema kami setiap malam. Tema yang sama setiap malamnya. Kami akan bermain tebak-tebakkan tentang kondisi esok hari, apakah mendung atau akan bersinar dengan cerah. Tentu saja kami selalu berharap hari akan berselimut mendung dan kegelapan, sebab kami tak kan letih berkejaran dengan matahari.
Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah, karena itu menyakitiku, menyakiti kami prajurit malam. Langit yang cerah membuat kami harus menyingkir jauh ke dalam hutan, bersembunyi di balik tubuh manusia dan benda apa saja yang dapat melindungi kami.
Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah. Karena itu menyakiti tubuhku. Tubuh kami yang legam , gelap dan hitam..
Aku tak menyukai langit cerah dengan warnanya yang indah biru..
“Aku tak suka langit cerah,” gumam hatiku…
“aduh!” aku terpekik ketika lidah panas matahari menyelinap dari balik dahan, ranting, dan dedaunan, dan menjilat tubuhku.
Gerakan angin yang semakin kencang menggoyang tubuh pepohonan seolah menyemangati matahari untuk meraih tubuhku dan menghancurkannya menjadi serpihan kegelapan kecil.
Aku beringsut. Bergerak berupaya mengimbangi kemana arah gerakan pepohonan tempatku berlindung. Menghindari matahari yang ingin melumatku hingga habis.
“Hei! Angin, berhenti sejenak. Jangan kau goyang-goyang pohon ini. Biarkan aku beristirahat sejenak di sini hingga waktuku tiba,” ucapku pada angin yang terus saja menari-nari pada lengan dan jari jemari pohonan.
“tak bisa. Ini takdirku. Maafkan aku,” sahutnya.
Ku pandangi wajah letih temanku-temanku. Tapi keadaan mereka lebih baik. Rumah yang berdiri kokoh, gedung tinggi menjulang, mobil yang diam dalam parkiran, dan benda besar diam lainnya membuat mereka dapat berlindungan dengan tenang dari garangnya tangan-tangan sang surya. Ku lirik pula sebagian teman-temanku yang lain, yang tak jauh berbeda nasibnya denganku, si Legam yang berupaya berlindung di balik tubuh-tubuh manusia yang berjalan dengan tergesa, juga si hitam yang mengikuti benda atau siapa saja yang dapat melindunginya dari kejaran sang surya.
“hei, Gam. Cepat kemari,”, teriakku padanya “mumpung pak abu sedikit menutupi mata sang surya. Berlari ke sini. Cepat”
“kau terlalu jauh, Darky. Aku bisa hancur dan menghilang sebelum sampai di tempatmu”, sahut Hitam dengan berteriak pula. “kecuali…” lanjutnya
“kecuali..?”, kejarku
“kecuali manusia yang melindungiku ini bersedia mengantarkan aku ke tempatmu”
Kami terdiam. Tak ada suara kembali.
Itulah kami. Aku si Darky, Legam, dan Hitam, adalah bagian dari kegelapan maha dasyat pada takdirnya. Namun menjadi lemah dan terpecah menjadi serpihan kegelapan kecil yang mereka sebut bayangan. Tubuh kami gelap menghitam. Dunia kami adalah malam hari, ketika sang surya menuruni cakrawala untuk kembali ke peraduannya. Saat dimana kami akan bersorak sorai gembira dan bersenandung riang bersama penghuni malam lainnya.
Saat dimana cahaya matahari tak Nampak. Yang ada hanyalah cahaya-cahaya yang berasal dari lampu buatan tangan-tangan manusia. Itu sama sekali tak mengganggu kami, bagaimana pun terangnya cahaya lampu-lampu dengan aneka bentuk dan warna itu, tak kan pernah dapat mengalahkan kami. Karena kami adalah penguasa dunia malam, kegelapan.
“hayo tebak, esok hari cerah atau mendung kelabu?” ujar Hitam
“Mendung kelabuuuu!!!”, jawab kami berbarengan
“huuuuu… ngareeep” cibir Hitam lagi
“lohh..jadi? tanyaku. Hitam kembali terkekeh sembari berlari menghindari lemparanku
Itulah tema-tema kami setiap malam. Tema yang sama setiap malamnya. Kami akan bermain tebak-tebakkan tentang kondisi esok hari, apakah mendung atau akan bersinar dengan cerah. Tentu saja kami selalu berharap hari akan berselimut mendung dan kegelapan, sebab kami tak kan letih berkejaran dengan matahari.
Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah, karena itu menyakitiku, menyakiti kami prajurit malam. Langit yang cerah membuat kami harus menyingkir jauh ke dalam hutan, bersembunyi di balik tubuh manusia dan benda apa saja yang dapat melindungi kami.
Aku tak menyukai langit yang bersinar cerah. Karena itu menyakiti tubuhku. Tubuh kami yang legam , gelap dan hitam..
Aku tak menyukai langit cerah dengan warnanya yang indah biru..
“Aku tak suka langit cerah,” gumam hatiku…
Titik
…….!!!!
………………………………………………………………,
……………… …… …………… ……………… …………… …………………………………… ……… …… ………………… ………… …………… …………… …………………… … ………
“……. ………………… … ….. ……………”
“…………..?”
………… ………… …………………… …… ……………… …………………… …… ……………… ……………… ……………………………… ……… ………… …… … ……………………… …………… ………………… ………………… …………… …… ……… ……………… …………………… …………………… …………………
… …………………
…………… …… ……… ……………… ……… …………… ……… …………………… ……………… ……………… …………… ……………… ………
“…. …………….. ……………………”
…………………
…………………………
…………
…………………… ……………
…………… ………… ……… ………………… ………… …… ………………………
…………………… ……… ……………………… …… ……… ……………… ……… ………………… …………………
…………
………………… ………… ……… ………………
……… ………… …………
…………………
“……….. ………………. ….. …………… … ….. …… ……”, (…….. ………….. …….. ………… ……………….. ….)
“…?”
“…………….!!”
“……!”
………………… ………… ……… ……………… … …….. ………………
“…………”
“…… ………… …………………….. ….”
………… ……… ……… ……………………………
………………………
………
………………………………………………………………,
Well,.___
Merasa sulit membaca dan merasa penglihatan salah?
U r rite! Memang ada masalah dengan mata anda. Segera periksakan ke dokter, setelah itu datang kembali untuk membaca ini *kalo bisa :-P
………………………………………………………………,
……………… …… …………… ……………… …………… …………………………………… ……… …… ………………… ………… …………… …………… …………………… … ………
“……. ………………… … ….. ……………”
“…………..?”
………… ………… …………………… …… ……………… …………………… …… ……………… ……………… ……………………………… ……… ………… …… … ……………………… …………… ………………… ………………… …………… …… ……… ……………… …………………… …………………… …………………
… …………………
…………… …… ……… ……………… ……… …………… ……… …………………… ……………… ……………… …………… ……………… ………
“…. …………….. ……………………”
…………………
…………………………
…………
…………………… ……………
…………… ………… ……… ………………… ………… …… ………………………
…………………… ……… ……………………… …… ……… ……………… ……… ………………… …………………
…………
………………… ………… ……… ………………
……… ………… …………
…………………
“……….. ………………. ….. …………… … ….. …… ……”, (…….. ………….. …….. ………… ……………….. ….)
“…?”
“…………….!!”
“……!”
………………… ………… ……… ……………… … …….. ………………
“…………”
“…… ………… …………………….. ….”
………… ……… ……… ……………………………
………………………
………
………………………………………………………………,
Well,.___
Merasa sulit membaca dan merasa penglihatan salah?
U r rite! Memang ada masalah dengan mata anda. Segera periksakan ke dokter, setelah itu datang kembali untuk membaca ini *kalo bisa :-P
Terkadang,..
Aku takut pada gelap...
Tapi adakalanya aku pun menyukai kegelapan..
Aku bosan dengan sepi...
Tapi acapkali aku menyukai keheningan
Terkadang aku tak mengerti mengapa
Mengapa terkadang aku menyukai apa yang aku benci
Mengapa terkadang aku membutuhkan apa yang aku tak suka
Entah mengapa,..
Kadangkala hal yang tak menyenangkan
Menjadi hal yang aku butuhkan
Tapi adakalanya aku pun menyukai kegelapan..
Aku bosan dengan sepi...
Tapi acapkali aku menyukai keheningan
Terkadang aku tak mengerti mengapa
Mengapa terkadang aku menyukai apa yang aku benci
Mengapa terkadang aku membutuhkan apa yang aku tak suka
Entah mengapa,..
Kadangkala hal yang tak menyenangkan
Menjadi hal yang aku butuhkan
Who are you?
hei,..!
siapa kau? who are you?
mengapa semua menanyakanmu padaku
mengapa semua orang mengira dirimu adalah diriku
hei,..!
siapa kau? who are you?
mereka bilang gayamu mirip denganku
hei, siapa kau?
mereka bilang bahasamu seperti bahasaku
hei,.siapa kau?
who are you?
siapa kau? who are you?
mengapa semua menanyakanmu padaku
mengapa semua orang mengira dirimu adalah diriku
hei,..!
siapa kau? who are you?
mereka bilang gayamu mirip denganku
hei, siapa kau?
mereka bilang bahasamu seperti bahasaku
hei,.siapa kau?
who are you?
Angan Hening
Suara perlahan itu terasa memekakkan telinga hening
Tapi dalam diam menahan diri dan tetap mendengarkan suaranya
Terbayang akan sebuah perjalanan panjang
Perjalanan yang terlihat mengerikan dan melelahkan
Angan tersentak dan terjaga dari khayal kala suara dari seberang kembali datang
Tak tahan jiwa dan ingin segera mengakhiri kata
Tapi suara perlahan dari kejauhan seolah tak mengerti
Bersabar sang hening meski lamat suara menghilang dari pendengaran hening
Hening telah terbang dalam khayal dan lamunannya sendiri
Tak peduli dengan apa yang telah terjadi, karena memang bukan hal yang harus selalu difikirkan, hening berbisik...
Entah hidup seperti apa yang ada di depan sana
Apakah ada kehidupan, atau hanya sebuah tanah tandus tanpa kehidupan
Entah...
Angan hening berjalan tanpa kendali
Tentang jejak yang tertinggal di sana
Tentang sesuatu di depan sana yang tak tampak
Dalam diam hening terus melangkah
Bersama angannya tentang hidup dan kehidupan
Tapi dalam diam menahan diri dan tetap mendengarkan suaranya
Terbayang akan sebuah perjalanan panjang
Perjalanan yang terlihat mengerikan dan melelahkan
Angan tersentak dan terjaga dari khayal kala suara dari seberang kembali datang
Tak tahan jiwa dan ingin segera mengakhiri kata
Tapi suara perlahan dari kejauhan seolah tak mengerti
Bersabar sang hening meski lamat suara menghilang dari pendengaran hening
Hening telah terbang dalam khayal dan lamunannya sendiri
Tak peduli dengan apa yang telah terjadi, karena memang bukan hal yang harus selalu difikirkan, hening berbisik...
Entah hidup seperti apa yang ada di depan sana
Apakah ada kehidupan, atau hanya sebuah tanah tandus tanpa kehidupan
Entah...
Angan hening berjalan tanpa kendali
Tentang jejak yang tertinggal di sana
Tentang sesuatu di depan sana yang tak tampak
Dalam diam hening terus melangkah
Bersama angannya tentang hidup dan kehidupan
Kenapa?
Dimana awal?
Dimana letak akhir?
Katakan padaku...
Ku takut membuka mata
Karena semua yang terlihat begitu membingungkan
Kuingin menutup mata, dan tak pernah membukanya
Hingga perjalanan membawaku pada ujung jalan
Ingin kututup mata..
Kusumbat telinga..
Membungkam lisan
Agar tak perlu melihat apapun yang menakutkan
Mendengar apapun yang tak menyenangkan
Dan tak berucap apapun yang tak menjadi kebaikan
Mengapa kau menjadi takut menghadapi hidup?
Mengapa?
Mengapa?
Entahlah...
Dimana letak akhir?
Katakan padaku...
Ku takut membuka mata
Karena semua yang terlihat begitu membingungkan
Kuingin menutup mata, dan tak pernah membukanya
Hingga perjalanan membawaku pada ujung jalan
Ingin kututup mata..
Kusumbat telinga..
Membungkam lisan
Agar tak perlu melihat apapun yang menakutkan
Mendengar apapun yang tak menyenangkan
Dan tak berucap apapun yang tak menjadi kebaikan
Mengapa kau menjadi takut menghadapi hidup?
Mengapa?
Mengapa?
Entahlah...
Apa?
Masih belum mampu membedakan
Kaki ini sedang berjalan maju
Atau ia jalan di tempat
Meraba tiap jenak isi kepala
Rasanya seluruh dunia ada di dalam sana
Namun, kala kujulurkan kepalaku melihat ke dalam
Tak ada apa pun di sana
Kosong..hampa
Terseok raga berjalan tanpa rasa
Entah apa yang difikirkan olehnya
Semilir angin menghempas kain penutup kepala
Sejenak menyentak dan membangunkan khayal yang menerawang
Sampai kapan dunia akan seperti ini?
Seperti slide yang berputar cepat
Menyakitkan kepala dan membingungkan
Sekelebat rindu menyelinap dari balik gelap..
Entah pada apa..
Kaki ini sedang berjalan maju
Atau ia jalan di tempat
Meraba tiap jenak isi kepala
Rasanya seluruh dunia ada di dalam sana
Namun, kala kujulurkan kepalaku melihat ke dalam
Tak ada apa pun di sana
Kosong..hampa
Terseok raga berjalan tanpa rasa
Entah apa yang difikirkan olehnya
Semilir angin menghempas kain penutup kepala
Sejenak menyentak dan membangunkan khayal yang menerawang
Sampai kapan dunia akan seperti ini?
Seperti slide yang berputar cepat
Menyakitkan kepala dan membingungkan
Sekelebat rindu menyelinap dari balik gelap..
Entah pada apa..
Rahasia Hati Hening
Dengung suara silih berganti
Memekakkan telinga hening
Tapi ia tetap terpaku beku
Seutas senyum kecil ia ukir
Perlahan bibir mungil hening bersuara
Sosok-sosok di sekitar hening terdiam terpaku
Tersihir dan terpukau oleh bait-bait kata yang terlantun dari bibir kecil hening
Tak ada gerakan dan suara
Hanya hening yang merajai suasana
Hening terdiam..
Lalu bersuara kembali
Dingin suara hening..
Tak ada bantahan. Karena hening tak menginginkan bantahan
Semesta terdiam..
Seolah ingin tau ada apa dengan hening
Mengapa semua terdiam dan bergeming
Hening terdiam..
Sesosok tubuh lembut di samping hening bergetar
Kilatan embun hangat memantul oleh cahaya
Hening tetap bergeming
Ini adalah akhir dari episode hening
Akhir dari perjuangan hening
Biarkan hening sendiri
Dengan takdir dan hidup hening,..
-Dalam diam hening berucap,..ada yang tak mungkin bisa kalian mengerti. Maafkanlah-
Inside a Silence Heart
WG, 031209
08:30pm
Memekakkan telinga hening
Tapi ia tetap terpaku beku
Seutas senyum kecil ia ukir
Perlahan bibir mungil hening bersuara
Sosok-sosok di sekitar hening terdiam terpaku
Tersihir dan terpukau oleh bait-bait kata yang terlantun dari bibir kecil hening
Tak ada gerakan dan suara
Hanya hening yang merajai suasana
Hening terdiam..
Lalu bersuara kembali
Dingin suara hening..
Tak ada bantahan. Karena hening tak menginginkan bantahan
Semesta terdiam..
Seolah ingin tau ada apa dengan hening
Mengapa semua terdiam dan bergeming
Hening terdiam..
Sesosok tubuh lembut di samping hening bergetar
Kilatan embun hangat memantul oleh cahaya
Hening tetap bergeming
Ini adalah akhir dari episode hening
Akhir dari perjuangan hening
Biarkan hening sendiri
Dengan takdir dan hidup hening,..
-Dalam diam hening berucap,..ada yang tak mungkin bisa kalian mengerti. Maafkanlah-
Inside a Silence Heart
WG, 031209
08:30pm
Hening Malam WG
Hening udara puncak yang beku
Beredar nyalang pandang pada hamparan semesta yang menghitam
Pertanda raja kegelapan mulai bertahta di singgasana alam
Terpaku sesosok wajah dengan senyum beku
Memeluk mesra dingin yang menyapa bersama titik hujan
Bergeming tanpa gerakan
Jiwa meronta,..
Perlahan sosok kaku terlihat tergugu tertahan
Erat lengan memeluk raga agar tak menimbulkan getaran
Seolah tak ingin mengusik alam yang sedang bercengkrama dengan penghuni malam
Wahai penguasa kegelapan
Rengkuhlah dengan keheningan
Tenggelamkanlah dalam kepekatan
Lindungi dari kegelisahan
Dan hancurkan segala ketakutan
Peluk erat lah raga yang terdiam
Hapus bening embun berderai
Tenangkan jiwa yang bergetar
Selimuti hati yang beku pilu dengan kehangatan
Sesosok lengan merengkuh erat
Menghentikan khayal yang terbang melayang
Menarik raga menjauhi keheningan menuju keramaian yang hiruk pikuk
Saatnya meninggalkan keheningan sesaat
Demi sebuah tugas yang harus ditunaikan
Perlahan sang hening menggores seutas senyum hangat
WG, 031209
06:45pm
Beredar nyalang pandang pada hamparan semesta yang menghitam
Pertanda raja kegelapan mulai bertahta di singgasana alam
Terpaku sesosok wajah dengan senyum beku
Memeluk mesra dingin yang menyapa bersama titik hujan
Bergeming tanpa gerakan
Jiwa meronta,..
Perlahan sosok kaku terlihat tergugu tertahan
Erat lengan memeluk raga agar tak menimbulkan getaran
Seolah tak ingin mengusik alam yang sedang bercengkrama dengan penghuni malam
Wahai penguasa kegelapan
Rengkuhlah dengan keheningan
Tenggelamkanlah dalam kepekatan
Lindungi dari kegelisahan
Dan hancurkan segala ketakutan
Peluk erat lah raga yang terdiam
Hapus bening embun berderai
Tenangkan jiwa yang bergetar
Selimuti hati yang beku pilu dengan kehangatan
Sesosok lengan merengkuh erat
Menghentikan khayal yang terbang melayang
Menarik raga menjauhi keheningan menuju keramaian yang hiruk pikuk
Saatnya meninggalkan keheningan sesaat
Demi sebuah tugas yang harus ditunaikan
Perlahan sang hening menggores seutas senyum hangat
WG, 031209
06:45pm
Teropong Bintang
tirai tertutup gubuk tertutup pertanda tak berpenghuni,..
tapi itu hanyalah sebuah kamuflase
kulihat sebuah bayangan berkelebat dari balik tirai
mengamati keadaan di luar,..
ada yang bersembunyi,..
tapi bayangannya terlanjur terpantul
dari kilatan cahaya yang tak sengaja melintas
untuk apa?
kenapa?
apakah keadaan di luar begitu menakutkan?
hingga kau tutup pintu dan menguncinya dengan palang kayu?
aku tau, kau ada di balik tirai itu
berdiri seolah tak nampak, padahal nyala pandangmu beredar
kuletakkan teropong bintangku perlahan
agar tak menimbulkan gerak dan bunyi
teropong bintang yang memberitahuku gerak gerikmu
keberadaanmu yang bersembunyi di balik tirai dan gelap
selalu,..
aku tau,..kau ada
bersembunyi...
sadarilah,..bayanganmu terpantul oleh kelebat cahaya
ketahuilah, aku tau kau bersembunyi
meski sesekali kau muncul, lalu kau menghilang..
tapi aku tau, engkau ada..
bayanganmu,..terpantul oleh cahaya
tapi itu hanyalah sebuah kamuflase
kulihat sebuah bayangan berkelebat dari balik tirai
mengamati keadaan di luar,..
ada yang bersembunyi,..
tapi bayangannya terlanjur terpantul
dari kilatan cahaya yang tak sengaja melintas
untuk apa?
kenapa?
apakah keadaan di luar begitu menakutkan?
hingga kau tutup pintu dan menguncinya dengan palang kayu?
aku tau, kau ada di balik tirai itu
berdiri seolah tak nampak, padahal nyala pandangmu beredar
kuletakkan teropong bintangku perlahan
agar tak menimbulkan gerak dan bunyi
teropong bintang yang memberitahuku gerak gerikmu
keberadaanmu yang bersembunyi di balik tirai dan gelap
selalu,..
aku tau,..kau ada
bersembunyi...
sadarilah,..bayanganmu terpantul oleh kelebat cahaya
ketahuilah, aku tau kau bersembunyi
meski sesekali kau muncul, lalu kau menghilang..
tapi aku tau, engkau ada..
bayanganmu,..terpantul oleh cahaya
Dengarkan saja,..
dengarkan suaraku,..
dalam nyanyian semesta yang menyapa
dalam hening yang meraja
dalam gelap yang datang menggantikan terang
dalam dingin dan beku yang memeluk raga
dengarkan suaraku,..
jangan,..
jangan buka matamu
tetaplah seperti itu
dengarkan saja suaraku,..
dengan tetap menutup matamu
sweet home, 021209
11:55am
dalam nyanyian semesta yang menyapa
dalam hening yang meraja
dalam gelap yang datang menggantikan terang
dalam dingin dan beku yang memeluk raga
dengarkan suaraku,..
jangan,..
jangan buka matamu
tetaplah seperti itu
dengarkan saja suaraku,..
dengan tetap menutup matamu
sweet home, 021209
11:55am
Private Message
Pusing. Barisan angka-angka yang menunjukkan ketidakimbangan terpampang pada layar monitor komputer di depannya. Laporan keuangannya gak balance. Kepalanya terasa berputar-putar dan diikat erat.
Pupil mata Dinda tertumbuk pada jendela pesan yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Halo Tita, lagi apa?”
Hahahaha! Seketika Dinda terpingkal-pingkal, lupa pada sakit yang sesaat lalu seperti hendak membunuhnya.
Buaya!, umpat Dinda dalam hati.
***
1 private message!
hai! Boleh kenalan?,
Isi pesan itu, singkat.
Perlahan jari-jarinya bermain pada benda mungil teman setia netbooknya. REPLY.
Sebuah pesan singkat yang diterima Dinda ketika mengawali pagi hari itu. Berlanjut dengan private-private message pada hari-hari berikutnya. Seadanya ia balas pesan itu, malas. Pasti tak beda dengan pesan-pesan serupa lain, fikirnya, pesan dari laki-laki tipe tebar pesona.
Kenalan, menanyakan aktivitas, kuliah dimana, kerja dimana, dan lain-lain… dan lain-lain.
Suatu waktu,
“Tita Hulwa”, jawab Dinda suatu waktu, kala si Arjuna (nama ID itu) menanyakan namanya.
“Wah, nama yang bagus. Tapi nama saya juga gak kalah bagus, lho. Ahmad Mukhlis”,
Sapa yang Tanya, cibir hati Dinda.
But,..
“Whaaaaaattt…?!*&^%$”, “Ahmad Mukhlis?! Ohohohoh… it’s impossible!”,
Mata Dinda membeliak selebar-lebarnya seolah hendak melompat menggelinding jatuh ke lantai. Ia baca kembali pesan pribadi itu dengan seksama. Gak salah, Ahmad Mukhlis!.
***
Beranjak bergegas Dinda menuju kamar mandi, berwudhu. Lepas berkomat kamit dengan beberapa untai doa dan harapan yang digantungkan kepada Penggengga Semesta. Dinda beringsut ke atas kasur, meraih ponselnya, lalu mengetikkan sebuah alamat website sebuah komunitas.
4 private messages, berkedip-kedip di layar inboxnya
# Helo dear?
Banguuuuuun, udah pagi…
Sholat subuh, Tita..
Udah kaleee, bos!, celetuk Dinda sembari terkekeh, sadar jika kata-katanya tak kan terdengar.
# Tita, kok pesan-pesanku gak dibalas? Marah ya, Ta?
# Tita, apa kabar? Lagi sibuk ya?
Lama gak liat tulisan Tita. Online dong, Ta.
# Ta, boleh aku minta nomor hp dan pic kamu?
Brukk!
Tita menjatuhkan diri terlentang dengan malas di atas kasurnya, masih dengan mukenanya yang tak sempat ia lepas. Ngantuk.
***
Seminggu sudah, akhirnya Dinda kembali setelah sepekan lamanya meninjau lokasi proyek, melakukan audit data-data keuangan berkaitan dengan laporan keuangan yang ia terima tak balance kondisinya.
Dinda teringat sesuatu. Ia raih netbok dari dalam tasnya, menghidupkan dan memasang modem. Beberapa detik kemudian jari jemarinya telah lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard.
Facebook, Twitter, Email, Blog, dan tak lupa ia ketik sebuah website dimana ia bergabung di dalamnya sebagai seorang member.
Assalamu’alaykum warohmatulloh..
Alhamdulillah kabar baik, sehat. Maaf tak membalas pesan karena memang tak sempat untuk membalasnya. Dan alasan kedua, karena malas membalasnya.
Dinda terkekeh, tentu saja kalimat terakhir tak ia ketik.
Well,..
Terima kasih atas apresiasi dan perhatianmu pada tulisan-tulisanku. Cukuplah bila kau menyukainya dan memperoleh pelajaran dari apa yang kutulis. Dan cukup buatku, tak perlu rasanya aku dapatkan pujian yang aku rasa terlalu berlebihan buatku.
Tentang nomor hp. Jujur saja, aku sama sekali tak punya no hp. Mungkin terdengar naïf atau sepertinya berbohong ya, but begitulah..
Aku tak merasa perlu berbohong untuk hal ini. Lagi pula meski aku memiliki no hp, aku pun tak kan memberikannya padamu. Dan ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya dirimu.
Rasanya hidup lebih tenang tanpa berkomunikasi dengan orang lain untuk hal-hal yang tak perlu dan mungkin hal yang tak penting.
Mengapa? Mmmm,.. rumit penjelasannya dan lagi pula rasanya bukan hal yang harus aku jelaskan padamu.
Tentang foto,..
Sorry, aku tak bisa. Dan pula aku tak biasa..
Rasanya terdengar sombong ya? Biarlah, Tak mengapa.. :D
Well,..
Rasanya pertemanan tak harus membutuhkan deretan angka-angka nomor hp atau sebuah foto manis, iya kan?
Rasanya akan lebih tenang dan nyaman,..
Oke,
Aku harap kamu mengerti dan kamu pasti mengerti.
Aku masih tetap bisa menjadi teman yang baik, meski tanpa foto dan nomor hp. Itu jika kau masih berniat berteman denganku ;)
Well,..
Wassalamu’alaykum
Ia arahkan kursor pada fitur SEND. Dinda tersenyum. Long_life atau Tita Hulwa, begitu Arjuna atau Ahmad Mukhlis mengenal Dinda, sebagai sesama member. Arjuna mungkin tak menyadari bahwa Tita atau Dinda mengenalnya dengan baik. Ahmad Mukhlis, Seorang Manager SDM pada sebuah perusahaan pembiayaan nasional yang sama dengan Dinda, hanya berbeda wilayah kerja. Pria beristeri dan memiliki 3 orang putra.
Dinda termenung, teringat tiap kata-kata yang diucapkan seorang laki-laki berlagak innocent yang mengaku bujangan yang tertarik padanya, Arjuna.
Dinda tersenyum simpul. Buaya!,
Tiba-tiba Dinda tersentak meringis dan setengah berlari keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, saat ia rasakan ada sesuatu yang bergolak dari perutnya.
Pupil mata Dinda tertumbuk pada jendela pesan yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Halo Tita, lagi apa?”
Hahahaha! Seketika Dinda terpingkal-pingkal, lupa pada sakit yang sesaat lalu seperti hendak membunuhnya.
Buaya!, umpat Dinda dalam hati.
***
1 private message!
hai! Boleh kenalan?,
Isi pesan itu, singkat.
Perlahan jari-jarinya bermain pada benda mungil teman setia netbooknya. REPLY.
Sebuah pesan singkat yang diterima Dinda ketika mengawali pagi hari itu. Berlanjut dengan private-private message pada hari-hari berikutnya. Seadanya ia balas pesan itu, malas. Pasti tak beda dengan pesan-pesan serupa lain, fikirnya, pesan dari laki-laki tipe tebar pesona.
Kenalan, menanyakan aktivitas, kuliah dimana, kerja dimana, dan lain-lain… dan lain-lain.
Suatu waktu,
“Tita Hulwa”, jawab Dinda suatu waktu, kala si Arjuna (nama ID itu) menanyakan namanya.
“Wah, nama yang bagus. Tapi nama saya juga gak kalah bagus, lho. Ahmad Mukhlis”,
Sapa yang Tanya, cibir hati Dinda.
But,..
“Whaaaaaattt…?!*&^%$”, “Ahmad Mukhlis?! Ohohohoh… it’s impossible!”,
Mata Dinda membeliak selebar-lebarnya seolah hendak melompat menggelinding jatuh ke lantai. Ia baca kembali pesan pribadi itu dengan seksama. Gak salah, Ahmad Mukhlis!.
***
Beranjak bergegas Dinda menuju kamar mandi, berwudhu. Lepas berkomat kamit dengan beberapa untai doa dan harapan yang digantungkan kepada Penggengga Semesta. Dinda beringsut ke atas kasur, meraih ponselnya, lalu mengetikkan sebuah alamat website sebuah komunitas.
4 private messages, berkedip-kedip di layar inboxnya
# Helo dear?
Banguuuuuun, udah pagi…
Sholat subuh, Tita..
Udah kaleee, bos!, celetuk Dinda sembari terkekeh, sadar jika kata-katanya tak kan terdengar.
# Tita, kok pesan-pesanku gak dibalas? Marah ya, Ta?
# Tita, apa kabar? Lagi sibuk ya?
Lama gak liat tulisan Tita. Online dong, Ta.
# Ta, boleh aku minta nomor hp dan pic kamu?
Brukk!
Tita menjatuhkan diri terlentang dengan malas di atas kasurnya, masih dengan mukenanya yang tak sempat ia lepas. Ngantuk.
***
Seminggu sudah, akhirnya Dinda kembali setelah sepekan lamanya meninjau lokasi proyek, melakukan audit data-data keuangan berkaitan dengan laporan keuangan yang ia terima tak balance kondisinya.
Dinda teringat sesuatu. Ia raih netbok dari dalam tasnya, menghidupkan dan memasang modem. Beberapa detik kemudian jari jemarinya telah lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard.
Facebook, Twitter, Email, Blog, dan tak lupa ia ketik sebuah website dimana ia bergabung di dalamnya sebagai seorang member.
Assalamu’alaykum warohmatulloh..
Alhamdulillah kabar baik, sehat. Maaf tak membalas pesan karena memang tak sempat untuk membalasnya. Dan alasan kedua, karena malas membalasnya.
Dinda terkekeh, tentu saja kalimat terakhir tak ia ketik.
Well,..
Terima kasih atas apresiasi dan perhatianmu pada tulisan-tulisanku. Cukuplah bila kau menyukainya dan memperoleh pelajaran dari apa yang kutulis. Dan cukup buatku, tak perlu rasanya aku dapatkan pujian yang aku rasa terlalu berlebihan buatku.
Tentang nomor hp. Jujur saja, aku sama sekali tak punya no hp. Mungkin terdengar naïf atau sepertinya berbohong ya, but begitulah..
Aku tak merasa perlu berbohong untuk hal ini. Lagi pula meski aku memiliki no hp, aku pun tak kan memberikannya padamu. Dan ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya dirimu.
Rasanya hidup lebih tenang tanpa berkomunikasi dengan orang lain untuk hal-hal yang tak perlu dan mungkin hal yang tak penting.
Mengapa? Mmmm,.. rumit penjelasannya dan lagi pula rasanya bukan hal yang harus aku jelaskan padamu.
Tentang foto,..
Sorry, aku tak bisa. Dan pula aku tak biasa..
Rasanya terdengar sombong ya? Biarlah, Tak mengapa.. :D
Well,..
Rasanya pertemanan tak harus membutuhkan deretan angka-angka nomor hp atau sebuah foto manis, iya kan?
Rasanya akan lebih tenang dan nyaman,..
Oke,
Aku harap kamu mengerti dan kamu pasti mengerti.
Aku masih tetap bisa menjadi teman yang baik, meski tanpa foto dan nomor hp. Itu jika kau masih berniat berteman denganku ;)
Well,..
Wassalamu’alaykum
Ia arahkan kursor pada fitur SEND. Dinda tersenyum. Long_life atau Tita Hulwa, begitu Arjuna atau Ahmad Mukhlis mengenal Dinda, sebagai sesama member. Arjuna mungkin tak menyadari bahwa Tita atau Dinda mengenalnya dengan baik. Ahmad Mukhlis, Seorang Manager SDM pada sebuah perusahaan pembiayaan nasional yang sama dengan Dinda, hanya berbeda wilayah kerja. Pria beristeri dan memiliki 3 orang putra.
Dinda termenung, teringat tiap kata-kata yang diucapkan seorang laki-laki berlagak innocent yang mengaku bujangan yang tertarik padanya, Arjuna.
Dinda tersenyum simpul. Buaya!,
Tiba-tiba Dinda tersentak meringis dan setengah berlari keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, saat ia rasakan ada sesuatu yang bergolak dari perutnya.
Kulepaskan yang aku genggam erat,..
Saat ku letakkan semua yang ku genggam
Ku kembalikan pada tempatnya
Ku meletakkannya dengan perlahan
Agar tak berdenting atau jatuh terpecah belah
Ku bisikan pada hening,..
Ku katakan pada cahaya
Ku jelaskan pada angin,..
Dan ku sampaikan pada semua yang mendengarkan suaraku
Kukatakan,..
Demi TUHAN, tak ada setitik benci saat kubuka tanganku
Dan melepaskan apa yang ada dalam erat genggamanku
Ku kembalikan pada tempatnya
Ku meletakkannya dengan perlahan
Agar tak berdenting atau jatuh terpecah belah
Ku bisikan pada hening,..
Ku katakan pada cahaya
Ku jelaskan pada angin,..
Dan ku sampaikan pada semua yang mendengarkan suaraku
Kukatakan,..
Demi TUHAN, tak ada setitik benci saat kubuka tanganku
Dan melepaskan apa yang ada dalam erat genggamanku
Permainan
Berceloteh tanpa henti
Seperti burung yang tak letih berkicau
Entah mengapa, kicauannya tak semerdu kicauan burung
Entah mengapa, semakin lama kicauannya semakin terdengar menakutkan
Kau menakutiku,..
Celoteh dan suaramu menakutkanku
Seperti suara para penyihir jahat yang hendak menyihirku
Mundur, kuayun langkah perlahan
Tak hendak mengagetkanmu dengan suara langkahku
Sebuah lembaran terbuka di hadapanku
Dan ku baca,..
Senyum tipis mengembang di bibirku kala membacanya
Ini sebuah permainan
Ini hanya sebuah kebohongan kekanak-kanakan
Aku tertawa,..
Bodoh!
Seperti burung yang tak letih berkicau
Entah mengapa, kicauannya tak semerdu kicauan burung
Entah mengapa, semakin lama kicauannya semakin terdengar menakutkan
Kau menakutiku,..
Celoteh dan suaramu menakutkanku
Seperti suara para penyihir jahat yang hendak menyihirku
Mundur, kuayun langkah perlahan
Tak hendak mengagetkanmu dengan suara langkahku
Sebuah lembaran terbuka di hadapanku
Dan ku baca,..
Senyum tipis mengembang di bibirku kala membacanya
Ini sebuah permainan
Ini hanya sebuah kebohongan kekanak-kanakan
Aku tertawa,..
Bodoh!
Bapak Tua dan Sepeda Angin
Tutuplah matamu
Dan, Cobalah merasakan dengan jiwamu…
Terpaku aku. Menyaksikan sosok renta itu. Di tengah gerimis hujan yg turun, lekat ia pandangi kami. Ahh, bukan! Ia memandangi motor yg kami kendarai lalu ia edarkan pandangannya menyusuri detil demi detil motor yg kunaiki. Ia pandangi kendaraannya dan kendaraan kami bergantian. Kuterus mengikuti arah pandangannya..
Setitik iba menyeruak. Sama seperti ia. Ku pandangi kendaraannya. Sebuah sepeda angin yg sudah sangat tua. Berkarat. Kususuri setiap detilnya dg seksama, sembari sesekali kupandangi wajah keriput itu. Sosok tua di balik raincoat yang melindunginya dari sergapan air hujan yg semakin menderas. Bukan raincoat dari bahan berkelas. Namun hanya selembar plastik transparan yg ia bentuk menjadi sebuah jaket pelindung hujan…
Ahh, kulihat ia memandangi lg motor yg kunaiki. Tatap itu…
Tak lebih dari satu menit. Hanya semenit saja.Tapi, semenit itu menghadirkan berbagai macam rasa yg mengaduk2 perasaanku. Iba..haru..bangga padanya. Bahkan sempat terbersit sebuah lintasan ‘gila’ di kepalaku. Ingin turun dari atas motor dan mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk di sana mengendarainya. Sejenak merasakan nyamannya kendaraan yang sedari tadi ia tatap tanpa berkedip…
Hanya sebuah lintasan. Motor ini bukan milikku. Bahkan aku pun hny seorang penumpang sementara yg mendapat tempat di atas sini setiap pagi dan sore hari…
‘Mengapa TUHAN tak adil,?!’ terlintas ucap di hatiku saat melihat ‘kejomplangan’ yg terpampang di depan mataku..
mgkn sebagian atau banyak dari hamba-hamba TUHAN lainnya yang seringkali berfikir seperti yg sempat melintas di alam fikiranku. Sedetik kesadaran membawa lisanku dalam dzikir istighfar. Menyadari betapa piciknya lintasan yg muncul…Materialistis!
Kita tak pernah tau siapa yg lebih bersyukur terhadap setiap perkara yg alloh gariskan dalam hidup. Mungkin, bapak tua renta dengan sepeda angin tuanya lebih mulia, karena ia selalu bersyukur dan qonaah dg takdir hidupnya. Di bandingkan dg aku dan sebagian orang lain yg mendapat kemudahan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi yg melimpah, namun seringkali tak memaknainya dengan seharusnya. Terlena oleh gempita dunia yg penuh warna.
Aku tersadar dari fikiranku. Ku giring lisan mengucap istighfar dan menghalau fikiran yang menggugat takdir . Syukur dan sabar. Terima dg qonaah setiap apapun yg alloh beri
TUHAN…
Give me a strength..
Beri aku kekuatan untuk tetap selalu berbaik sangka terhadap segala sesuatu yg KAU gariskan dalam jenak hidupku..
Banyak hal yg tak kusukai. Banyak yg tak sesuai inginku. Membawaku tanpa sadar menjadi kufur nikmat.
Tapi aku ingin belajar melebur…terus. Menerima semua dengan senyum dan kesabaran…
Traffic light berwarna hijau..kendaraan yg membawaku bergerak maju berbaur bersama yg lain. Kuputar kepalaku melihat kebelakang. Kulihat ia berusaha memacu sepedanya perlahan, berbaur bersama kendaraan lainnya.
Perlahan mengayuh. Berhati-hati atau mungkin letih.
Dan, Cobalah merasakan dengan jiwamu…
Terpaku aku. Menyaksikan sosok renta itu. Di tengah gerimis hujan yg turun, lekat ia pandangi kami. Ahh, bukan! Ia memandangi motor yg kami kendarai lalu ia edarkan pandangannya menyusuri detil demi detil motor yg kunaiki. Ia pandangi kendaraannya dan kendaraan kami bergantian. Kuterus mengikuti arah pandangannya..
Setitik iba menyeruak. Sama seperti ia. Ku pandangi kendaraannya. Sebuah sepeda angin yg sudah sangat tua. Berkarat. Kususuri setiap detilnya dg seksama, sembari sesekali kupandangi wajah keriput itu. Sosok tua di balik raincoat yang melindunginya dari sergapan air hujan yg semakin menderas. Bukan raincoat dari bahan berkelas. Namun hanya selembar plastik transparan yg ia bentuk menjadi sebuah jaket pelindung hujan…
Ahh, kulihat ia memandangi lg motor yg kunaiki. Tatap itu…
Tak lebih dari satu menit. Hanya semenit saja.Tapi, semenit itu menghadirkan berbagai macam rasa yg mengaduk2 perasaanku. Iba..haru..bangga padanya. Bahkan sempat terbersit sebuah lintasan ‘gila’ di kepalaku. Ingin turun dari atas motor dan mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk di sana mengendarainya. Sejenak merasakan nyamannya kendaraan yang sedari tadi ia tatap tanpa berkedip…
Hanya sebuah lintasan. Motor ini bukan milikku. Bahkan aku pun hny seorang penumpang sementara yg mendapat tempat di atas sini setiap pagi dan sore hari…
‘Mengapa TUHAN tak adil,?!’ terlintas ucap di hatiku saat melihat ‘kejomplangan’ yg terpampang di depan mataku..
mgkn sebagian atau banyak dari hamba-hamba TUHAN lainnya yang seringkali berfikir seperti yg sempat melintas di alam fikiranku. Sedetik kesadaran membawa lisanku dalam dzikir istighfar. Menyadari betapa piciknya lintasan yg muncul…Materialistis!
Kita tak pernah tau siapa yg lebih bersyukur terhadap setiap perkara yg alloh gariskan dalam hidup. Mungkin, bapak tua renta dengan sepeda angin tuanya lebih mulia, karena ia selalu bersyukur dan qonaah dg takdir hidupnya. Di bandingkan dg aku dan sebagian orang lain yg mendapat kemudahan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi yg melimpah, namun seringkali tak memaknainya dengan seharusnya. Terlena oleh gempita dunia yg penuh warna.
Aku tersadar dari fikiranku. Ku giring lisan mengucap istighfar dan menghalau fikiran yang menggugat takdir . Syukur dan sabar. Terima dg qonaah setiap apapun yg alloh beri
TUHAN…
Give me a strength..
Beri aku kekuatan untuk tetap selalu berbaik sangka terhadap segala sesuatu yg KAU gariskan dalam jenak hidupku..
Banyak hal yg tak kusukai. Banyak yg tak sesuai inginku. Membawaku tanpa sadar menjadi kufur nikmat.
Tapi aku ingin belajar melebur…terus. Menerima semua dengan senyum dan kesabaran…
Traffic light berwarna hijau..kendaraan yg membawaku bergerak maju berbaur bersama yg lain. Kuputar kepalaku melihat kebelakang. Kulihat ia berusaha memacu sepedanya perlahan, berbaur bersama kendaraan lainnya.
Perlahan mengayuh. Berhati-hati atau mungkin letih.
Lorong,..
....................... ............................. ..
Ada yang datang menyelinap saat ku termenung
Aku terkejut. Namun sedetik kemudian aku terdiam kembali
Ia terus saja bicara dan mengajakku bicara
Seolah tak peduli dengan keenggananku
Ia seperti seseorang yang haus..
Datang meminta setitik embun sebagai pelega dahaga
Tapi aku tak punya setitik pun embun yang dapat kubagi padanya
Celoteh riang ia perdengarkan setiap waktu
Dalam keheningan kudengarkan ia bersenandung
Perlahan coba kutepis ia dengan gerakan samar
Namun, rupanya ia terlalu asyik dengan gumaman dan cerita di bibirnya
ia menunjukkan sebuah lorong padaku
gelap, ujarku, lalu terdiam kembali
kegelapan menyimpan cahaya pada ujung jalannya
jika kau ingin menemukan cahaya dan kehidupan,
maka kau harus berani untuk melangkah melaluinya, meski kau ragu, jawabnya
....................... ............................. ..
Ada yang datang menyelinap saat ku termenung
Aku terkejut. Namun sedetik kemudian aku terdiam kembali
Ia terus saja bicara dan mengajakku bicara
Seolah tak peduli dengan keenggananku
Ia seperti seseorang yang haus..
Datang meminta setitik embun sebagai pelega dahaga
Tapi aku tak punya setitik pun embun yang dapat kubagi padanya
Celoteh riang ia perdengarkan setiap waktu
Dalam keheningan kudengarkan ia bersenandung
Perlahan coba kutepis ia dengan gerakan samar
Namun, rupanya ia terlalu asyik dengan gumaman dan cerita di bibirnya
ia menunjukkan sebuah lorong padaku
gelap, ujarku, lalu terdiam kembali
kegelapan menyimpan cahaya pada ujung jalannya
jika kau ingin menemukan cahaya dan kehidupan,
maka kau harus berani untuk melangkah melaluinya, meski kau ragu, jawabnya
....................... ............................. ..
I'm Not Your Friend
“I’m not your friend”
“You are”
“No!, I’m not. Never!”, lanjutnya dingin, lalu beranjak pergi
Lintasan bayangan berkelebat. Sepotong kejadian yang mengiringi kepergiannya.
Zeda merapatkan jaketnya yang sedikit terbuka. Udara pegunungan yang menusuk kulitnya membuatnya menggigil dengan geraham merapat. Titik embun masih setia bergelayut manja pada daun dan semak.
* * *
”Oke! Semoga pekan depan sukses ya.” Ucap seorang laki-laki berkacamata minus di hadapannya. Zeda tersenyum.
Selangkah lagi, Senyum Zeda
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasa mual, pandangannya mengabur dengan rasa sakit yang tiba-tiba dari kepalanya. bruukkk!!
Masih sempat ia dengar teriakan histeris membahana di telinganya. Gelap.
* * *
Sejak hari itu Zeda mulai menarik diri dari pergaulan dan lingkungannya. Hari-hari di laluinya dengan dan dalam diam. Perubahannya menimbulkan tanya. Tak ia pedulikan tatapan heran teman-temannya. Tak ia gubris tiap pertanyaan yang dilontarkan. Tidak pula dengan Juna.
”Ada apa dengan lu, eh?”, Juna menarik kerah Zeda
”Nothing....”, Jawabnya singkat
Juna memandangi Zeda yang tetap sibuk dengan aktivitasnya menyusun perlengkapan pendakiannya. ”We are friend…”, Tepuk Juna pada bahunya
* * *
Perlahan ia mengeluarkan lipatan kertas dari balik jaketnya. Lembar hasil ujian dengan sertifikat ’sangat memuaskan’ dan,..................hasil diagnosa kedokteran. Kanker otak.
Apakah begini perilaku takdir? Ia datang tanpa diminta. Dan apa yang diminta tak kunjung tiba.
Aku bukan pengecut yang lari dari kenyataan. Hanya saja aku perlu waktu untuk sendiri saat ini. Belajar memaknai hidup dan belajar bersahabat dengan takdir. Menerima kenyataan bahwa hidupku hanya tinggal menghitung hari.
Perlahan Zeda melangkahkan kaki menuruni bukit dengan tekad dan ketegaran yang terpatri dalam jiwa.
Tapi, Aku tak kan menyerah. Tidak!
TUHAN,.. Ajari aku
“You are”
“No!, I’m not. Never!”, lanjutnya dingin, lalu beranjak pergi
Lintasan bayangan berkelebat. Sepotong kejadian yang mengiringi kepergiannya.
Zeda merapatkan jaketnya yang sedikit terbuka. Udara pegunungan yang menusuk kulitnya membuatnya menggigil dengan geraham merapat. Titik embun masih setia bergelayut manja pada daun dan semak.
* * *
”Oke! Semoga pekan depan sukses ya.” Ucap seorang laki-laki berkacamata minus di hadapannya. Zeda tersenyum.
Selangkah lagi, Senyum Zeda
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasa mual, pandangannya mengabur dengan rasa sakit yang tiba-tiba dari kepalanya. bruukkk!!
Masih sempat ia dengar teriakan histeris membahana di telinganya. Gelap.
* * *
Sejak hari itu Zeda mulai menarik diri dari pergaulan dan lingkungannya. Hari-hari di laluinya dengan dan dalam diam. Perubahannya menimbulkan tanya. Tak ia pedulikan tatapan heran teman-temannya. Tak ia gubris tiap pertanyaan yang dilontarkan. Tidak pula dengan Juna.
”Ada apa dengan lu, eh?”, Juna menarik kerah Zeda
”Nothing....”, Jawabnya singkat
Juna memandangi Zeda yang tetap sibuk dengan aktivitasnya menyusun perlengkapan pendakiannya. ”We are friend…”, Tepuk Juna pada bahunya
* * *
Perlahan ia mengeluarkan lipatan kertas dari balik jaketnya. Lembar hasil ujian dengan sertifikat ’sangat memuaskan’ dan,..................hasil diagnosa kedokteran. Kanker otak.
Apakah begini perilaku takdir? Ia datang tanpa diminta. Dan apa yang diminta tak kunjung tiba.
Aku bukan pengecut yang lari dari kenyataan. Hanya saja aku perlu waktu untuk sendiri saat ini. Belajar memaknai hidup dan belajar bersahabat dengan takdir. Menerima kenyataan bahwa hidupku hanya tinggal menghitung hari.
Perlahan Zeda melangkahkan kaki menuruni bukit dengan tekad dan ketegaran yang terpatri dalam jiwa.
Tapi, Aku tak kan menyerah. Tidak!
TUHAN,.. Ajari aku
Langganan:
Komentar (Atom)

